
Hans memarkirkan mobilnya tepat bersamaan dengan tibanya mobil Roy Aditama. Hans membukakan pintu untuk tuan dan nyonya nya.
"Sayang, kita sudah sampai", Raya membangunkan istrinya yang tidur di pangkuannya.
"Kak ...."
"Hmmm..."
"Kepala ku pusing sekali",ucap Rara sambil berusaha bangun perlahan.
"Ya, sudah. Pelan-pelan saja. Aku sudah menyuruh dokter untuk datang. Dia akan mengobati lukamu"
"Ya, kak"
Raya turun dari mobil. Dia bermaksud membantu Rara turun namun Rara sudah lebih dulu keluar. Begitu turun dari mobil Rara merasa dunia dalam kepalanya berputar-putar hebat, dan akhirnya ...
Bruuukk...
Rara jatuh dan tak sadarkan diri. Raya panik sekali melihatnya. Dia membopong istrinya masuk kedalam kamar. Merebahakannya diatas tempat tidur.
Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Rara lalu memberinya beberapa obat penghilang rasa sakit. Dan dokter mengatakan kedaan Rara baik-baik saja.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Raya. Kenapa istrimu bisa seperti ini?"
Raya menceritakan semuanya pada Papi nya. Tentang kemunculan ayah kandung Rara, Ernest Van Hoeberg.
"Jadi Ernest masih hidup. Ternyata dinginnya Siberia menjadikan hatinya semakin beku. Kasihan Rara, dia pasti terpukul mengetahui kebenarannya. Sejak dulu Ernest memang dikenal tempramental dan keras hati. Papi pikir semua kejadian yang menimpa keluarga Hoeberg akan mengubah hati Ernest, dan dia bisa berfikir logis. Ternyata Papi salah menduganya"
__ADS_1
"Papi kenal dengan dia?"
"Ya, sangat kenal!"
"Papi bertemu dia sewaktu Papi kuliah di Rotterdam. Dia berasal dari keluarga tentara yang keras. Mereka punya satu putri dan tiga anak lelaki. Dan ketiganya menjadi tentara hebat di Belanda. Didikan keluarga mereka memang keras"
"Raya rasa dia sakit jiwa, Pi. Sekeras-kerasnya manusia tak akan memperlakukan anak kandung dan keluarganya seperti itu"
"Biarkan saja dia, Raya. Yang penting sekarang adalah kesembuhan istrimu. Bukan luka fisiknya. Tapi luka hatinya yang harus kamu obati. Kamu sebagai suaminya harus bisa menjaga dan melindungi istrimu"
"Pasti, Pi. Papi tak usah khawatir dengan itu. Hidup Rara adalah tanggung jawab Raya, selama dia masih menjadi istri Raya dia berada dalam lindungan Raya"
Papinya menganguk. Dia meninggalkan Raya dikamar bersama istrinya. Raya duduk dikursi samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Rara. Perlahan-lahan Rara membuka matanya. Dia melihat disekelilingnya, dilihatnya suaminya dengan setia menunggui nya. Rara mencoba bangun dari tidurnya. Raya membantunya lalu dia duduk berhadapan dengan istrinya itu.
"Kak ..."
"Aku kenapa?"
"Kamu tadi tak sadarkan diri. Tapi dokter sudah mengobati lukamu. Apa masih sakit, sayang?"
Raya memegang wajah istrinya. Mengamati nya lebih dalam. Rara menggelengkan kepalanya. Airmatanya mengalir. Raya menghapusnya dengan kedua tanganya. Lalu memeluk istrinya, mentranfer kekuatan hati pada perempuan yang ia cintai itu.
"Aku takut, Kak", isak Rara dalam pelukan suaminya.
"Jangan takut, sayang. Aku ada disini", Raya membelai-belai kepala istrinya dengan lembut.
Tok... Tok...
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintunya. Raya bangun dari duduknya lalu membuka pintunya. Hans ada dibalik pintu.
"Maaf tuan, ada tuan Rio Hendrawan di bawah menunggu anda", kata Hans setengah berbisik.
Raya menganguk lalu menutup kembali pintunya.
"Ada apa, Kak?",tanya Rara
"Ada tamu untukku di bawah. Aku turun sebentar ya, sayang. Istirahatlah"
******
"Kak Rio",panggil Raya
"Bagaimana keadaan Rara? Begitu dapat kabar aku langsung kesini"
"Luka nya sudah diobati. Tapi sepertinya Rara masih shock dengan kejadian itu. Dia baru saja sadarkan diri"
"Papa terlalu berbaik hati pada paman Ernest. Rasanya aku ingin memukul orang tua keras hati itu"
"Dimana dia sekarang, Kak?"
"Entahlah. Papa yang tahu dimana dia. Aku dengar dia ada di villa keluarga di luar kota. Aku memiliki akses untuk itu. Papa melarangku. Lebih baik kita tunggu saja perkembangannya. Yang penting aku minta padamu, tolong jaga Rara baik-baik", pinta Rio
"Ya, Kak!?"
Rio pamit dan menaiki mobilnya, lalu menghilang di balik pagar rumah itu.
__ADS_1
******