
Hari berakhir begitu saja. Saat Bayu ingin meneruskan, Ica malah bersembunyi di balik selimut dengan posisi membelakangi bagian ranjang di sebelahnya. Kamar ini terasa sesak bagi Bayu.
Keesokan harinya, Ica benar-benar mengabaikan Bayu sampai tak berbicara sedikitpun pada Bayu. Soal masalah pekerjaan, Ica sengaja memilih berkomunikasi via chat dan email. Dan apabila Bayu menjelaskan soal pekerjaan, Ica diam seribu bahasa tak secerewet seperti biasanya. Di kantor telah usai jamnya, di rumah mereka tak bersuara. Hingga akhirnya tibalah waktu makan malam.
"Bi, tolong panggilkan Ica untuk turun dan makan malam bersama," tolong Bayi pada Bi Ana. Ia sebenarnya muak dengan suasana sesak ini. Disikapi seperti itu oleh Ica, seolah Bayu telah melakukan dosa besar, ia tak tahan. Ingin mengakhiri suasana ini dengan penyelesaian versi dirinya, di meja makan. Ia harap, lidahnya diringankan dan perkataannya tak akan menambah ruwet keadaan.
Bi Ana pergi memanggilkan Ica di kamarnya. Karena tak ingin Bi Ana melihat kejanggalan mereka, Ica akhirnya menurut saat itu juga untuk turun bersama Bi Ana. Di dalam hati, ia sangat tak ingin bicara di rumah dengan Bayu, ingin pindah rumah rasanya.
Mereka makan tanpa suara. Ica yang biasanya lambat mengunyah makanan, kini ia seperti orang yang rakus yang dengan cepat melahap makanannya agar cepat keluar dari sini.
"Selesai makan, ayo kita selesaikan masalah kita. Saya nggak suka dengan suasana ini," ujar Bayu lebih dulu sebelum Ica kabur setelah menghabiskan makanannya.
"Saya nggak mau bahasnya di meja makan, Mas. Di kamar aja," tolak Ica. Kemudian, dengan cepat Ica yang lebih dulu menghabiskan makanannya itu menuju kamar dan mempersiapkan mental.
Matanya masih sembab gara-gara semalam menangis kencang. Di kantor pun, untuk menutupi itu Ica bermake-up sedikit di area matanya yang sama sekali tak pernah ia lukiskan celak dan kawan-kawannya agar menyembunyikan sebabnya. Kalau sampai Ica menangis kembali hari ini, entah seberapa bengkak matanya nanti, dan entah harus seberapa tebal make-up yang ia pakai untuk menutupi matanya yang sembab, juga agar mencegah orang-orang yang akan curiga dan mulai kasihan dengan Ica yang menanti, lalu merasa harus berbagi masalah pada mereka yang menanyakan, dan berujung membuka aib rumah tangganya sendiri.
Di kamar, Ica dan Bayu ingin memulai, tapi keadaan mereka saling tak bertatapan.
__ADS_1
"Jadi, apa yang kamu ingin lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" Ica langsung to the point.
Dengan menarik nafas panjang lebih dulu, Bayu mengawali.
"Saya tahu kamu pasti akan menganggap saya tak tahu diri jika mengatakan ini. Tapi, saya tak punya penyelesaian yang lain lagi.Buat saya untuk cinta sama kamu lebih keras lagi. Kamu ingin pernikahan yang hanga satu kali dalam seumur hidup, kan? Saya akan berusaha, menghilangkan rasa yang tak halal ini kepada wanita lain. Udah pernah saya bilang kalau saya punya perasaan ke kama, kan? Tapi, saya bingung perasaan apa itu. Samar-samar seperti cinta, tapi saya tahu itu bukan cinta. Jadi, masih ada peluang untuk memperbaikinya."
"Capek berjuang sendirian, Mas. Kamu aja yang berjuang sana. Saya udah nggak mau lagi ini dilanjutkan. Kalau bisa, secepat mungkin saya pisah dari kamu. Kita juga harus omongin baik-baik ke keluarga soal hubungan pernikahan ini yang harus diakhiri."
"Jangan seenaknya, Raisa. Udah saya bilang, kita harus perbaiki, jangan diakhiri. Apalagi, kamu ingin memberitahu keluarga soal masalah ini. Apa yang telah terbangun dari pernikahan ini akan roboh. Dengan susah payah kedua perusahaan bisa berkembang pesat beberapa bulan ini setelah bekerja sama, setelah pernikahan kita terlaksana. Itu terlalu egois, Raisa. Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di dua perusahaan ini."
"Terserah kamu mau ngomong apa. Saya tahu, kamu memanfaatkan pernikahan ini dengan dua tujuan, memanfaatkannya untuk pelarian, dan yang kedua itu untuk keuntungan dua perusahaan. Saya nggak mau lagi denger. Kita akhiri aja. Saya takut jadi orang yang lebih egois dari ini kalau mau dilanjut." Ica mengakhiri, ingin mengakhiri juga dengan menutupi seluruh badannya dengan selimut, lagi.
