
Bayu dan Ica tidak langsung pulang setelah Ica kabur. Mereka menghabiskan lebih dulu makan siang yang tadi disiapkan. Kemudian pulang dan menghabiskan waktu di rumah.
Ica menghidupkan tv yang layarnya cukup besar. Rupanya, meski berada di daerah terpencil ini, tv mereka sudah smart tv, bisa streaming di sana, jika tidak bisa menonton bioskop.
"Kamu nonton kartun, Ca? Frozen? Serius?"
"Apa sih, Mas? Emangnya salah kalau nonton kartun? Mau bilang kalau kartun cuma buat anak-anak doang, iya?"
"Nggak, sih. Tapi kalau liat kamu yang nonton, saya jadi percaya kalau kamu itu masih anak-anak, belum dewasa. Hahaha."
Bayu duduk dan ikut menonton film kartun itu. Lalu Ica, ia mengambil posisi nyaman dengan mencoba menjadikan paha Bayu sebagai bantalan.
Bayu refleks memainkan dan mengelus-elus kepala Ica lembut seraya fokus melihat film. Sementara Ica, ia sudah berkali-kali melihat kartun itu, jadi, jika ia memilih untuk mengabaikanmu film tersebut dan terbuai dengan kelembutan Bayu tak ada ruginya.
...----------------...
Seharian sudah mereka menghabiskan waktu bersama. Hingga sampai di waktu malam, waktunya mereka istirahat dan melanjutkan agenda "bulan madu" esok.
Ica tentu tak lupa bahwa di sungai tadi ia sudah memancing Bayu. Tapi ketika sampai di rumah, ia malah menahan-nahannya sampai malam. Sebab ia malu, jika ia menyinggung itu lagi, Bayu memiliki segudang alasan lain untuk menolak secara halus.
Rupanya Bayu jiga juga paham. Lantas, dikerjakanlah dua rakaat sholat sunnah sebelum melakukan ritual suci itu.
"Pelukan dulu, ya, Mas? Sweet banget sih," batin Ica saat badannya ditarik Bayu untuk ia dekap erat. Ica membalas pelukan itu, dan kemudian ia cium leher Bayu perlahan, hingga membuat Bayu menatap lurus ke mata Ica.
Keduanya bertatapan lama dan intens. Sampai Ica yang secara alami menutup matanya untuk merasakan hal yang akan terjadi selanjutnya. Bayu pun memulai dengan hal yang romantis, yang Ica tak tahu bahwa sifat romantis Bayu ini sangat natural. Bagaimana tidak, Bayu memulai dengan mengecup kening Ica perlahan dan penuh khidmat, membuat bibir Ica menyunggingkan senyum bahagia. Lantas sudut demi sudut wajah cantik Ica juga ia kecup, kedua kelopak mata, kedua pipi, sudut bibir, sampai ia kecup singkat bibir Ica dan mengembalikan kecupannya di kening sebagai garis awalnya memulai.
__ADS_1
Bayu ikut tersenyum setelah ia melihat Ica tersenyum lebih bahagia seraya menunjukkan deretan giginya yang rapi. Lantas, ia memberi jeda dengan menempelkan kening mereka dan hidung mereka bersamaan.
"I love you, Mas," ucap Ica lirih.
Bayu tersenyum dan menjawab dengan tulus, "I love you more Humaira sayangku."
"I love you most bos galak."
"I love you more than you know sekretaris manja. Ana uhibbuki fillah."
Kalah sudah. Bayu pandai sekali memang merangkai kata. Tapi itu tidak akan keluar kalau bukan Ica duluan yang mengungkapkan cintanya. Jadi, sampai sini kita tahu, siapa yang paling mencintai siapa.
Mereka perlahan pindah ke ranjang. Melanjutkan dengan bibir beradu perlahan dan penuh kelembutan. Merasa gelenyar aneh ada ditubuh mereka, bersamaan dengan banyaknya kupu-kupu yang menyerbu di area perut mereka. Sungguh, ciuman ini begitu dahsyat, hingga keduanya terbuai dibuatnya.
