
Bayu dan Ica tidur dengan posisi saling membelakangi. Posisi ini memang sudah sering mereka lakukan, tapi kali ini rasanya berbeda karena mereka melakukannya karena tak ingin dekat satu sama lain, tapi harus tidur di ranjang yang sama. Mereka bukan anak-anak lagi yang ingin pisah ranjang hanya karena bermasalah dengan pasangan. Rasanya begitu canggung, tapi mereka diharuskan tidur dalam posisi dan kecanggungan ini.
Hari Minggu itu tak ada percakapan antara Bayu dan Ica. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Makan di tempat yang berbeda, bukan di ruang makan tempat mereka berdua biasa makan bersama. Sate yang dibelikan Bayu untuk Ica ia berikan untuk Bi Ana, Ica merasa tak sudi memakan makanan pemberian Bayu, entah kenapa.
Siang hari setelah makan siang di kandang masing-masing, Bayu langsung kembali bekerja di ruang kerjanya, sementara Ica pergi dari rumah untuk mengunjungi anak-anak panti sekalian untuk menghibur dirinya. Ica juga berniat pulang telat hari ini, toh, ia juga mengendarai mobilnya sendiri. Jadi, tak ada yang harus ditakutkan.
Seperti biasa, Ica menemui kesenangan saat sampai di panti. Berada di panti membuatnya melupakan sejenak semua masalahnya.
"Nak Ica..., kamu kelihatannya sayang banget sama anak-anak. Kalau udah dikasih rezekinya, mau anak cewek atau cowok?" Ibu panti menginterupsi saat Ica sedang asiknya tertawa melihat kelucuan anak-anak panti. Namun, tawa senangnya tadi jadi ia paksakan. Sebab, bahasan ini agak menyinggung Ica, karena tak langsung mengingatkan Ica kalau dirinya masih terjaga mahkotanya, padahal telah menikah.
"Haha, si Ibu bisa aja nanya begituan. Yang mana yang dikasih aja, deh, Bu, Ica terima dan akan Ica sayangi sepenuh hati."
"Tapi, kalau punya anak itu kamu harus pantai berbagi cinta kamu antara anak dan suami. Kadang suami suka cemburu sama anak sendiri karena si ibu lebih sayang anaknya daripada suaminya. Menurut pengalaman ibu, sih, ini, hahaha."
Tawa yang tadi Ica paksakan, kini menjadi tawa palsu. Sekarang, bahasan ini malah mengingatkan pada Bayu yang tak cinta padanya. Ia harusnya murung kalau tak ada Ibu panti di sini.
__ADS_1
"Hahaha. Kalau gitu, kayaknya Ica harus belajar banyak, nih, dari Ibu yang udah punya pengalaman banyak."
"Wih..., itu sih aman, Nak. Ibu siap sedia sebagai mentor kamu."
Tawa palsu Ica hilang bersamaan saat hilangnya Ibu panti untuk bersiap mengerjakan hal lain. Seketika, ia kembali berpikir, masalahnya teringat lagi meski tadi telah berhasil ia lupakan. Pikirannya soal Bayu yang seperti itu kembali muncul.
"Aku pikir pernikahan kita yang terjadi tanpa cinta ini udah ada kemajuan, Mas. Kita tinggal di satu atap, kita tidur di ranjang yang sama. Kita juga sering shalat berjamaah, aku menyalami tangan kamu dan kamu mengecup keningku. Aku juga telah berani lebih dulu mengecup pipi kamu. Bahkan, aku duluan yang mengambil ciuman pertama kamu. Aku juga tak perlu menutupi rambutku lagi dengan hijab saat ada kamu meskipun belum lama ini kulakukan. Aku pikir kita telah menjadi suami istri yang biasa karena telah melakukan banyak hal itu, meskipun kita menikah karena dijodohkan dan tanpa cinta. Aku pikir, sejak kamu tiba-tiba memelukku dengan erat saat pulang dari dinas itu dan membeli oleh-oleh untukku, ada sebuah perhatian beserta cinta di sana. Namun, apa aku salah berpikir berlebihan seperti itu? Toh, itu hanya sebuah pelukan, tidak lebih." Ica bergelut dengan batinnya.