"Saya nggak mau dengar itu dari kamu, Mas. Nggak pantas diucapin sama kamu," sindir Ica balik.
"Satu tahun, Ca. Beri saya waktu satu tahun." Bayu tiba-tiba menaikkan volume suaranya agar ia bisa mendominasi dan mendapatkan perhatian Ica.
"Apanya yang satu tahun? Saya mau tidur. Dan jangan panggil saya dengan nama pendek itu lagi. Saya merasa najis kalau kamu menyebutkan nama saya dengan panggilan itu, tapi kamu malah memikirkan wanita lain yang memiliki panggilan yang sama dengan saya. Apalagi, kalau kamu membayangkan bahwa saya adalah wanita itu, itu bahkan lebih buruk lagi."
__ADS_1
"Satu tahun, kamu harus beri saya kesempatan. Segala hal butuh waktu dan proses. Dalam satu tahun itu, saya ingin memantapkan diri untuk menghapus sepenuhnya wanita itu. Kalau kamu nggak mau ikut usaha, silahkan. Saya akan coba memahami kekecewaan kamu. Saya yang akan berjuang selanjutnya, kamu cukup lakukan apa yang kamu suka."
"Lalu, setelah satu tahun, mau diapain, Mas? Gimana kalau kamu nggak berhasil menghapus wanita itu? Gimana kalau kamu nggak berhasil ubah perasaan samar kamu itu jadi perasaan cinta ke saya? Dan gimana kalau setelah satu tahun itu gagal total, usaha yang sia-sia. Karena setelah kamu mengakuinya waktu itu, perasaan kagum dan cinta saya sama kamu tiba-tiba berubah jadi benci. Kalau boleh jujur, pengen banget rasanya kabur dari rumah ini, resign jadi istri dan juga sekretaris kamu, terus memulai hidup baru di mana nggak ada kamu di dalamnya. Tiap ngeliat kamu, hati saya merasa diiris-iris. Mirisnya saya nggak bisa ngelakuin itu gitu aja karena status ini, status sebagai istri kamu. Saya nggak bisa seenaknya keluar rumah, apalagi dengan tujuan ingin pisah selamanya. Ikatan ini membelenggu. Kenapa nggak putuskan aja sekarang, jangan menunggu setahun lagi."
"Saya nggak bilang kalau setelah satu tahun pernikahan ini harus diakhiri jika semua usaha sia-sia. Saya optimis cara ini akan berhasil. Dan perpisahan nggak akan pernah terjadi. Kalau dulu kamu yang udah cinta duluan ke saya mau bikin saya balik cinta ke kamu, kini biarlah gantian saya yang melakukannya, dengan cara saya. Saya akan ubah perasaan benci kamu yang sekarang menjadi perasaan cinta lagi."
Ica jengkel, Bayu menggunakan nada yang begitu meyakinkan.
"Kamu menggunakan skill bernegosiasi kamu lagi. Saya nggak mau percaya dan jatuh ke lubang yang sama."
"Saya benar-benar serius, dan kali ini bukan negosiasi antara dua pihak agar mendapatkan keuntungan. Kali ini saya meminta langsung sebagai seorang manusia yang melakukan kesalahan dan dengan tulus ingin mencoba memperbaikinya. Saya nggak menggunakan skill bicara saya untuk menipu kamu atau menjebak kamu lagi. Tapi ini memang keinginan saya, mempertahankan pernikahan ini, perasaan ini yang saya tak tahu perasaan apa itu, saya ingin mempertahankannya. Raisa, tolong..., beri saya kesempatan sekali lagi. Ini versi terbaik untuk menyelesaikan masalah dua orang seperti kita dengan masalah seperti ini."
Jika magic word itu diucapkan oleh Bayu, seketika Ica tersihir. Keinginannya untuk tetap mengakhiri pernikahan, kini malah berubah ingin memberikan Bayu kesempatan.
"Satu tahun itu terlalu lama, Mas. Saya mau mempersingkat. Kalau satu tahun pernikahan kita kamu belum juga menunjukkan hal apapun ke saya untuk mempertahankan hubungan ini, saya ingin tahu bagaimana reaksi kedua keluarga kalau saya ingin pernikahan ini diakhiri setelah satu tahun pernikahan itu. Nggak ada negosiasi lagi. Saya capek, mau istirahat," ucap Ica mengakhiri. Ia selalu plinplan. Hatinya juga mudah tersentuh jika kata tolong itu telah terucap. Apalagi yang mengucapkannya adalah orang yang paling jarang mengucapkan sejenis magic word itu seperti Bayu, karena sekali terucap, magic word itu benar-benar terdengar sangat bermakna dan mampu mempengaruhi keputusan Ica.
Kemudian, Ica benar-benar langsung terlelap setelah berdiskusi dengan Bayu. Sementara Bayu, ia begitu senang diberikan kesempatan kedua. Ia yang jarang tersenyum saat bersama Ica, secara natural menunjukkan senyum kebahagiaan sekaligus kelegaan karena masih diberi kesempatan. Dalam pikirannya, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Semoga saja itu benar.
__ADS_1
...----------------...