"Apa kamu bisa memulai memberikan hak saya, melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang istri sepenuhnya? Tunjukkan semua yang kamu tutupi, lepas semua busana yang kamu pakai, beri saya nafkah batin! Apa kamu siap?" sekelebat ucapan pahit itu menghiasi kepala Ica. Sampai ia hilang fokus saat bercumbu dengan Bayu, meskipun mereka belum sampai ke penyatuan inti.
"Hey, Ca..., ada apa? Apa kamu belum siap? Kita bisa lakukan kalau kamu beneran siap untuk ini. Saya nggak keberatan, kok," ujar Bayu lembut tepat di wajah Ica.
Ica menggeleng. Menyisakan tanda tanya.
"Coba cerita sama saya, Ca. Kalau bukan itu, jadi soal apa?"
"Ica teringat soal perkataan Mas Bayu yang nyakitin Ica. Maaf, Mas."
"Iya, nggak apa-apa, lanjut cerita. Perkataan saya soal apa, Ca? Bukannya kebanyakan perkataan saya itu nyakitin kamu, ya? Kamu sendiri yang bilang begitu. Hehe." Bayu ingin membuat Ica lebih santai, tapi ternyata tawa Bayu tak mempengaruhi Ica.
__ADS_1
"Kamu pernah bentak Ica, Mas. Soal Ica yang sebenarnya nggak siap kasih kamu nafkah batin. Soal kamu yang suruh Ica lepas busana kalau Ica bener-bener bisa menjalankan peran istri sepenuhnya."
"Ica masih nggak percaya, sekarang kita udah di fase ini. Ica sangat cinta sama Mas Bayu. Mas Bayu juga gitu."
"Terus, apa masalahnya, Ca?"
"Masalahnya, sekarang Ica bingung. Mas Bayu itu sebenarnya yang mana, sih?"
Bayu tersenyum. Ia memilih mendekap Ica dulu dan membuatnya tenang, sebelum melanjutkan bersenggama.
"Dulu saya naif, kelemahan saya ada pada perempuan itu. Sifat pemarah saya, saya percaya hanya perempuan itu yang dapat mengendalikannya. Tapi itu cuma akal-akalan saya aja. Saya cuma cari alasan untuk menganggap bahwa sifat pemarah saya ini nggak salah. Dan waktu itu, saya ingat betul saya pernah bentak kamu seperti itu. Saya minta maaf. Tapi, kelemahan saya sekarang kamu, Ca. Saya tak pernah selembut ini bicara, saya pastikan itu. Dan sifat ini, hanya saya tunjukkan ke kamu saja. Kamu satu-satunya. Saya menyesal pernah membuat memori buruk itu ke kamu. Dan sekarang, biarkan saya menebusnya, ya?"
Bayu mengelus rambut Ica dan mengecup rambut dan kening Ica.
Ica dibiarkan berpikir oleh Bayu sampai ia tenang. Sampai ia bisa berdamai dengan sosok Bayu si bos galak yang dibencinya itu. Lantas menerima Bayu yang sekarang, yang sosoknya lembut dan perhatian, juga romantis dan kadang humoris. Sosok Bayu di sosok yang Ica cintai.
Sampai akhirnya Ica tenang dan berkata, "Mas, Ica siap. Makasih banyak udah nenangin Ica, ya, Mas."
"Iya, sama-sama, sayang. I love you, Ca."
"I love you too."
Dan semua di mulai lagi dengan perlahan. Bayu benar-benar melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Sehingga Ica merasa begitu dicintai oleh Bayu. Bukan seolah kegiatan intim ini hanya keinginan berahi Bayu semata. Jadi, Ica tak usah pusing lagi karena jelas-jelas dari semua perlakuan yang Bayu berikan, terlihat bahwa Bayu sangat amat mencintai Ica. Tulus. Dan tentang nafkah batin ini, keduanya merasa begitu bahagia telah merampungkannya setelah lama tertunda oleh satu dan lain hal.
...----------------...
__ADS_1