Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Tak Ingin Menjauh (Lagi)


__ADS_3

Selama satu minggu Rara menginap dirumah Rio. Kebetulan juga jadwal nya kosong untuk sepuluh hari kedepan. Rara berpamitan pada Paman, Bibi dan Kak Rio. Taxi online yang dipesannya sudah menunggu. Sebenarnya Rio ingin mengantarkannya, namun Rara tak ingin lagi merepotkan Paman, Bibi dan juga Kak Rio.


"Ra, kamu tinggal disini aja. Temani Bibi. Tidak baik tinggal sendirian. Lagi pula kami kan keluargamu juga, Ra" pinta Bibi saat Rara berpamitan.


"Terima kasih, Bi. Nanti Rara pikirkan lagi. Maafkan Rara kalau seminggu ini sudah merepotkan Paman, Bibi juga Kak Rio"


"Jangan bicara begitu, Sayang. Kami tidak merasa direpotkan. Kami semua sayang sama Rara"


Bibi meluk Rara. Lalu Paman dan juga Kak Rio. Rara menaiki taxi online itu, lalu meluncur menuju rumah tempat dia tinggal. Hari sudah malam, pukul delapan malam, langit mendung tak berbintang.


Taxi online itu berhenti di depan rumah, sepi, dari kejauhan ada sebuah porsche Macan 2.0 berwarna silver terparkir. Jantung Rara berdetak kencang melihat mobil mewah itu, dia paham sekali siapa pemilik mobil itu. Raya Aditama. Rara berpura-pura tidak tahu, dia buru-buru membuka kunci dan hendak masuk kedalam rumah. Saat ia hendak menutup pintu, tiba-tiba pintu itu di tahan oleh seseorang dari luar.


Braakkk...


Raya muncul di balik pintu. Tak ada senyum dari raut wajahnya.


"Dari mana saja, kamu!?" nada suara nya terlihat marah, panik dan cemas. Bahkan suara hujan pun kalah keras nya dari pertanyaan dia tadi. Rara mencoba tenang, dia merapatkan tubuhnya kedinding. Ke pojok ruangan.

__ADS_1


"Bukankah aku tidak ada jadwal sampai beberapa hari kedepan?"


"Bukan itu pertanyaanku, Nona!" tungkas Raya.


"Apa perduli mu? Aku berhak kemana saja diluar kontrak kerja dengan Raya Entertainment" Rara mulai kesal.


"Ooo...begitu ya!? Jawab pertanyaanku! Dari mana saja kau seminggu ini!? Jawab!" Raya membentak. Hati Rara bergetar, rasa ciut menyelimuti hatinya. Sebuah pertanyaan besar, kenapa lelaki yang ada dihadapannya ini marah padanya. Rara makin terdesak.


"Jawab pertanyaanku, Ra" ucap Raya. Kali ini nada bicaranya melunak, matanya bercahaya, berbeda dengan Raya yang tadi. Matanya menatap jauh kedalam manik mata Rara.


Rara memalingkan wajah nya, tubuh Raya sudah begitu dekat dengannya, bahkan lebih dekat lagi. Raya memegang tangan kanan gadis mungil itu.


"Hmmm..." Raya menunggu kelanjutan kata-kata Rara dengan sabar.


"Tatap wajahku!" titah Raya.


Deg ... Seketika Rara merasa nafasnya sesak. Dia memutar wajahnya perlahan. Menatap Raya Aditama dari jarak yang begitu dekat bahkan lebih dekat lagi.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku, Ra"


Kali ini nadanya lebih lembut lagi dan lebih memohon jawaban.


"Aku menginap dirumah teman" jawab Rara berbohong.


"Benarkah?"


"Ya, aku menenangkan hatiku disana"


Raya menatap lagi manik mata Rara yang ada tepat diujung batang hidung nya. Rara menunduk. Raya memeluk gadis itu erat-erat, membelai kepalanya, lalu mencium keningnya.


Ada perasaan lega setelah melihat Rara ada dihadapannya dengan keadaan baik-baik saja. Rara binggung tapi entah kenapa jantung nya tak mau berhenti berdetak sekencang ini, paling tidak berdetaklah dengan normal, pikirnya.


Raya melepaskan pelukannya. Lalu pergi kembali kemobilnya. Bajunya basah kuyup, dia tak perduli hujan yang turun, dia melajukan mobil nya , lalu menghilang di balik derasnya hujan.


"Aku mencintaimu, Ra" ucapnya berkali-kali didalam mobil.

__ADS_1


Rara memandangnya dari dalam rumah, otaknya masih mencerna apa yang barusan terjadi.


******


__ADS_2