Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Memasuki Pekan Kedua


__ADS_3

Senin kembali tiba. Hari yang paling tidak disukai oleh mereka yang bekerja kantoran karena akan kembali ke rutinitas sehari-hari menjadi budak korporat. Karena kebanyak dari mereka dirinya masih berada di akhir pekan dan belum siap menerima hari kerja yang paling sibuk yaitu di Hari Senin.


Ingin Ica rasanya membahas langsung tentang kejadian membangunkan Bayu waktu itu. Lebih tepatnya, Ica ingin mengajak ribut Bayu dengan mengatai Bayu yang susah bangun, lebih susah daripada Ica sendiri. Ica ingin melihat wajah malu si bos galaknya itu. Namun, hari ini jadwal kerja begitu padat. Sejak tadi, rapat-rapat terus. Bahkan, Ica sampai bosan dan mulai tidak fokus mencatat poin penting dari rapat sebagai sekretaris Bayu.


"Sepertinya hari ini harus lembur. Kamu bisa pulang malam sendirian, kan? Ada banyak pekerjaan yang menanti setelah jam kerja normal usai. Kamu jangan sampai hilang fokus. Saya perhatikan kamu tidak ada mencatat apapun di rapat barusan. Jangan macam-macam kamu, ya. Meskipun itu cuma rapat mingguan, isi rapat itu sangat penting untuk perusahaan di masa depan."


"Hadeh, lagi-lagi bahas itu. Cape deh," keluh Ica dalam hati seraya memutar malas bola matanya. Tampaknya kelakuannya itu terlihat oleh Bayu. Wajah Bayu yang sudah galak duluan, kini lebih galak lagi.


"Kamu paham apa yang saya bilang, kan? Kamu jangan menunjukkan ekspresi seperti itu lagi ya, saat di depan saya. Di mana sopan santun kamu? Dasar!" Bayu naik pitam.


Jleb


Ica diomeli lagi. Rasanya, berpengaruh dengan suara baik Bayu waktu itu tidak akan menghilangkan fakta bahwa Bayu benar-benar galak. Lagian, Ica hanya mendengar ucapan kata yang irit, mana bisa ia menilainya itu baik. Lebih tepat itu, tidak terlihat galaknya.


"Iya, iya. Maaf Pak Bos."


"Iya nya sekali saja!"


"Tuh, kan, salah aja di mata dia," batin Ica kesal.


"Iya, Pak."


...----------------...


Sudah menunjukkan waktu Maghrib. Bayu pergi untuk melaksanakan shalat, dan Ica jadi sendirian di ruangan Bayu itu. Teringat tamu bulanannya datang, Ica pun bersiap ke toilet untuk mengamankan harinya. Ia juga ikut pergi meninggalkan ruangan. Tidak ada siapa-siapa yang menempati ruangan itu sekarang.


Bayu hanya melaksanakan shalat di musholla kantor, jadi, lebih cepat selesainya. Saat ia memasuki ruangan kembali, ia tak melihat keberadaan Ica.


"Di mana anak itu? Apa dia kabur dari pekerjaannya? Padahal, belum ada yang mengizinkannya pulang," gumam Bayu.


Ia segera duduk kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia berharap akan selesai sebelum jam makan malam. Bisa habis Bayu di marahi orang rumah kalau tidak ikut makan malam dengan keluarganya.


"Lho, Pak Bayu udah sampai duluan ternyata," ujar Ica saat membuka pintu ruangan kembali.


"Darimana saja kamu?" tanya Bayu menginterupsi. Ia bermuka tebal karena sebelumnya tebakannya salah. Ica jelas-jelas belum pulang.


"Aa.., karena saya lagi datang bulan, jadi tadi ke toilet dulu untuk mengamankan anu..,"


"Sudah, lanjut bekerja. Pak Raka pasti akan menegur saya kalau putrinya pulang terlalu malam. Dan lagi, jangan terlalu vulgar mengatakan urusan kewanitaan kepada seorang pria. Kamu tidak tahu, kan, apa yang seorang pria pikirkan? Bilang saja ada urusan di toilet."


"Aneh..., perasaan itu udah halus banget lho aku ngomongnya. Masa harus di marahin juga, sih? Nggak marah sih itu, di tegur doang. Tapi sama aja, deng."

__ADS_1


"Siap, Pak. Terimakasih sudah mengingatkan."


"Ngomong-ngomong, apa saya bisa pulang duluan, Pak? Saya lupa kalau mobil saya nggak ada. Soalnya, diantar sama supir waktu mau ke sini. Takutnya pulangnya kemalaman. Saya takut, apalagi saya seorang perempuan, jadi, mau cari aman aja dengan pulang sekarang. Mumpung masih belum malam banget. Kalau masalah pekerjaan, saya tinggal beres-beres berkas, kok, Pak."


"Ya udah, tunggu sebentar."


