
Rara sudah dipindahkan keruang perawatan. Raya meminta pemeriksaan yang intensif pada istrinya. Satu jam kemudian Rara sadarkan diri.
"Kak...", Rara memanggil
"Ya, sayang. Aku disini"
"Ini dimana, Kak?"
"Kamu ada diruang perawatan rumah sakit. Tadi kamu tak sadarkan diri. Dokter sudah memeriksa mu tadi. Bagaimana keadaanmu sekarang, sayang?",tanya Raya
"Kepalaku masih pusing. Rasanya seperti mau muntah. Perutku seperti diaduk-aduk"
"Nanti aku akan meminta dokter memeriksa mu lagi"
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
Seorang perawat dan dokter masuk kedalam kamar perawatan.
"Bagaimana dok, istri saya masih merasa pusing dan mual. Apa yang salah?",tanya Raya penasaran
Dokter dan perawat tersenyum kecil melihat Raya yang begitu mengkhawatirkan istrinya, ekpresinya saat itu lucu sekali.
"Pak Raya tak usah khawatir. Hal ini biasa terjadi kok, sebentar lagi dokter specialis akan menjelaskannya pada anda"
"Maksud dokter keadaannya buruk?"
"Nyonya Rara sedang mengandung. Hasil usg nya akan diperlihatkan dan dijelaskan oleh dokter specialis kandungan".
Rara dan Raya saling berpandangan. Kalau saja tidak malu Raya sudah melompat-lompat kegirangan. Dalam hatinya bersorak-sorai kegirangan. Hamill...??? Yes... Yes ... Yes ... batin Raya, sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama Rara dibawa ke ruangan dokter spesialis kandungan. Dan benar saja, kandungannya sudah berumur tiga minggu. Dokter memberinya vitamin pada Rara.
******
"Kau dengar Hans. Rara hamil. Aku akan jadi Papa",Raya memamerkannya pada Hans
"Selamat tuan, saya senang mendengarnya"
Hans melirik dari spion mobil, tuan nya begitu gembira mendengar kabar hamilnya Nyonya. Pasti akan banyak kabar baik lainnya, pepatah lama mengatakan bahwa anak adalah sumber rezeki. Begitulah dalam pikiran Hans. Dia tetap fokus dengan kemudinya. Hans memarkirkan mobil dihalaman.
__ADS_1
Papinya sudah menunggu mereka di ruang tamu. Dia juga tak kalah antusias menyambut kehamilan menantunya.
"Selamat nak, akhirnya Papi jadi Opa juga. Papi senang mendengarnya"
"Terima kasih, Pi",ucap Rara.
"Sebaiknya kamu mengurangi kegiatanmu demi anak itu. Papi tidak mau terjadi sesuatu pada calon cucu Papi nantinya"
"Ya, Pi. Raya akan mengatur semuanya. Raya juga ingin Rara dan calon anak Raya sehat nantinya"
"Bagus. Kamu harus memberikan istrimu perhatian khusus. Maklum kalau hamil muda memang seperti itu. Dan kamu Rara, jangan terlalu memaksakan diri ya. Tolong Jaga calon cucu Papi baik-baik"
Rara tersenyum. Dia merasa malu diperlakukan istimewa begitu oleh Papi mertua dan suaminya.
******
Sejak mengetahui kehamilan istrinya, Raya menjadi lebih perhatian dan sangat protektif pada istrinya.
"Kak ...", panggil Rara
"Ya, sayang. Apa kamu merasa mual lagi? Mana yang sakit? Kepalamu sakit lagi?".
"Aku tidak apa-apa kok?!", ucap Rara
Rara memegang tangan suaminya.
"Lalu?", tanya Raya kemudian.
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa itu? Katakan saja!"
"Aku mau mangga muda yang ada di kebun belakang rumah paman Benny. Tapi harus Kak Raya yang panjat pohonnya"
Haaahh...memanjat pohon? Okelah kalau begitu maunya. Demi istrinya yang sedang ngidam dia rela melakukan apa saja. Siang itu juga mereka pergi kerumah Paman Benny. Raya mengendarai sendiri mobil sport mewahnya menuju rumah paman Benny.
******
"Selamat siang Paman Benny, Bibi Joise?"
__ADS_1
"Rara, Raya ..... Lama sekali kalian tak main kesini. Bagaimana kabar kalian? Bibi senang melihat kalian datang. Ayo masuk"
Bibi Joise mempersilakan Rara dan Raya masuk.
"Bi, kalau boleh aku mau kehalaman belakang. Aku mau memetik sebuah mangga"
"Mangga?",tanya Josie
"Iya, Bi. Rara sedang hamil muda. Dia ingin mangga di halaman belakang. Makanya kami datang kesini?",jelas Rara
"Benarkah? Syukurlah kami senang mendengarnya. Selamat buat kalian berdua", Josie mencium keponakannya
"Kalau begitu ayo kita petik mangganya", ajak Paman Benny.
"Jangan Paman", cegah Rara
"Eeh...."
"Loh, bukannya kamu sedang ngidam mangga muda?", tanya Bibi Joise.
"Iya, tapi aku mau Kak Raya yang memanjat pohon itu dan memetiknya", jelas Rara lavi
Benny dan Joise saling berpandangan, lalu mereka melirik pada Raya. Dia hanya mengangkat bahunya.
Hahahahaha....
Paman Benny tertawa melihat Raya yang kesulitan memanjat pohon. Akhirnya Raya berhasil memetiknya beberapa buah dan memasukkannya kedalam pelastik yang dia bawa.
"Ini sayang, aku sudah mencucinya. Biar aku kupaskan ya?", ucap Raya
"Jangan. Aku tak mau memakannya. Aku hanya ingin mencium aromanya saja"
Rara mengambil mangga itu lalu menghirup aromanya. Dia terlihat senang sekali. Lalu meletakkannya kembali di atas meja. Raya bengong melihatnya, Ya... ampun, aku setengah mati memanjatnya hanya di cium baunya saja, pikir Raya. Raya menggaruk-garuk kepalanya.
Benny dan Istrinya hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Sabar nak", bisik Bibi Joise.
******
__ADS_1