
Tiing .... Tooong ....
Rara menuju ruang tamu melihat siapa yang datang.
"Hans", gumamnya.
"Siapa yang datang?",tanya Raya
Raya menghampiri Rara. Dari layar dia melihat Hans berdiri di depan pintu. Raya membuka pintunya.
"Selamat pagi, Tuan Muda"
"Ada apa kamu mencariku sepagi ini, Hans?"
"Maaf kalau saya mengganggu anda, tuan. Tapi tuan besar menunggu anda dirumah. Sepertinya ini sangat penting"
"Kamu duluan saja, nanti aku menyusul"
"Baik, tuan. Saya permisi dulu"
Raya menutup pintunya. Rara masih berdiri disampingnya. Hatinya merasa tidak enak. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak baik antara Raya dan Papinya. Dan semua ini adalah salahnya.
"Kamu tak usah khawatir. Ini urusanku dengan Papi", Raya meyakinkan Rara
"Tapi, Pak. Papi anda pasti marah besar. Aku takut sekali"
__ADS_1
"Tenang saja, sayang. Tidak akan terjadi apa-apa"
Wajah cemas dan takut tak dapat di ingkari dari Rara. Dia benar-benar merasa bersalah jika Raya dan Papinya bertengkar.
Raya meyakinkan Rara bahwa semua akan baik-baik saja. Dia pamit pulang. Raya menuju privat parking area, lalu melarikan mobil sport mewah kesayangannya menuju kerumah Papinya.
******
"Dari mana kamu tidak pulang salam, Raya?!", todong Papi nya saat melihatnya didepan pintu
Raya tak menjawab. Dia langsung duduk di sofa tepat dihadapan Papinya.
"Kamu bersama perempuan itu semalam?"
"Iya" jawab Raya tegas
"Tidak. Kami memang bersama tapi tidak melakukan hal buruk seperti apa yang papi pikirkan"
"Bagus kalau begitu. Artinya kamu masih mengerti etika"
"Hmmm..."
"Kamu yakin dengan pilihanmu?!"
"Yakin, Pi. Raya yakin. Bahkan sangat yakin Rara lah yang pantas buat menjadi pendamping Raya".
__ADS_1
Tuan Aditama, terdiam. Dia tahu benar watak keras kepala putra tunggalnya itu. Dia tak bukan tipe orang yang gampang goyah pendirian.
"Lakukan apa yang kamu anggap baik. Ini adalah hidupmu. Tapi ingat manusia yang bermartabat punya batasan-batasan hidup"
Raya menatap Papinya seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya itu. Papinya berubah pikiran?? Woow,,... Ini adalah keajaiban dunia yang luar biasa.
"Terima kasih, Pi", ucap Raya sambil tersenyum.
******
Rasanya Raya sanggup terbang sampai langit ketujuh mendapat lampu hijau dari Papinya. Namun ada satu hal yang harus dia lakukan lagi. Menyelesaikan urusannya dengan Sella dan keluarganya. Sebagai laki-laki dia harus punya tanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
Dengan penuh percaya diri dia menemui Sella dan keluarganya. Memberitahu kalau dia memutuskan pertunangan mereka. Raya meminta maaf pada Sella dan kedua orang tuanya. Tentu saja Sella tidak menerima keputusan itu begitu saja. Dia tidak terima atas apa yang dilakukan Raya Aditama padanya.
"Tunggu pembalasanku, Raya .. ", batinnya membara.
******
Malam itu Raya menjemput Rara di apartemen nya. Rara sudah siap dengan gaun cantik yang dikirimkan Hans tadi siang padanya. Raya hendak memperkenalkan Rara pada Papinya malam ini.
"Tenanglah, sayang. Papi bukan orang yang sekaku itu. Dia pasti akan menyukaimu"
Raya melarikan mobil sport kesayangannya dengan kecepatan sedang, agar dia punya waktu lebih lama bersama Rara.
Namun diujung jalan sebuah mobil memotong laju mobil mereka. Dua orang bersenjata tajam menghadang. Raya keluar dan meladeni mereka. Terjadilah perkelahian yang tak seimbang. Raya cukup ahli berkelahi, Rara cemas melihat ini semua. Dua lawan satu di tambah senjata tajam mereka, Raya pasti kewalahan pikirnya.
__ADS_1
Dan benar saja saat Raya lengah datanglah orang ketiga memakai topeng menghunuskan sebilah pisau, tepat mengenai perut Raya. Darah segar mengalir dari tubuh Raya. Dalam sekejab Raya tumbang bersimbah darah.
******