
Sella memanas bukan main mendengar laporan mata-mata yang diutusnya. Dia tidak terima dengan berita yang dia dengar. Dia bertekat harus mengakhiri semua ini.
"Raya adalah milikku. Tak akan aku biarkan perempuan mana pun merebutnya dariku. Apalagi artis kampung itu!"
Mendidih hatinya, dia tidak terima kalo Raya jatuh hati pada gadis itu.
******
Braakk...
"Raya, aku perlu bicara denganmu"
Raya dan Hans yang ada diruangan itu terkejut melihat seseorang yang masuk dan membuka pintu dengan kasar.
"Apa kamu tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?! Dimana etikamu?! Ini kantorku...!!!"
"Terserah apa katamu, aku tak terima ini"
Sella melemparkan foto-foto yang diberikan oleh mata-matanya itu. Hans menatap Tuan Mudanya itu. Raya memberi kode agar Hans menahan diri dan meninggalkan mereka berdua.
"Jadi apa mau mu?", tanya Raya
"Jelaskan padaku apa ini!"
"Kamu bisa melihatnya, bukan?!"
"Jadi selama ini kamu main serong di belakangku, Raya!!"
"Aku??! Jangan mengada-ada, Sella. Aku sudah sejak lama mencintai Rara. Bahkan jauh sebelum kita saling mengenal. Dan sudah berkali-kali aku katakan bahwa aku tak pernah pencintaimu, tak terbersit dalam hatiku kalau aku akan bertunangan denganmu. Apalagi menikah denganmu",papar Raya panjang lebar
"Jadi maksud mu ..."
"Bukankah sudah jelas. Kau yang membujuk Papi ku agar aku mau menikah denganmu. Aku lakukan ini hanya untuk menyenangkan Papi. Tidak lebih. Dan jangan harap kamu bisa mendapatkan hatiku!"
"Raya ...!!!!", Sella berteriak
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Tinggalkan aku!!. Hans ...!!"
Dengan sigap Hans, masuk dan menyeret Sella keluar dari ruang kerja Tuan Mudanya. Sella tidak terima diperlakukan seperti ini. Mata nya penuh dengan dendam. Dia pergi dengan amarah yang teramat sangat.
"Bagaimana ini, Tuan Muda. Sella pasti tidak akan tinggal diam"
"Aku sudah siap menghadapi segala resikonya. Apapun itu. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi nantinya, Hans"
******
Sella kembali kerumahnya dan melupakan emosinya dengan narkotik dan alkohol. Kamar nya penuh asap rokok. Akalnya sudah hilang dari dalam kepalanya.
Dia mengurung diri berhari-hari didalam ruangan yang pengap itu. Kedua orang tuanya sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Sejak SMA memang dia sudah lepas kontrol dari kedua orang tuanya. Pergaulan bebas, narkotik bahkam alkohol sudah jadi kebiasaannya. Kedua orang tuanya berharap setelah menikah dengan Raya, suaminya nanti bisa membimbing dia kembali ke jalan yang benar.
__ADS_1
Dia menjadi anak satu-satunya dari kedua orang tuanya sejak kakak sulungnya meninggal akibat OD. Kakak iparnya pergi setelah tau kebiasaan buruk suaminya dengan membawa anak mereka. Maka dari itu orang tua Sella sangat berharap padanya, namun sayangnya Sella pun mengikuti jejak kakaknya.
******
(Lobi studio televisi)
"Sudah mau pulang, Non?",tanya Raya saat berpapasan dengan Rara.
"Iya, Pak",jawab Rara sopan
"Aku antar pulang"
"Tidak usah. Terima kasih. Nanti merepotkan, Pak Raya"
"Aku tak mau ditolak. Ayo...!!?"
Raya menarik tangan Rara menuju tempat parkir. Dia membukakan pintu mobilnya untuk Rara. Dengan terpaksa Rara masuk kedalam nya. Mobil sport mewah kesayangan Raya itu meluncur dengan cepat memecah keramaian jalan raya.
"Kamu ada acara habis ini?",tanya Raya
"Ah, tidak Pak. Aku langsung pulang saja"
"Ini masih terlalu sore untuk tidur, Nona?!"
