Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Persiapan Hati


__ADS_3

Malam itu Raya mengajak Rara untuk menemui Papinya, mengutarakan maksud hatinya pada Roy.


"Papi senang mendengarnya. Kalau memang niat kalian sudah bulat Papi akan mendukungnya. Temui keluarga Rara, lamar dia baik-baik untuk jadi menantu Papi"


"Keluarga Rara hanya almarhumah ibunya saja", sahut Raya


"Tidak!",jawab Rara


"Eeh.. "


"Kalau memang Pak Raya mau melaksanakan niat baik bapak menikah denganku, bapak harus menemui Kakakku. Kakak sepupuku. Dialah yang akan mengambil keputusan apakah hubungan kita bisa berlanjut atau tidak. Baru jika Kak Rio memberi lampu hijau, bapak bisa menemui Paman Benny sebagai waliku"


"Kamu punya seorang kakak dan paman? Kenapa tak pernah cerita padaku?"protea Raya


"Karena bapak tak pernah bertanya padaku"


Raya gemas mendengar pernyataan dari kekasih hatinya, dia bangkit dari duduknya dan pindah kesebelah Rara lalu merangkul perempuan cantik itu.


"Baiklah jika itu syaratnya, aku terima tantanganmu. Besok aku akan menemui mereka" jawab Raya percaya diri


"Bagus kalau begitu, lakukan yang terbaik. Kami harus bisa mengambil hati Kakak dan Paman Rara. Buktikan kalau kamu memang anak laki-laki ku", tantang Roy.


"Baik, Pi. Papi tenang saja. Percayakan semuanya pada Raya"


"Kalau begitu kalian beristirahat lah malam ini. Persiapkan diri dan hati kalian buat besok. Selamat malam"


"Selamat malam, Pi"


Roy meninggalkan Raya dan Rara di ruang tamu. Dia menuju kamarnya di lantai atas.


******


"Pak Raya...",panggil Rara


"Hmm.."


"Apa bapak yakin dengan keputusan, Bapak. Kak Rio bukan orang biasa yang gampang ditaklukkan. Dia punya cara sendiri untuk menyelesaikan semua masalah. Dan dia juga bukan orang sembarangan"


Raya memeluk kekasih hatinya. Mendekatkan wajahnya pada Rara, dekat bahkan sangat dekat.


"Sayang, kamu harus ingat bahwa aku, calon suamimu ini juga bukan orang sembarangan. Dan aku juga bukan orang yang gampang menyerah"


"Bapak percaya diri sekali", senyum Rara


"Bapak?"tanya Raya

__ADS_1


"Eeeh... ?"


Raya makin merapatkan tubuhnya, memeluk Rara lebih erat lagi. Rara jadi salah tingkah dibuatnya.


"Kamu masih memanggilku, Bapak?!"


"Lalu?"


"Panggil calon suamimu ini dengan panggilan yang lebih mesra lagi atau apapun selain Bapak. Aku kesal sekali mendengarnya"


Rara diam. Dia berfikir harus memanggil Raya dengan panggilan apa? Dia sudah terbiasa mamanggil Raya dengan sebutan "Bapak"


"Kalau kamu tidak melakukannya, aku akan membuatmu mengingat malam ini",ancam Raya gemas


"Baiklah, Pak ..eeh..."


Raya makin mendekatkan wajahnya keleher Rara.


"Kak Raya ..."


"Hmmmm..."


Raya tersenyum. Dia senang sekali mendengarnya.


"Aku tak mendengar apa yang kamu ucapkan!"


"Kak Raya ku tersayang"


Rara berhasil melepaskan diri dari pelukan Raya dan berlari menuju kamar tamu. Raya makin gemas melihat kejahilan Rara. Dia mengejar perempuan mungil itu.


"Kamu tak bisa lari lagi sekarang, sayang"


"Kak, tadikan Papi menyuruh kita beristirahat. Kamu harus menyiapkan diri buat besok. Jadi tidurlah dengan nyanyak malam ini"


"Baiklah, selamat tidur sayang", Raya menghadiahi ciuman selamat malam dikening Rara.


Perempuan itu masuk kekamarnya lalu merebahkan diri diatas tempat tidur. Rasa tak percaya dengan apa yang terjadi padanya hari ini. Dia mandangi jemarinya yang melingkar sebuah cincin pemberian lelaki pujaannya.


"Aku harap aku tidak bermimpi", gumamnya.


******


Drrr.... drrr...


Dering handphone membangunkan Rara pagi itu. Dia melihat layar ponselnya. Dia melonjak kaget.

__ADS_1


"Kak Rio!", teriaknya.


Dia segera menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Kamu dimana, Dek?",tanya Rio diujung ponselnya


"Aku menginap dirumah teman, Kak. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Semalam Kak Rio ke apartemen mu, tapi sepertinya kamu belum pulang. Dan handphone mu mati"


"Maaf Kak, semalam aku lupa mengaktifkannya setelah selesai ujian"


"Ya, sudah. Tidak apa-apa"


"Kak ...", panggil Rara


"Hmm..."


"Apa hari ini Kak Rio ada acara?"


"Tidak. Kak Rio ada dirumah hari ini. Ada apa, Dek?"


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Kak Rio"


"Dengan Kak Rio?", tanya Rio


"Ya"


"Siapa dia?"


"Temanku, Kak?"


"Laki-laki?"


Rara terdiam sesaat. Dia menjawab perlahan.


"Iya, Kak"


"Pacarmu?"


"Hmmm..."


"Baiklah. Kalau begitu aku tunggu kedatangannya dirumah. Kita lihat seberapa besar nyalinya untuk mencuri hatimu",tantang Rio


Rara tersenyum malu-malu diujung teleponnya. Dia hanya menarik nafas panjang. Berharap semoga Raya mampu meluluhkan hati Kak Rio dan Paman Benny.

__ADS_1


******


__ADS_2