Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Bebas


__ADS_3

Setengah tahun sudah terlewati, usia pernikahan Ica dan Bayu kini sudah tujuh bulan. Setelah mengusulkan penyelesaian versi Bayu, Ica benar-benar tak melakukannya apapun. Dua orang yang terhubung melalui pernikahan ini terlihat seperti orang asing yang tinggal satu atap.


Formalitas seperti makan di meja makan, atau sekedar bertegur sapa di rumah sudah tak ada lagi. Bahkan shalat pun, jika keduanya di rumah, mereka melakukannya sendiri-sendiri. Ica merasa tak sudi diimami Bayu, makanya tiap tiba waktunya, ia selalu lebih dulu melaksanakan shalat, baik yang wajib ataupun yang sunnah. Tentu saja aktivitas suami istri seperti salim tangan dan kecup kening juga menghilang bersamaan.


Soal di kantor, Ica dan Bayu hanya menjalankan profesi mereka saja dengan profesional. Tidak ada mencampuri baurkan persoalan rumah tangga.


"Dirga, apa bener berita itu? Istri kamu udah hamil?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Raka, yang mendengar kabar tersebut dari sahabatnya, Andi.


"Alhamdulillah, Om, dikasih rezekinya cepat," ucap Dirga menanggapi.


"Ma syaa Allah, subur banget, ya. Baru tiga bulan nikah udah hamil," giliran Manda menanggapi.


Benar, pernikahan Dirga dengan istrinya sudah berjalan tiga bulan. Tepat setelah Ica dan Bayu memutuskan untuk memperbaiki pernikahan mereka, seminggu setelah Ica dan Bayu selesai membicarakan cara menyelesaikan pernikahan mereka yang hampir berakhir itu.

__ADS_1


Menghadiri pernikahan Dirga sangat sulit untuk Ica. Di mana ia harus berpura-pura bahagia dan berperilaku sebagai istri Bayu yang seperti biasanya, sementara hubungannya dengan Bayu masih renggang saat itu. Ia juga was-was apabila Caca juga diundang di pernikahan Dirga, untungnya Bayu meminta Dirga agar Caca tak diundang. Belum lagi ada beberapa orang yang masih termasuk keluarga yang dengan berani menanyakan soal kehamilan kepada Ica. Menghadiri pernikahan Dirga waktu itu sangat menguras energi dan emosi Ica.


Kini Ica dan Bayu menghadiri makan malam bersama di kediaman Surya Group, bukan dua keluarga lagi, melainkan tiga keluarga. Meskipun bukan dari kalangan keluarga yang memiliki perusahaan, istri Dirga ternyata merupakan putri dari sepasang dokter yang dengan otomatis dapat mematahkan aturan tentang seorang pewaris harus menikah dengan seorang pewaris juga. Makan malam dengan tiga keluarga ini bukan pertama kali dilakukan, karena makan malam bersama ini rutin dilakukan tiap bulan, dan tiap dua minggu sekali antara dua keluarga—antara keluarga Ica dan Bayu, serta antara keluarga Dirga dan istrinya. Namun, kali ini terasa lebih mencekik Ica karena bahasannya sudah berbeda. Di mana Ica harus terlihat bahagia atas kehamilan istri orang, sementara dirinya sedang tak baik-baik saja dengan suaminya. Pasti orang-orang di meja makan ini akan menyinggung soal kehamilan Ica juga.


Mereka membicarakan umur kehamilan, kemudian merencanakan untuk melakukan pengajian di kediaman dua keluarga sebagai bentuk syukur mereka. Ica tak ikut mengobrol, ia hanya diam dan menunduk, berusaha menghapus keberadaannya agar tidak menjadi bagian dari obrolan mereka.


...----------------...


