
Sejak lolos audisi kontes menyanyi Rara banyak mendapatkan job, bukan hanya job menyanyi, tetapi juga pemotretan, talk show bahkan sebagai MC disebuah acara musik yang khusus dibuatkan untuknya. kesehariannya semakin disibukkan oleh urusan pekerjaannya di dunia hiburan Hari ini jadwal Rara muncul di acara talk show. Dia sudah standby satu jam sebelum acara di mulai. Dia sudah siap diruang ganti. Tiba-tiba pintu ruang ganti khusus terbuka.
Cekreeeeekkk ...
Braaaakk...
Raya Aditama muncul dihadapannya. Dia mengunci pintu itu dari dalam. Dia mendekat kearah Rara.
"Katakan. Kenapa kamu berbohong malam itu padaku?" Raya datang dengan begitu emosional.
"Berbohong?? Aku?? Apa maksud bapak?" tanya Rara.
"Jangan berpura-pura tidak tahu. Malam itu kau katakan kalau kau menginap dirumah seorang teman, iya kan?!" ucap Raya dengan nada sedikit tinggi.
Rara mengingat-ingat lagi kata-katanya malam itu. Memang benar dia asal menyebut saja malam itu, dia asal ucap dengan tujuan Raya Aditama lekas pergi dari rumahnya.
"Kanapa kau diam. Jawab aku, Rara!" titah Raya.
"Kenapa aku harus mengatakannya pada anda, Pak. Itu bukan urusan anda, bukan?!"
"Itu urusanku, segala yang berhubungan dengan mu adalah urusanku, Rara"
__ADS_1
"Maksud anda apa, Pak?!"
"Jawab pertanyaan ku, Rara! Kemana kamu malam itu?!"
Rara tetap diam. Mulutnya tertutup rapat. Dia merasa tidak perlu mengatakan apapun pada laki-laki yang ada di hadapannya. Dia masih sakit hati terhadap sikap Raya waktu itu yang melarangnya menemui almarhumah Emak, hanya karena alasan profesiolitas kerja. Baginya Raya adalah manusia yang tak punya hati.
"Kenapa kau diam!? Jawab pertnyaanku?!"
Rara memalingkan wajahnya. Dia tak ingin bersitatap dengan Raya. Raya semakin tertampar harga dirinya. Dia mendekat ke arah Rara, bahkan lebih dekat lagi.
Tok ... Tok... Tok...
Pintu di ketuk seseorang dari luar. Akhirnya aku selamat, pikir Rara.
Cekreeeeekkk
"Maaf, Pak. Sudah waktunya anda untuk meeting dengan pihak media. Mereka sudah menunggu anda di ruang rapat"
"Baiklah. Kita kesana"
Entah kenapa Rara merasa ingin berteriak kegirangan. Lega rasanya dia bisa lepas dari Raya.
__ADS_1
"Horeeee.... Si berengsek itu akhirnya pergi juga" teriak Rara dalam hati.
Untung nya tak lama, seorang staf televisi memanggilnya. Acara akan segera dimulai. Mereka menjemput Rara di ruang tunggu lalu mengantarnya ke studio untuk talk show malam itu.
******
"Aku mau kau ikuti dia, Hans. Cari tahu lelaki mana yang sedang dekat dengannya" titah Raya pada Hans
"Apakah itu penting, Pak?" tanya Hans.
Raya menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas panjang.
"Penting. Sangat penting. Catat itu, Hans. Segala yang berhubungan dengan Rara adalah urusan ku!" tegas Raya.
"Baik, Pak!"
Raya mempercepat langkahnya, dalam hatinya menggerutu setengah mati.
"Rara ... Kalau sampai ada laki-laki lain yang mendekatimu atau bahkan sampai memiliki mu .... Aku ... Aku ... Bisa gila dibuatnya!!!"
Raya mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin memukul sesuatu. Melampiaskan rasa kesal dihatinya. Dia baru menyadari betapa berartinya Rara dalam hidupnya. Betapa ia begitu mencintai perempuan itu. Rara banyak mengubah hidupnya. Rara lah yang membuka hatinya kepada dunia.
__ADS_1
Kalau boleh jujur, sejak bertemu dengan Rara banyak perubahan yang terjadi pada diri Raya. mungkin dia baru menyadarinya. Namun orang-orang disekitar dia, bahkan orang-orang terdekat dia, atau Hans sekalipun pasti menyadarinya. Mereka pasti merasakan perubahan berarti dari sikap Raya yang selama ini terkesan dingin dan angkuh terhadap siapapun. Terutama pada wanita.
******