
Setelah beberapa menit setelah kepulangan mereka dari rumah pak Kades, ketiganya bergegas masuk kedalam kamar
Zaki dan Hanan langsung merebahkan dirinya ketempat tidur, sementara Hafidz masih disini, dirinya menyandarkan tubuhnya kesisi tempat tidur. pikirannya melayang memikirkan ucapan Mirza sepupunya..
" Ya Allah..hamba tak pernah menyangka, rasanya akan sesakit dan sepedih ini...padahal hamba sudah bersusah payah menghilangkannya, tapi mengapa."?? sakitnya melebihi apa yang hamba pikirkan." gumam Hafidz dalam hati sesekali terdengar hembusan nafas yang dikeluarkannya dengan kasar
"Inikah sakit yang harus hamba tanggung." sakit yang seakan memenuhi seluruh rongga dadaku." ampuni hamba ya Allah telah memiliki rasa ini." kalau dia jodoh Hamba, jagalah selalu hatinya, namun bila bukan." maka Ikhlaskan hati ini." lirih Hafidz menutup matanya menahan segala perasaan yang memberontak dihatinya, tampa dia sadari ada bulir kecil yang keluar dari sudut matanya
Melihat Hafidz seperti itu, Hanan dan Zaki bangun dari pembaringan sejenak mereka terkejut melihat apa yang terjadi dihadapan mereka
" Apakah Ustadz sesakit itu."??bisik Zaki yang keget meihat kesudut mata Hafidz yang tertutup
" Mungkin Zak." Dia terlalu menyiksa dirinya sendiri" aku sendiri tidak tega" apabila benar Fisha suatu saat harus menikah dengan orang lain" bisik Hanan agar tidak terdengar oleh Hafidz
" Iya...Padahal nggak ada salahnya dia membuka dirinya untuk wanita yang sangat mencintainya." kalau sudah sakit begini,salah siapa coba."!! gumam Zaki yang ikut prihatin dengan Hafidz
__ADS_1
" Aku sangat yakin" Ustadz pasti sangat merasakan sakit yang teramat sangat." apalagi tadi setelah mendengar penyataan dari Bang Mirza yang mencintai Fisha." ucap Zaki lagi
" Kamu benar Zak." bulir kecil disudut mata itu sebagai buktinya, bahwa dia merasakan sakit yang teramat dalam" hanya saja dia terlalu tegar menghadapi hatinya sendiri." ucap Hanan pelan menatap Hafidz yang menutup matanya namun belum tidur
Dadanya terasa sesak, menerima kesakitan yang disebabkan oleh dirinya sendiri, perlahan dia membuka matanya, dan kaget melihat Zaki dan Hanan tengah menatap dirinya
" Kenapa kalian menatap aku seperti itu."?? tanya Hafidz beranjak kekamar mandi untuk.membasuh wajahnya
"Nggak pp, kami hanya tidak menyangka" seorang Hafidz yang terilihat tegar bisa merasakan sakit yang teramat dalam seperti ini." ucap Hanan melirik ke arah hafidz yang berjalan kekamar mandi
" Apa maksud kamu Naan."?? tanya Hafidz dari arah kamar mandi
" Kamu bicara apa sih Naan."?? udah tengah malam lho, nggak usah ngawur aah." ucap Hafidz keluar dari kamar mandi tidak menanggapi perkataan Hanan
"Kamu hanya berpura-pura kuat dan tegar dihadapan kita, padahal sesungguhnya dihati kamu itu ada luka yang tak berdarah, yang siap kapan saja menghancurkanmu dari dalam.
__ADS_1
" Kalau kamu memang tak merasakan sakit, terus kenapa ada air mata yang mengalir dari sudut matamu."?? ucap Hanan lagi
Hafidz hanya terdiam mendengar segala perkataan Hanan, dia sudah tak mampu lagi membela dirinya sendiri
" Kalau kamu mencintai Fisha, Kenapa tak berusaha jujur kepadanya, agar dia tau:" dan tak akan menerima orang lain" ucap Hanan menasehati
" Aku belum siap Naan."!! ucap Hafidz singkat
" Atau mungkin dirimu sengaja tidak berterus terang padanya, karena kamu sedang menantikan orang lain."?? tanya Hanan dan berhasil membuat Hafidz menatap tajam ke arahnya
" Apa maksud kamu Naan."?? mana mungkin aku menunggu gadis yang tidak aku cintai."!! ucap Hafidz lagi
" Terus kenapa kamu tidak mau membuka hatimu.buat Fisha" padahal kamu sendiri memang cinta kepadanya juga." ucap Hanan
" Aku belum siap Naan, apabila harus menerima kenyataan, jika suatu saat Nanti dia tiada berjodoh denganku." lebih baik sakit sekarang ini daripada harus sakit dilain waktu" ucap Hafidz
__ADS_1
" Sudahlah nggak usah dibahas lagi." biarlah kesakitan ini aku yang menanggungnya sendiri." ucap Hafidz lagi dan beranjak naik ketempat tidur, merebahkan dirinya dan menutup matanya perlahan
Hanan dan Zaki hanya saling melemparkan pandangan menatap ke arah punggung Hafidz yang tidur membelakangi mereka..