Ica merasa dirinya sama saja seperti Bayu. Ia berkunjung ke panti ini sebagai pelariannya dari sebuah masalah yang dihadapinya. Ica memang selalu jadi pengecut. Tak pernah sekalipun ia merasa bisa menyelesaikan masalah sendirian. Ingin menceritakannya dengan sang bunda yang selama ini menjadi teman curhatnya, ia takut malah membuka aib rumah tangganya, begitu pula dengan bercerita dengan orang lain. Masalah rumah tangga? Terdengar berlebihan. Apakah pernikahan ini bisa disebut rumah tangga? Ica malah menganggap rendah rumah tangganya.
"Jangan jadi pengecut, Ica. Lebih baik kamu pulang, selesaikan baik-baik dengan Mas Bayu. Jika memang tak ada lagi yang bisa dipertahankan, silahkan diakhiri," sisi malaikat Ica muncul.
...----------------...
"Mas Bayu, ayo makan, sekalian bicara," ujar Ica saat menjemput Bayu di ruangan kerja.
__ADS_1
Bayu sebenarnya sudah makan malam, tapi ia tetap mengikuti kata Ica. Lagian, ini inisiatif Ica untuk bicara lebih dulu, jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Ica juga membeli sate untuk mereka santap.
"Tadi saya ke panti. Anak-anak sama semua staf kirim salam ke kamu katanya," ujar Ica saat keduanya mulai menyantap sate itu. Kemudian Bayu menjawab salamnya dan memilih diam setelahnya. Membiarkan Ica bercerita sampai selesai. Saat ia merenung saat bekerja di ruangan kerjanya tadi, ia sadar selama ini ia tak benar-benar mendengarkan argumen Ica. Kali ini ia memutuskan akan mendengarkan Ica dulu sampai selesai. Meskipun ia agak risih dengan kata ganti "saya" untuk memanggil dirinya sendiri yang sebelumnya ia terbiasa menyebut dengan namanya sendiri, "Ica".
"Terus, Ibu panti kayaknya ngegoda saya. Katanya saya kalau mau dikasih kesempatan memilih, mau anak cewek atau cowok. Saya cuma ketawa nanggapin itu," lanjut Ica bercerita. Kemudian ia menjedanya untuk menyuap satenya lagi sebelum lanjut bercerita.
Bayu mulai paham bagaimana alur cerita yang akan diceritakan Ica. Ia sudah bersiap untuk kemungkinan terpahit yang akan terjadi saat Ica melanjutkan ceritanya.
"Tau nggak, Mas, yang lebih anehnya lagi? Ibu panti bilang kalau udah punya anak itu harus pinter bagi cintanya antara anak dan suami. Kadang suami suka cemburu kalau si ibu lebih sayang sama anaknya daripada suaminya sendiri. Aneh banget, kan? Saya lagi-lagi cuma bisa ketawa karena lucu. Habisnya, Bu panti nggak tahu, sih, gimana hubungan kita. Gimana mau cemburu, lah suaminya si ibu nggak ada cinta sama sekali ke ibunya. Dan lagi, gimana mau punya anak? Lah wong calon ibunya sendiri nggak pernah dicintai sedikitpun sama suaminya. Nggak ada cinta, nggak akan ada hal yang menjurus untuk membuat anak itu lahir, kan? Hahaha, lucu banget sih, Ibu panti itu. Bahkan, Ibu panti katanya bersedia jadi mentor untuk saya kalau mau konsultasi soal itu. Hahahahahaha, lucu banget, kan? Saya rasa, Ibu panti itu nggak akan pernah jadi mentor saya, karena kesempatan yang dibilang beliau nggak akan pernah datang. Nyatanya, suami Raisa malah tak pernah berpaling hati dari rekan bisnisnya itu. Padahal, saya pikir, istri sah punya peluang lebih untuk memenangkan hati suaminya. Tapi, asli..., lucu banget ya. Gimana menurut kamu, Mas?"
"Maksud kamu apa, Raisa?" Bayu berhenti mengunyah makanannya. Tiba-tiba selera makannya hilang setelah mendengar Ica bercerita dengan nada menyindir seperti itu.
Ica tak menjawab. Ia malah fokus menghabiskan sate padang yang merupakan makanan kesukaannya. Ia juga lahap karena lapar dan kelelahan sehabis berinteraksi dengan anak-anak panti.
"Lelucon macam apa yang kamu ceritakan?" Kini Bayu menaikkan nada bicaranya, karena terlihat Ica tak menanggapi dengan serius. Padahal, Ica sendiri yang meminta pendapat Bayu tadi.
__ADS_1
"Mas..., kita akhiri aja pernikahan ini, gimana? Saya nggak bisa buat kamu jatuh cinta sama saya, jadi buat apa pernikahan ini dilanjutkan?"
...----------------...