Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Malam Panjang Di Villa


__ADS_3

Pukul satu dini hari saat mereka sampai di villa, Hans menyiapkan kamar untuk mereka berdua. Namun sepertinya keadaan Raya tidak makin baik. Hans membantunya ke kamar, melepaskan dasi dan jas tuan muda nya. Rara memegang dahi Raya.


"Panas sekali!", gumam Rara


"Ya, Tuhan. Anda demam, Pak",ucapnya lagi


Hans mencarikan obat penurun panas di kotak obat yang berada di lantai bawah. Raut wajah cemas menyelimuti Rara, dia begitu mengkhawatirkan keadaan lelaki yang sedang tergeletak di atas tempat tidur itu. Raya melihat dengan jelas wajah kecemasan Rara, dia mencoba untuk duduk. Rara membantunya.


"Kamu mengkhawatirkan aku, Ra?",tanya Raya


"Siapa yang tidak khawatir melihat keadaan anda yang seperti ini, Pak"


Ada sebuah pucuk airmata di ujung mata indah Rara dan Raya menyadari itu. Raya menghapus pucuk kecil itu dari mata Rara, pandangan mata mereka bertemu. Lagi, kedua manik mata mereka saling bicara. Raya membelai lembut rambut indah milik perempuan yang sangat dia sayangi. Rara menunduk. Ada sedikit rasa nyeri diujung hatinya.


"Jangan khawatir, sayang ... Aku akan baik-baik saja.... Ukhuuuk....uhuukk..."


Hans datang bersama obat penurun panas dan segelas air, lalu memberikannya pada tuan mudanya.


"Berbaringlah, tuan. Lebih baik Anda beristirahat agar kesehatan anda membaik besok pagi"


"Tinggalkan kami berdua, Hans",pinta Raya.


"Baik, Tuan"


Hans pergi menutup pintu dan membiarkan sepasang manusia yang saling berdiam diri itu berada dikamar. Rara duduk dikursi samping tempat tidur. Memegang tangan Raya. Mencoba mentransfer kekuatan hati pada sosok lelaki itu.


"Tidurlah, biar aku yang menunggumu disini, paling tidak sampai suhu tubuh mu kembali normal, Pak"


Raya memejamkan matanya. Dia mencoba untuk tidur. Baginya tidur malam ini benar-benar tak akan dilupakan. Ada perempuan yang sangat ia sayangi menungguinya. Sudah hampir pagi, Raya melihat jam didinding, pukul lima pagi. Dia memegang dahinya. Panasnya sudah hilang.


Ampuh juga obat yang diberikan Hans semalam. Tapi obat yang paling ampuh adalah Rara. Disampingnya Rara tertidur disisi tempat tidur, masih di kursinya. Menunggu nya dengan setia.

__ADS_1


Raya bangkit dari tidurnya, lalu membopong tubuh Rara dan memindahkan kekamar sebelah. Hans membantunya membukakan pintu.


"Apakah anda sudah lebih baik, Tuan?",tanya Hans


"Ya, berkat obatmu semalam. Terima kasih"


"Nona Rara yang menjaga anda semalaman. Dia pasti lelah sekali. Dan saya rasa Nona Rara adalah obat yang paling mujarab buat anda"


"Hans, apa aku salah kalau aku menyayangi perempuan ini?",tanya Raya pelan


Hans terdiam. Memandang pada tuan mudanya. Pertanyaan yang tak ia sangka akan keluar dari mulut tuan nya itu.


"Tidak!",jawab Hans pasti


Raya tersenyum.


"Hans, tolong buatkan aku teh panas, mungkin lebih nyaman jika aku minum sesuatu yang hangat sebelum tidur. Tolong bawakan ke kamarku"


******


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk ...


"Selamat pagi, Tuan. Bagaimana tidur anda semalam"


"Hmmm..."


"Saya sudah menyiapkan sarapan buat anda. Apakah anda mau makan di kamar atau ...?!"


"Mana Rara?",tanya Raya

__ADS_1


"Nona Rara belum bangun. Dia masih dikamarnya"


"Baiklah. Nanti saja"


"Saya permisi, Tuan"


Jam didinding menunjukkan pukul sembilan pagi, matahari sudah hampir naik tahta.


Cekreeeeekkk ...


"Pak Raya, anda sudah sumbuh?",tanya Rara sambil menyerobot masuk


Rara tiba-tiba masuk kekamar Raya. Dia terkejut saat bangun sudah berada di kamar sebelah, diatas tempat tidur. Buru-buru dia mencari Raya.


"Kalau masuk kamarku, lebih baik kamu ketuk dulu pintunya, Nona!",ucap Raya sambil tersenyum


"Waduh... Maaf aku lupa"


"Kemarilah... ", Raya menyuruh Rara duduk disisinya.


"Apa kamu begitu mengkhawatirkan aku, sampai-sampai begitu ceroboh?"


"Ceroboh? Ooh, soal pintu itu maafkan aku"


"Bukan", jawab Raya


"Eeh..."


"Ceroboh sekali kamu memperlihatkan wajah pagimu, setelah bangun tidur padaku. Paling tidak kamu bisa mencuci mukamu terlebih dahulu"


Raya menunjukan bekas bantal yang menempel di wajah Rara. Muka Rara mendadak merah. Raya sangat menyukai ekspresi Rara yang seperti itu, sungguh sangat menggemaskan baginya.

__ADS_1


******


__ADS_2