"Raisa, obrolan tadi jangan dijadikan beban. Sekarang kamu hanya perlu istirahat agar besok kamu fresh saat bekerja. Kamu juga gampang sakit kalau terlalu banyak pikiran. Saya nggak mau kamu sakit," ujar Bayu yang sadar bahwa Ica masih memikirkan topik itu. Tapi Bayu tak sadar, kaitannya dengan obrolan itu adalah berakhirnya pernikahan mereka. Sudah tak banyak lagi waktu Bayu untuk berusaha. Sementara Ica, ia masih tak melakukan apa-apa. Mungkin kebenciannya terhadap Bayu masih besar, hingga setiap perhatian yang Bayu berikan tak pernah dihargai oleh Ica.


Bayu sudah melakukan usaha semaksimal mungkin setelah mengusulkan penyelesaian masalah itu. Ia sudah tak meminta Ica membelikannya sarapan yang bermaksud meringankan pekerjaan Ica. Bayu juga tak memaksa Ica untuk berangkat bersama ke kantor, karena Ica selalu berangkat lebih dulu dengan mobilnya. Bayu berusaha memberikan perhatian yang lebih dari sebelumnya, mengajak Ica mengobrol lebih dulu meskipun ucapannya seringkali tak ditanggapi Ica. Ia juga harus menerima dan menahan rasa sakit saat diperlakukan seperti orang asing oleh Ica saat di rumah. Berusaha menerima dan terus berusaha membuat Ica kembali mencintainya dengan cara apapun, meskipun Icanya malah membalas dingin semua usaha Bayu.


Bayu mulai ragu dengan tenggat waktunya. Kurang dari setengah tahun lagi, jika ia tak berhasil, ia harus menyerahkan keputusannya pada Ica tentang pernikahan mereka. Padahal, ia sudah dekat dengan jawaban, tentang perasaan sakit ini jika diabaikan oleh Ica, apalagi kalau bukan cinta? Namun, membuat Ica kembali mencintainya itu tidaklah mudah.

__ADS_1


Bayu menyadari Ica yang kegelisahan. Sebentar ia menarik selimutnya, sebentar ia menurunkan selimutnya.


"Raisa, kamu belum tidur? Mau mendengar tentang masa lalu saya dan Caca? Kalau dipikir-pikir, saya belum menceritakan itu ke kamu. Pembicaraan waktu itu pun, kamu hanya tahu kalau saya masih punya rasa ke Caca, tapi kamu nggak tahu alasan dibalik itu semua."


"Udah malam. Saya nggak mau denger. Mau tidur sekarang," balas Ica dingin. Ia selalu menjawab dingin ke Bayu sejak saat itu.


"Saya memang berkata ke kamu kalau kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka selama saya berjuang. Tapi, kalau boleh jujur, sikap bebas kamu ini bukan sekedar bebas, kamu bahkan tak menghargai saya. Saya terima jika kamu tak mau menghargai saya sebagai suami kamu, tapi kamu juga tak menghargai saya sebagai manusia."


"Jangan bilang seperti itu kalau kamunya juga gitu. Setelah kita menikah, apa kamu juga menghargai saya sebagai manusia? Semua sikap kamu ke saya, nggak pernah saya merasa dihargai sebagai manusia. Kamu berhak mendapatkan balasannya." Jika tak membalas dengan dingin, Ica selalu berkata seperti ini, mengungkit bagaimana cara Bayu memperlakukannya dulu. Dan tentu, Bayu tak akan membalas soal itu karena ia harus memahami kekecewaan Ica meskipun dirinya yang dulu akan dengan lantang mendebat argumen Ica.


"Ya udah, mungkin kamu lagi capek. Saya nggak mau maksa. Kalau kamu susah tidur, nggak masalah kalau kamu mau atasi itu dengan cara kamu. Bisa jadi kalau saya menceritakan masa lalu, kamu malah makin nggak bisa tidur," balas Bayu lembut. Ica yang sudah membelakangi Bayu di ranjang merasakan di sampingnya Bayu juga mengubah posisi tidurnya yang awalnya menghadap ke punggung Ica, kini beralih untuk membelakangi Ica juga.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2