Mengejar Cinta Sang Ustad

Mengejar Cinta Sang Ustad
BAB 47


__ADS_3

Hafidz hanya diam tampa ekspresi sementara Hanan, Zaki dan Nana hanya tersenyum mendengar penuturan Mirza tentang sepupunya itu


" Sampe sekarang ini aku bingung, sampai- sampai aku mikir, kok cowok dingin kaku kayak begini, kenapa penggemarnya banyak ya" ucap Mirza heran


" Jangankan kamu Mir, aku juga bingung sendiri, cewek- cewek dikampus sukanya sama dia doank." ucap Hanan tertawa


" Eekheeem" Hafidz hanya berdehem mendengar dirinya jadi bahan gunjingan


" Kamu masih ingat nggak, Pas kita kelas 2. dan kedatangan Tamu dari pesantren lain." cewek- ceweknya semua eeh..pada ngelirik dia.


" Padahal kita berdua, udah bela- belain tampil keren, cool abiis, eeh.malah dicuekin semuanya pada dekatin dia." ucap Mirza tertawa mengenang kembali peristiwa ketika mereka menimba ilmu di Pesantren.


" Terus ada yang jadian sama Ustadz nggak."?? tanya Fisha penasaran melirik sekilas ke arah Hafidz


" Gimana mau jadian." liat cewek aja kabur.." ucap Mirza


" Bukannya kabur, tapi menghindar." ucap Hafidz meralat kalimat Mirza


" Tau nggak Fish, apa panggilan Almeer sewaktu dipesantren."?? tanya Mirza


" Emangnya ada Bang."?? tanya Fisha dan Nana bersamaan


" Masih ingat nggak Naan."?? tanya Mirza lagi

__ADS_1


" Iyaa."ucap Hanan singkat


" Pangeran gunung Es alias si muka datar." ucap Mirza tertawa


" Eekheeeem."Hafidz hanya kembali mendehem mendengar sepupunya itu nampak sengaja menjahilinya


" Haaaaaa." cocok juga sih.


" tapi tenang aja Ustadz., apapun dirimu dan sedingin salju pun dirimu, cintaku padamu tak akan pernah luntur kok." seru Fisha sembari tersenyum


Mendengar pernyataan Fisha, Mirza dan yang lainnya melotot kaget ke arah Fisha sementara Hafidz wajahnya memerah menahan malu."


" Emangnya apa sih yang buat kamu cinta sama dia" mukanya datar kayak begitu."?? tanya Mirza penasaran


" Cinta nggak butuh alasan Bang" yang aku tau aku sangat cinta sama Cowok Kaku, dingin seperti Es balok yang ada dihadapanku ini." ucap Fisha tersenyum manis menatap wajah Hafidz


" Jangan mencintai aku sebanyak itu dek Fisha, Aku hanya manusia biasa, dan aku nggak layak dicintai sebesar itu melebihi Cinta kamu ke Allah." ucap Hafidz


" Maka dari itu, aku cinta Ustadz karena Allah." ucap Fisha cuek, wajah hafidz memerah menahan rangkaian perasaan yang berkecamuk dihatinya


" Mangnya ada Fisha kayak gitu."?? tanya Zaki


" Heehee nggak tau." ngarang aja tadi." ucap Fisha terkekeh di ujung kalimatnya

__ADS_1


" Kirain" ucap Zaki lesu


" Oh iya Meer, kabar Paman sama Bibi gimana"?? tanya Mirza


" Alhamdulillah baik." ucap Hafidz singkat


" Aku ingat sewaktu kita dipesantren, jadi pengen ngulang kembali kejadian- kejadian dulu." ucap Mirza tersenyum


" Kamu ingat Nggak Naan, waktu kita rebutan surat." nggak taunya surat cintanya buat Almeer, kami pikir surat itu buat kita."


" Dari sepuluh surat tak ada satupun buat kita, semuanya buat Hafids doang." ucap Mirza


" Tapi ada satu surat, kalau nggak salah dari siapa yaa."??,lupa namannya." ucap Hanan mencoba mengingat- ngingat kembali


" Dari Davina" kalau nggak salah itu ada fotonya lho." masih ada nggak Meer."?? tanya Mirza menatap ke arah Hafidz yang kaget dengan pertnyaan Mirza


" Oh iya masih ada." ucap Hafidz melirik ke arah Fisha yang nampak tidak senang mendengar jawabannya


" Kalau nggak salah, isinya dia bakal datang ketemu kamu setelah dia lulus S2 nya nanti." ucap Mirza tidak menyadari raut wajah gadis yang duduk disampingnya itu berubah drastis


" Ooh pantesan selama ini Ustadz nggak mau ngebuka hatinya buat aku, ternyata sudah ada gadis lain yang Ustadz tunggu kedatangannya."??


" Apabila Ustadz telah menunggu gadis lain, kenapa nggak jujur sedari awal" agar aku tak berharap seperti gadis bodoh yang mengemis cinta dari Ustadz."ucap Fisha dengan kesalahah pahamannya ,tampa sadar meneteskan air matanya dan beranjak masuk kedalam kamar dan di ikuti Nana dibelakangnya

__ADS_1


Mendengar perkataan dan melihat Fisha meneteskan air mata seperti itu, hati Hafidz seakan hancur berkeping- keping bak di hujami ribuaan batu ke atas tubuhnya, sakit, perih itu yang dirasakan Hafidz kini


Sementara Hanan , Zaki dan Mirza tertegun tak mampu berucap lagi melihat kejadian yang terjadi dihadapan mereka itu..


__ADS_2