Menembus Batas Cinta

Menembus Batas Cinta
Romansa Kapal Pesiar


__ADS_3

"Waktunya makan malam, tuan muda?",panggil Hans


"Hmmm ... "


"Anda sepertinya bahagia sekali, Tuan?!"


Raya tak menjawab pertanyaan Hans. Dia hanya tersenyum sendiri. Tanpa harus dijawab pun Hans tahu bahwa hati tuan mudanya sedang bahagia.


"Aku makan diluar saja",ucap nya


"Baik, tuan"


"Pesankan aku tempat di retoran kapal Hans. Privat room!",titah Raya


"Baik, Tuan!"


Raya menuju kamar Rara. Dia berharap Rara belum tidur atau bahkan sedang menunggu kedatangannya.


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk


"Pak Raya?!",Rara terkejut melihat Raya ada dibalik pintu


"Boleh aku masuk?"


"Silakan!"


"Kamu sedang berlibur juga di kapal pesiar ini, Ra?"


"Iya"

__ADS_1


"Sendirian?"


"Hmmm..."


"Tumben sekali kamu berpelesir pakai kapal pesiar?!"


"Ini hadiah pemberian seseorang padaku?"


"Pacarmu?"


Wajah Rara bersemu merah. Mana mungkin pacar. Jatuh cinta aja baru kali ini, pikirnya.


"Bukan, Pak! Seseorang yang baik hati. Yang selalu menolongku. Bahkan aku sendiri tak tahu siapa orang nya"


"Hmmm... Masih adakah orang yang berhati malaikat seperti itu zaman sekarang?"


"Buktinya orang itu ada. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Dia selalu mengirimkan utusannya jika ada sesuatu"


"Aku tak perduli, siapa pun dia aku tak akan membencinya. Aku sangat berterima kasih padanya. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Bahkan jika dia orang yang paling aku benci sekalipun, aku tak akan sanggup membencinya. Aku yakin dia pasti orang yang baik, sangat baik"


Rara jadi bersemangat jika membicarakan Tuan Misterius. Dia berhutang budi pada Tuan Misterius yang selalu menolongnya.


"Kamu sudah makan, Ra?"


"Belum. Aku baru mau pesan makanan"


"Baguslah"


"Eeh...."


"Kita makan diluar saja. Cepat ganti pakaianmu"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa ganti pakaian kalau bapak ada disini?!",protea Raya


Hahhahahaha..


Rara kesal melihat Raya yang tertawa.


"Jangan merengut, sayang. Salinlah dikamar mandi. Aku akan tunggu disini. Tenang saja, aku tak akan macam-macam"


Perempuan cantik itu menuju kopernya, mengambil selembar gaun dan handuk. Lalu membawa nya ke kamar mandi. Raya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia senang sekali malam itu.


"Senang nya menunggu kekasih yang bersolek untuknya",setidaknya itu yang ada dalam pikiran Raya


Tak lama Rara keluar setelah berganti pakaian. Gaun berwarna hijau dengan renda cantik di bahunya. Ditambah rambutnya yang di ikat dan di rol rapi. Anggun sekali. Rara menuju meja rias. Mengambil lip gloss nya yang berwarna pink. Makin menambah kesan anggun dan elegan pada dirinya. Raya sangat terkesima melihat Rara yang sudah tampil cantik bak putri raja. Hati nya makin tak karuan.


"Pak.... Pak Raya",panggil Rara


"Ehhh... "


"Ada apa? Ko melihatnya seperti itu? Aneh ya aku memakai baju ini?"


"Cantik! Kamu sangat cantik!"


Lagi. Wajah Rara bersemu merah, pujian dari laki-laki yang di sayanginya membuat hatinya bagai terbang kelangit.


"Ya, Tuhan ... Apa aku tidak salah dengar?! Dia bilang aku cantik ... Woooww...",batin Rara.


"Ayo ... ", ajak Raya


Raya mengulurkan tangannnya, Rara menerima ukuran tangan Raya. Tangannya besar dan hangat. Bahunya kokoh. Ya, Tuhan ... Aku tidak sedang bermimpi bukan, pikir Rara yang masih tidak percaya dengan apa yang dia alami malam ini.


Mereka berdua menuju retoran kapal yang terletak di lantai atas. Sebuah privat room mewah yang dipesan khusus oleh Raya. Hans sudah menunggu mereka di depan pintu. Dia membukakan pintu buat Tuan mudanya dan Rara.

__ADS_1


******


__ADS_2