
Semua kru sudah siap di posisinya masing-masing. Lightning oke. Kamera standby. Rara juga sudah berada dibelakang panggung. Hari ini show promo album terbarunya. Acara live selama satu jam itu berjalan sukses.
Utusan tuan misterius memberikan hadiah kecil dari tuannya sebelum Rara naik panggung. Hal itulah yang membuat dia semangat menyanyi. Gaun indah yang dipakainya saat pentas. Cocok sekali dengan bentuk tubuh Rara yang molek.
Sepanjang pentas utusan tuan misterius itu mengamati Rara dari sudut ruangan.
"Terima kasih, Mbak Rara. Acara hari ini sukses"
Ucap salah satu kru televisi. Rara menganguk sambil tersenyum. Disaat yang sama dia melihat dari kejauhan si utusan tuan misterius berada di sekitaran gedung seberang. Rasa penasaran Rara menuntunnya untuk membuntuti beliau.
Dan akhirnya dia sampai di suatu ruangan di lantai enam, ruangan paling horor bagi semua kru dan karyawan. Ruang presiden direktur.
"Ruang Presiden Direktur?",batin Rara.
"Mau apa orang itu diruangan Pak Raya? Apa hubungannya dengan, Pak Raya?"
Rara terus mengamati dengan cermat gerak-gerik orang tadi. Cukup lama dia berada diruangan Raya Aditama.
Tak lama dari situ, Raya keluar bersama dengan Hans. Tapi tunggu ... Ada yang ganjil dimata Rara.
"Hans?",gumamnya dalam hati.
"Aneh. Kenapa dia? Lalu kemana si utusan itu?"
Rara menunggu sampai mereka menaiki lift. Lalu dia menyelinap masuk kedalam ruangan presiden direktur.
Cekreeeeekkk ...
Ruangan itu kosong. Tak ada seorang pun. Makin banyak saja keanehan disini, pikir Rara.
"Bukankah si utusan itu masuk kesini? Kenapa hanya Pak Raya dan Hans yang keluar dari ruangan ini?", batinnya heran.
Braaakkk...
Tak sengaja tangan Rara menyenggol pajangan di atas meja kerja Raya Aditama. Buru-buru dia mengambilnya kembali lalu meletakkanya di atas meja. Rara terkejut melihat diatas meja kerja Raya terpasang fotonya. Lalu ada sebuah gelang yang terbuat dari tali dan biji koka. Gelang itu adalah gelang yang pernah diberikannya untuk tuan misterius. Gelang yang dibuat sendiri oleh Rara.
"Ya, Tuhan ... Apa maksud semua ini?"
__ADS_1
Rara memberanikan diri membuka laci meja kerja Raya, didalam nya ada kumpulan surat ucapan terima kasihnya pada tuan Misterius. Setiap dia menerima pemberian dari tuan Misterius, Rara selalu menuliskan surat ucapan terima kasih.
"Surat-surat ini adalah surat ku untuk beliau. Kenapa ada disini? Jangan katakan kalau tuan Misterius itu adalah ... Raya !!?"
"Tidak mungkin. Aku tak percaya itu. Apa maksudnya?"
Rara bergegas meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang ganti. Dia merenungi apa yang barusan dia saksikan.
"Astaga ... Hans ... Benar. Utusan itu dan Hans memiliki postur tubuh yang sama. Hanya saja Hans berpenampilan klimis tanpa kumis dan jambang. Lalu pakaian yang tadi dikenakan pun sama. Ini pasti tidak salah lagi. Hans adalah utusan tuan misterius itu"
"Tunggu dulu ..."
"Jika Hans adalah utusan tuan Misterius itu berati, jangan-jangan ... "
Rara nyaris berteriak, namun cepat-cepat dia membungkam mulutnya. Wajahnya pias. Jantungnya berdetak tak karuan.
"Tidak mungkin!!?"
"Raya Aditama adalah si tuan misterius itu?!"
"Aku harus memastikannya!"
******
"Apa ada sesuatu yang hilang, Tuan Muda?", tanya Hans
Hans memperhatikan Tuan Mudanya dari kaca spion tengah mobil. Raya sibuk memeriksa saku jas nya.
"Kemana gelang itu?", tanya Raya
"Gelang pemberian, Nona Rara?"
"Ya", jawab Raya sambil sibuk mencari
"Apakah anda tidak meninggalkan nya di meja kerja, Tuan?"
"Aah... Kamu benar"
__ADS_1
Raya mengambil ponselnya, lalu mengecek kamera cctv ruang kerjanya melalui ponselnya. Raya nyaris melompat dari tempat duduknya. Dia melihat Rara memasuki ruangan kerjanya tiga puluh menit yang lalu. Wajah Raya pias.
"Jangan-jangan ..."
Hans memperhatikan tingkah laku tuan mudanya sedari tadi.
"Apa perlu saya keatas mengambilkannya, tuan"
"Jangan!", cegah Raya
Drrr .... Drrrr....
Dering ponsel Raya berbunyi. Dilayar handphone nya tertera nama "Rara Pratiwi". Sejenak sempat ragu-ragu dia menerima telepon itu. Namun akhirnya di gesenya tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo...", ucap Raya diujung telaponnya
"Halo, selamat siang Pak Raya. Maaf saya mengganggu anda", ucap Rara sopan
"Ooh.. tidak apa-apa, Ra. Ada apa kamu menelepon ku?"
"Bisakah kita bicara empat mata, Pak Raya?"
"Ada hal apa sehingga kamu perlu bicara pribadi denganku?"
"Kalau bapak berkenan kita bisa ketemu malam ini?"
"Baiklah. Aku akan menyuruh Hans menjemput mu nanti malam"
Raya menutup teleponnya. Lalu memerintahkan Hans untuk melajukan kendaraannya.
"Has, jemput Rara di apartemen nya nanti malam. Antar dia kerumah pribadiku!",titah Raya
"Baik, Tuan!"
Hans tersenyum kecil dibalik kemudi, firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang baik terhadap hubungan tuan mudanya dengan wanita pujaan hatinya. Hans turut senang melihatnya.
******
__ADS_1