
Di rumah sikap Bayu sangat manis, tapi saat tiba di kantor rasanya tidak ada lagi kemanisan yang tersisa. Baru pulang dinas, Bayu memantau kinerja bawahannya yang tak becus menurutnya, kemudian ia menjadi singa lagi untuk mendisiplinkan mereka. Baru pagi begini, divisi humas sudah ramai karena amarah Bayu. Sampai pukul tiga sore pun, ada saja bawahan Bayu yang masih harus disiplinkan karena membuat kesalahan lagi. Hari ini, seisi divisi habis kena marah, tak ada seorang pun yang tak membuat kesalahan.
"Ini selalu terjadi saat saya pergi dinas. Kenapa kinerja mereka menurun saat tak diawasi?" ucap Bayu frustasi saat kembali ke ruangannya setelah selesai berurusan dengan mereka.
Ica di sana, menemani Bayu juga. Bayu terlihat gusar sekarang. Ingin menghibur, Ica tak tahu harus memosisikan diri sebagai sekretaris atau istri Bayu. Jika ia bisa pun, ia takut bukan menghibur Bayu tapi malah memperkeruh suasana hati Bayu.
"Anda ingin apa, Pak? Apakah para karyawan dituntut harus kerja dengan sempurna seperti Anda? Lagian, kalau saya perhatikan, mereka nggak buat kesalahan fatal, kok," ujar Ica membela pihak sana. Ica pikir, Bayu sedang mengajaknya mengungkapkan pendapat.
"Biarkan saya sendiri dulu," Bayu mengusir secara halus. Ica meninggalkan Bayu untuk membiarkannya mendinginkan kepala. Tampaknya, mengutarakan pendapat tadi sama sekali tak dapat menghibur Bayu.
"Anda bisa mengandalkan saya kapanpun Anda mau. Baik sebagai sekretaris ataupun sebagai istri," tulis Ica di chat saat Ica tak kunjung dipanggil Bayu untuk melakukan pekerjaan apapun setelah satu jam. Normalnya, Ica harus senang karena lebih senggang setelah banyak melakukan pekerjaan bersama Bayu, tapi ia malah tidak nyaman karena Bayu tak memberikannya pekerjaan untuk dikerjakan. Ia mengkhawatirkan Bayu. Memang, selama ini Ica menganggap biasa saja saat Bayu meminta waktu untuk sendiri saat Ica baru-baru saja menjadi sekretaris, tapi karena Ica sekarang sudah merangkap dua profesi sekaligus yang berkaitan dengan Bayu, Ica pikir sikap Bayu ini tak biasa dan ingin andil untuk membuat Bayu menjadi Bayu yang biasanya. Ica melihat hari ini Bayu sudah over work dan kebanyakan marah. Meskipun setiap hari suka marah-marah, hari ini marahnya terdengar lebih tajam dari biasanya.
Tidak menerima balasan chat apapun setelah satu jam mengirim chat itu, Ica akhirnya kembali ke ruangan Bayu. Melihat keadaan Bayu langsung seperti ini, membuat Ica syok. Terlihat Bayu tampak sangat sibuk lebih dari biasanya. Mungkin ia menangani langsung kesalahan yang telah dibuat bawahannya. Pantas saja tak ada balasan chat itu. Luar biasa, Ica melihat wajah baru Bayu yang tampak sangat lelah dan stress. Si perfeksionis dan gila kerja ini bisa stress juga ternyata, pikir Ica.
Setelah duduk, Ica mengajukan diri untuk membantu Bayu. Sepertinya, dikerjakan sendiri sangat berat. Meskipun begitu, Ica hanya memberikan tugas kecil ke Ica seperti membaca isi dokumen dan memeriksa typo. Kadang-kadang meminta untuk diambilkan dokumen yang jauh dari jangkauan tangan Bayu. Ica tidak terlibat langsung untuk mengurus pekerjaan Bayu, itu bukan kapabilitasnya. Bayu hanya tak ingin menambah kesalahan lagi jika menyerahkan langsung ke orang lain pekerjaannya itu.
"Mau ke panti asuhan setelah pulang kantor nanti, Pak? Anda pernah bilang lain kali akan ikut berkunjung ke panti asuhan itu. Anak-anak sepertinya penasaran dengan Anda. Gimana, Pak? Sepengalaman saya, setiap datang ke panti, stress saya langsung hilang. Mau coba?" Ica berusaha buka suara saat tugas membantu Bayu lebih santai. Sudah ada setengah jam membantu, tidak ada yang mereka bicarakan.
Mengajak ke panti, usulan yang aneh. Ica memikirkan kalau Bayu sama seperti dirinya. Dapat langsung hilang stressnya seperti anak-anak panti. Tapi, tidak seharusnya Ica berpikir begitu. Bisa jadi Bayu malah tambah stress. Namun, Ica telah melakukan yang terbaik. Ia tak bisa menghibur atau membuat Bayu lebih baik dengan kemampuannya. Kemudian, ia berharap anak-anak panti dapat menghibur Bayu dan menjadikan Bayu lebih baik kondisinya, sama seperti Ica yang setelah pulang dari panti merasakan suasana hati yang lebih baik.
"Saya nggak lagi stress!" bantah Bayu.
"Ooh, ya udah, deh. Kapan-kapan aja," balas Ica.
__ADS_1
"Saya nggak bilang kalau nggak akan ke sana!"