"Ada yang harus aku kerjakan dirumah malam ini, Pak",tolak Rara halus
Belum sempat Rara menjawab pertanyaan Raya, dering handphone Raya berbunyi. Dia menekan tombol handfree pada telinga kanan nya.
Raya menghentikan kendaraannya ketepi jalan dengan mendadak. Untung saja jalanan malam itu sepi, jadi mereka selamat.
Wajah Raya pias, dia bingung apa yang harus ia lakukan. Dia hanya terdiam dibelakang kemudi.
"Pak Raya, anda baik-baik saja. Ada apa, Pak?"
Raya menatap Rara.
"Sella melakukan percobaan bunuh diri. Dia menyayat nadinya dengan pisau"
"Bagaimana keadaannya sekarang, Pak?"
"Dia sudah ditangani pihak dokter di rumah sakit pusat"
"Kita kesana sekarang, Pak. Aku khawatir dengan keadaannya", pinta Rara
Raya menuruti perkataan Rara, dia memutar balik mobilnya kembali ke arah pusat kota menuju rumah sakit pusat.
******
Kamar VVIP rumah sakit pusat lantai empat. Sella tergeletak ditempat tidur dengan pergelangan tangan yang sudah di perban.
__ADS_1
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
Rara masuk kemudian diiringi oleh Raya. Sella yang melihat itu menjadi panas hatinya. Caci maki keluar dari mulutnya. Raya tidak terima melihat pujaan hatinya di perlakukan seperti itu. Rara menangis, dia tidak tahan mendengar ucapan Sella. Dia pergi meninggalkan kamar VVIP itu. Raya hendak mengejarnya, namun Sella dengan cepat melompat dari tempat tidurnya dan menarik tangannya.
"Jangan pergi Raya, aku mohon", Sella memohon dengan sangat
Sella memeluk Raya dari belakang.
"Maafkan aku, Sella. Aku tidak bisa"
"Tapi aku mencintaimu, Raya. Sangat mencintaimu. Aku mohon, belajarnya mencintaiku. Jangan pergi, Raya. Jangan kejar dia", lagi-lagi Sella memohon
Raya melepaskan pelukan Sella. Dia tak perduli lagi apa dan bagaimana keadaan Sella. Yang dipikirnya adalah Rara. Perasaan Rara.
"Aku tidak mencintaimu. Dalam jiwa ragaku hanya ada Rara",ucap Raya pasti
Raya berlari mengejar Rara. Setiap sudut jalan ia telusuri. Bagaimanapun dia harus menemukan Rara, dia tak ingin terjadi apa-apa pada perempuan yang disayanginya. Akhirnya di ujung jalan dia berhasil menemui Rara.
"Rara, aku mohon dengarkan aku"
Ucapnya sambil terengah-engah. Dia menahan Rara agar tidak pergi lagi. Rara menatapnya. Tatapan penuh kesedihan.
"Ra ... Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Terserah apa yang akan terjadi nantinya. Terserah apa pandanganmu padaku. Aku ... Aku harus jujur padamu... Aku ..."
Rara diam. Dia menunggu apa yang ingin disampaikan Raya padanya.
"Rara, aku ... Aku Raya Aditama. Sangat menyayangi perempuan yang ada di hadapanku. Aku mencintaimu Rara"
Bukan main terkejutnya Rara mendengar kata-kata itu. Dia tak tahu harus bahagia atau bersedih.
"Apa yang anda, katakan tadi pak Raya?", tanya Rara
"Aku mencintaimu Rara. Aku sayang padamu"
"Jangan mempermainkan aku, Pak. Jangan pernah melakukan itu padaku"
"Terserah apa yang kamu katakan. Tapi ini adalah perasaan ku yang terdalam. Aku benar-benar mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku",Raya sudah mulai putus asa
"Maaf, Pak. Aku tidak bisa. Aku tak ingin menyakiti Sella. Maafkan aku. Selamat tinggal"
"Rara ....!!!", teriak Raya.
Perempuan itu pergi dan mencegat taxi yang melintas. Lalu pergi menghilang tanpa memperdulikan Raya yang mengejarnya. Raya hanya bisa terdiam memandangi pujaan hatinya dari kejauhan. Sesak didadanya tak terbendung lagi.
"Aku mencintaimu, Rara ...", ulangnya berkali-kali.
******
__ADS_1