
Jalur penjurian yang panjang sudah di lewati Rara dengan penuh perjuangan. Mulai dari audisi daerah, audisi kota sampai sekarang menuju babak final. Dari hampir 20 ribu peserta dari segala penjuru negeri, akhirnya di pilih 40 orang terbaik. Dan salah satu nama yang tertera adalah Rara Pratiwi.
Bulan depan ia harus ke Kota untuk mengikuti karantina selama 3 bulan, untuk itu dia mengajukan dispensasi khusus kepada pihak sekolah. Selama audisi, oleh pihak panitia Rara diizinkan untuk menempuh privat class guna mengejar ketertinggalannya nanti. Sehari sekali selama 2 jam dia harus standby belajar bersama seorang guru privat yang dikirim oleh Tuan misteius.
"Ooh... Tuan misterius yang baik hati. Siapapun anda. Bagaimanapun anda, aku akan selalu menghormati anda sebagai dewa penolongku. Yang bisa aku lakukan adalah menjadi yang terbaik demi membuat anda bangga"
"Seandainya anda adalah orang tua yang buruk rupa, atau penjahat sekali pun bahkan jika anda adalah orang yang paling aku benci, aku akan tetap menghormati anda. Sebagai bentuk rasa terima kasih ku"
"Jika suatu saat nanti, anda mengizinkan aku bertemu dengan anda, ahh... Entah apa yang akan terjadi saat itu. Apa yang akan aku lakukan?"
Huuuft... Rara menarik nafas panjang. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti membuat dadanya terasa sesak.
"Apapun bentuk nya dia adalah dewa penolong ku, batin Rara. Aku harus menjadi seorang yang tahu berterima kasih"
"Ehmmm.... "
Blassss... Lamunan Rara buyar dengan suara deham seseorang. Dan orang itu adalah Joe.
Rara tersenyum membalas senyuman Joe.
"Selamat ya, Ra. Kamu masuk karantina. Berjuanglah"
Joe mengulurkan tangannya mengucapkan selamat. Rara membalas uluran tangan Joe sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, Joe"
"Kamu harus izin sekolah dong, Ra"
"Iya, aku sudah mendapat dispensasi khusus dari sekolah"
"Tenang saja, nanti aku kirimkan salinan semua catatanku padamu?"
"Eeh..?!"
"Kenapa?!"
"Hehehe... Tidak. Kamu juga kan suka izin. Apa lagi klo lagi ada syuting atau tour album. Apa kamu punya catatan"
"Terima kasih. Tapi aku ada guru privat ko. Aku dapat izin khusus dari panitia untuk privat class sehari dua jam"
"Kamu dapat perhatian khusus ya"
"Hmmm..."
"Keluarga mu gimana, Ra? Mereka pasti dukung kamu kan"
Deg ... Ucapan Joe seperti memberikan pukulan keras di hati Rara. Keluarga? Ahh... Apa itu keluarga? Sampai sekarang pun Emak ga pernah membalas surat-suratnya.
__ADS_1
Rara hanya menghela nafas panjangnya. Dia tak menjawab pertanyaan Joe dengan kata-kata. Dia hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Entah apa arti senyuman itu.
******
Sepulang sekolah Joe sengaja menunggu Rara di depan kelas. Dia meminta Rara untuk menemani nya sebentar ke sebuah distro di Kota. Rara meng-iya-kan. Lalu mereka berangkat menuju kota dengan di antar oleh sopir pribadi Joe yang standby antar jemput Joe kemanapun dia pergi.
Joe meminta Rara memilihkannya beberapa pasang pakaian untuknya. Minggu depan dia ada meet and great di salah satu mall di kota.
Setelah itu Joe mengajaknya kesebuah toko handphone. Dia memilihkan sebuah handphone keluaran terbaru untuk Rara.
"Ehh... Ini??"
"Ini buat kamu. Biar aku bisa lebih mudah menghubungi mu. Aku tidak mau kalo kamu tolak pemberianku"
Waddduuuh, ini handphone produk terbaru dari merk handphone ternama, harga nya mahal sekali, apa boleh aku menerima barang semewah ini, hati Rara mengumam.
"Jangan bilang tidak. Aku akan memusuhi mu kalo begitu"
Joe menyerahkan handphone itu ketangan Rara. Gadis itu hanya tersenyum bingung.
"Ya... Tuhan. Ini cowok pake maksa lagi",batinnya lagi.
Belum selesai Rara berpikir, Joe sudah menarik tanggannya menuju mobil. Lalu mereka pergi mengitari sebuah mall ternama.
__ADS_1
*****