"Sebentar..., maksudnya gimana, ya, Pak? Saya nggak ngerti."


"Sebentar, saya menyiapkan ini dulu baru kamu saya antar pulang."


"Hah?"


"Jangan bising, sakit telinga saya. Biasa aja, kali."


"Saya bisa pakai taksi online, kok, Pak. Anda nggak usah repot-repot."


"Cukup terima, saya tidak pernah terima penolakan. Lagian, ini tanggungjawab saya juga yang lama menyelesaikan pekerjaan. Kalau Pak Raka lihat saya mengantarkan kamu dengan selamat, mungkin itu lebih baik. Bisa jadi nanti beliau khawatir kalau putrinya pulang malam, terus ada apa-apa dan kepikiran terus sampai berbulan-bulan dan mempengaruhi kinerjanya di perusahaan."


"Dih, lebay. Ayah nggak kayak gitu, kok. Justru Ayah akan bangga kalau liat putrinya mandiri, pulang sendiri dengan selamat di malam hari. Lagian, ini nggak terlalu malam, kok. Waktu isya aja belum sampai."


"Raisa! Sudah saya bilang kalau saya tidak pernah terima penolakan. Jangan menjawab-jawabi perkataan saya. Udah, kamu beres-beres sana. Saya juga mau membereskan semuanya. Sisanya akan saya kerjakan dari rumah, atau besok."


"Iya, Bos..., galak." Ica menjawab malas. Kata terakhirnya tentu saja hanya ia yang dapat mendengarkannya. Ia mana mau cari masalah lagi. Toh, ujung-ujungnya si galak ini yang selalu menang.


...----------------...


"Oiya, Pak. Kemaren nggak terlambat ketemu sama Mbak Caca?"


"Nggak," jawab Bayu singkat.


"Ini berkat saya, kan? Akhirnya bisa bermanfaat bagi orang lain juga..., Bunda pasti senang banget dengernya."


"Lebay,"


"Ih..., siapa juga yang lebay? Bunda itu suka apreasiasi saya tentang kemajuan yang saya buat. Itu wujud kasih sayangnya sama anak."


"Iya, karena beliau khawatir selama ini kamu nggak bisa lepas dari orang tua kamu."


"Biarin aja! Setiap manusia karakternya, kan, beda-beda."


"Terserah kamu, kalau gitu."

__ADS_1


"Pak Bayu, Anda nggak ada mau ngomong apa, gitu?"


"Ngomong apa?"


"Iya, soalnya, kan, Anda nggak datang telat itu berkat saya. Di situ saya merasa kesusahan bangunin Anda karena teleponnya nggak diangkat-angkat."


"Ooh, itu. Ya, memang kalau sudah tidur di akhir pekan jadi seperti itu."


"Bukan itu maksudnya. Ih, kok nggak peka, sih?"


"Jadi, kamu mau saya bilang apa?"


"Kata yang diucapkan saat kita merasa terbantu. Magic word, Pak. Anda nggak pernah ngucapin itu. Kata thank you, please, sorry. Waktu Anda mengucapkan itu, orang yang mendengar akan merasa senang. Kita juga bisa jadi lebih tahu diri."


"Ya udah."


"Ya udah, apa?" tantang Ica. Biarpun Ica tak dapat melihatnya, kini Bayu pipinya memerah menahan malu.


"Thank you."


"Thank you untuk...?" lagi-lagi Ica menantang.


"Kenapa kamu membuat saya harus mengatakannya sedangkan kamu sudah tahu apa yang ingin saya katakan. Merepotkan sekali." Bayu jadi geram karena merasa dipermainkan.


"Saat diucapkan langsung lebih berasa. Soalnya, mengungkapkan itu pasti dari lubuk hati dan ketulusan yang dalam."


"Sudahlah, kita sudah sampai di rumah kamu." Bayu memberhentikan mobilnya di depan rumah Ica.


"Ya udah kalau gitu. Biar saya yang ajarkan."


"Ajarkan apa?"


"Magic word tadi." Bayu mengernyitkan dahi.


"Terimakasih banyak, ya, Pak. Anda sudah repot-repot mau mengantar saya. Semoga kebaikan Anda dibalas oleh Allah SWT. Saya keluar dulu, ya, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Ica diakhiri senyum.


"Assalamu'alaykum, Pak." Ica keluar dari mobil dengan tersenyum puas.


Bayu merasa Ica lain dari yang lain. Ia menyadari kebiasaan dirinya sendiri setelah diucapkan oleh Ica. Tidak pernah ia mengucapkan magic word kepada orang lain. Karena, menurutnya itu tak berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Lagian, orang yang lebih mementingkan diri sendiri seperti Bayu mana mungkin peduli untuk menyenangkan hati orang lain jika tidak ada tujuan yang jelas.


"Magic word, ya?" batin Bayu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2