
Awal bulan yang ceria, bagi Rara merupakan hari-hari yang melelahkan. Jadwal tournya keliling negeri. Dia bahkan harus membawa seorang guru privat khusus untuk mengejar belajarnya, Rara tak ingin belajarnya tertinggal. Baginya pendidikan tetap nomor satu.
"Semangat ya, Ra", Joe mengirimkan pesan WhatsApp nya pada Rara.
Rara hanya membacanya. Dia tak sempat lagi membalasnya. Hari ini dia baru selesai kegiatan pukul satu dini hari. Dia sangat memanfaatkan waktu istirahatnya di hotel.
Drrr....drrr....
Baru saja dia memejamkan mata, sebuah nomor baru masuk di panggilan ponsel dia.
"Halo..."
"Halo... Ra ..."
"Janna, ada apa telepon tengah malam"
"Kalau ga tengah malam kamu kan sibuk, WhatsApp ku hanya kamu baca saja kan?"
"Maaf Jan, aku ada show malam ini. Baru saja masuk kamar hotel untuk istirahat"
"Yayayaya, aku paham ko. Bagaimana kabarmu"
"Kabarku baik, Jan. Bagaimana denganmu?"
"Kabarku baik, Ra .. sebenernya aku ..."
"Ada apa, Jan?"
"Maafkan aku sebelumnya, Ra. Tapi aku harus jujur sama kamu. Sebenernya emak bukannya tidak mau membalas semua surat-surat mu. Emak ... "
__ADS_1
Rara panik mendengar nya.
"Emak kenapa, Jan?"
"Maaf, Ra. Sebenarnya emak melarang aku cerita sama kamu. Tapi melihat kamu datang kemarin, aku jadi tak tega. Aku ingin jujur sama kamu, Ra"
"Please, Janna, katakan padaku! Ada apa? Apa yang terjadi pada emak?"
"Ra, jauh sebelum kamu pergi, ketika kamu sedang pergi bersama Kak Rio dan keluarganya, waktu itu aku bertemu emak di jalan, dia hendak kerumah sakit di kota. Kondisinya lemah dan wajah nya pucat. Karena aku tak tega, aku antar emak ke kota"
"Lalu?!"
"Setelah dokter melakukan pemeriksaan. Emak di rujuk ke dokter spesialis paru di rumah sakit pusat di kota. Disana Emak di nyatakan terkena kangker paru-paru stadium dua. Dokter menyarankan dia untuk dirawat dan minum obat secar rutin, tapi Emak hanya sekali mendatanginya dan tidak pernag lagi melakukan pemeriksaan seperti saran dokter"
"Dua bulan yang lalu, Emak jatuh pingsan. Kami membawa Emak ke Kota. Dan dokter menyatakan penyakit Emak bertambah parah, sekarang masuk stadium akhir. Dokter menyuruhnya untuk kemoterapi, tapi Emak menolak"
Tak kuasa lagi airmata Rara mengalir di pipi, Emak yang selama ini menyembunyikan penderitaannya demi dirinya. Bergegas Rara mengganti pakaian nya, lalu meninggalkan kamar hotel. Dia tak perduli walaupun tengah malam buta, dia ingin bertemu dengan Emak.
"Mau kemana kamu tengah malam begini?!"
Tepat saat kaki Rara menginjak lobi hotel, Raya berdiri dihadapannya.
"Aku ingin pergi, aku ingin menemui Emak. Dia butuh aku"
"Kau tahu jam berapa sekarang? Dan besok jam sembilan pagi kamu sudah harus tampil di kota sebelah, subuh ini kamu harus sudah menuju ke kota sebelah. Jadi aku harap kamu kembalu kekamar dan beristirahatlah. Aku tidak mau penampilanmu tidak maksimal besok. Ingat! Jadilah seorang artis yang profesional!"
"Aku tidak perduli. Aku ingin ketemu Emak. Lepaskan aku"
Raya tidak memperdulikan teriakan Rara, dia menarik tangan Rara kembali ke kamarnya. Dia memanggil assistennya untuk memberikan Rara vitamin. Agar tubuhnya kembali fit.
__ADS_1
"Aku tidak mau. Aku tidak butuh itu"
Rara menepis tangan Han, asisten pribadi Raya, sehingga vitamin itu terjatuh di lantai. Melihat itu Raya mendekatkan tubuhnya pada Rara laly, memegang dagu perempuan munggil itu.
Han mendekat dan memberikan vitamin itu pada Raya, lalu Raya memaksanya meminum nya. Rara berusaha memuntahkannya tapi Raya dengan cepat mengatupkan mulutnya, sehingga Rara terpaksa menelannya.
"Ingat, kamu terikat kontrak kerja pada Raya Entertainment. Jangan harap kamu bisa meninggalkan kamar ini!"
Raya memerintahkan Han untuk menempatkan beberapa orang pengawal di pintu kamar hotel Rara. Perempuan cantik itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangis sampai akhirnya dia tertidur karena lelah menangis.
******
Rara Pratiwi baru menyelesaikan tour single perdananya selama lima belas hari mengelilingi tujuh kota besar. Dia berusaha untuk menguatkan hatinya walaupaun sebenarnya pikirannya terbagi. Pengawalan ketat dan dia hanya bisa menggunakan ponselnya dengan izin dari Han.
Lima belas hari seperti lima belas abad bagi Rara. Setelah perjalanan panjang, akhirnya dia kembali ke Kota. Malam ini dia ada jadwal wawancara di stasiun televisi. Rara sudah siap dengan gaun cantiknya. Saat kakinya melangkah masuk ke dalam studio dia melihat seseorang dari gedung seberang.
"Emak!", teriak nya.
Namun lagi-lagi tangannya di tarik seseorang
"Kita sudah tidak ada waktu lagi. Wawancara akan segera dimulai"
"Tapi..."
"Kamu bisa melakukan nya nanti. Dahulukan profesionalitas kerjamu!"
Raya menarik tangan Rara menuju studio. Semua orang yang melihat mereka berjalan, tak berani bertatapan mata. Semua menunduk hormat atau lebih tepat nya takut.
******
__ADS_1