"Cewek apa cowok sih dia? Aku disuruh peka? Seriusan?" batin Ica kesal. Bayu sangat ingin dimengerti seperti cewek, rasanya peran mereka terbalik.
"Jadi..., apa Anda mau ke sana? Kalau nggak, bukan masalah, sih. Kapan-kapan kita pergi bareng, nggak mesti hari ini kalau Anda lagi nggak mau." Ica berusaha menebak apa yang Bayu maksudkan dan mengumpulkannya begitu saja.
"Kamu gimana, sih? Udah ngajak, tapi malah ngomong kayak gitu!" Lagi-lagi, jawaban Bayu malah membuat Ica makin kesal.
"Maaf, nih, Pak. Kayaknya saya nggak bisa tahu apa yang Anda mau kalau nggak Anda ucapkan dengan jelas," ucap Ica tegas. Ia memutar bola matanya, tak kuat untuk berusaha mengerti makhluk satu ini.
"Gitu aja nggak ngerti!"
"Lah?"
"Tinggal ngomong gitu aja susah! Hadeh...," batin Ica.
...----------------...
"Raisa, kamu pulang aja duluan. Saya maghrib di kantor," ucap Bayu. Tak terasa sudah pukul setengah enam sore, jam produktif kantor sudah berakhir, waktunya pulang. Namun, Bayu tak kunjung selesai dengan pekerjaannya. Ia mengkhawatirkan Ica yang akan menunggu lama dan rencana ke pantinya gagal karena terlalu larut.
"Hah? Tapi kita mau ke panti, Pak. Bareng aja. Saya bisa nunggu Anda sampai selesai kerjanya, kok."
"Masalah itu, apa anak-anak panti nggak ada kegiatan saat malam hari? Saya ragu untuk datang ke sana, tapi mereka nggak punya waktu untuk main."
__ADS_1
"Aa.., iya bener. Saya lupa. Maaf, Pak. Hari ini mungkin anak-anak panti ada banyak kegiatan. Kita ke sana hari Minggu aja, Pak. Saya biasanya kebanyakan mengunjungi mereka di akhir pekan, sih. Jadi, bisa punya banyak waktu buat main sama mereka. Karena libur kerja juga, bisa datang dari abis dzuhur."
"Hari Minggu? Saya nggak bisa."
"Kenapa, Pak? Bukannya Anda juga libur?"
"Ada pekerjaan. Saya harus menyelesaikannya, kemudian melanjutkannya di ruang kerja rumah kita."
"Pekerjaan?" batin Ica rada ragu dengan itu. Ia teringat, Caca mengatakan akan melakukan pertemuan dengan Bayu di akhir pekan. Mungkin itu maksud pekerjaan yang dibilang Bayu, pikir Ica.
"Di ruang kerja aja? Apa harus keluar juga?" tanya Ica memastikan.
"Saya harusnya keluar juga, sih." Benar, tebakan Ica sudah tepat sasaran. Mengingat ucapan Caca waktu itu membuat Ica kesal. Pertemuan di mana sebenarnya Ica diajak langsung untuk ikut untuk membuat suasana makin "seru" versi Caca.
"Kalau gitu, lebih baik Anda nggak usah ikut aja. Anda harus menyelesaikan pekerjaan itu, kan? Lagian, Anda manusia yang gila kerja. Pekerjaan adalah prioritas Anda. Saya nggak masalah kalau nggak bisa ke panti sama-sama.Kalau saya mau, saya bisa sendiri. Kita bisa mengunjungi mereka bersama kapan-kapan." Ica meluapkan amarahnya saat ucapan Caca terlintas jelas di pikirannya. Selain memprioritaskan pekerjaan, Bayu juga lebih memprioritaskan Caca, cinta pertamanya, daripada menghabiskan waktu dengan istri sendiri. Padahal, Ica kira hubungan dirinya dan Bayu sudah ada perkembangan sejak semalam, mungkin ia salah paham dan terlalu percaya diri tentang itu. Bagaimanapun juga, Caca lebih unggul dari dirinya, itu yang ia pikirkan.
"Raisa! Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu sangat marah?" Bayu pun ikut terkontaminasi amarah Ica.
"Pikir aja sendiri! Jangan buat saya terus yang mikirin apa yang Anda maksudkan," ucap Ica sinis. Tapi, Bayu benar-benar memikirkannya, dengan logikanya. Kemudian berusaha mengembalikan suasana damai untuk memperlancar obrolan ini. Memutuskan bicara selembut mungkin agar ucapannya dapat dimengerti dengan jelas saat Ica dalam keadaan marah seperti ini.
"Maaf, Raisa. Saya sudah membuat kamu berpikir seperti itu. Urusan pekerjaan, saya memang harus keluar di hari Minggu. Tapi itu bukan pekerjaan yang terlalu penting, apalagi prioritas. Saya bisa mengerjakan semuanya di ruang kerja. Mengunjungi panti asuhan bersama istri saya lebih penting. Setelah dipikirkan, ayo kita pergi ke panti, di hari Minggu. Setelah makan siang di rumah, kan?" ujar Bayu. Ica langsung terpana. Tiba-tiba Bayu yang lembut itu menunjukkan dirinya. Setelah terakhir kali kelembutan itu ditunjukkan saat berdiskusi tentang menerima perjodohan mereka. Sisi ini yang membuat Ica jatuh, dan terpengaruh dengan ucapannya. Kali ini pun, Bayu berhasil membuat Ica jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kemarahan Ica hilang seketika. Bayu memang pandai berbicara.
...----------------...
__ADS_1