
Setelah berjalan selama lima belas menit dengan kecepatan rata-rata enam puluh kilometer per jam, pasutri itu kini sudah tiba di pusat kota daerah mereka tinggal. Cukup jauh memang.
Lantas, Bayu menepikan motornya di sebuah warung makan yang menjual sate. Sayangnya mereka tidak menjual sate padang—makanan kesukaan Ica.
"Mas, Ica baca tadi, memang jual sate di sini. Tapi sate kacang. Udah capek Ica baca, di dalam menu juga nggak ada bacaannya sate padang. Cari tempat lain aja, boleh, nggak, Mas? Yang jual sate padang." Ica mengutarakan keluhannya. Namun, sudah terlambat. Mereka sudah duduk di salah satu tempat lesehan. Bayu yang seperti itu pasti tidak enakan jika pergi tanpa membeli apapun dari warung makan ini.
Bayu lebih memilih diam. Kemudian ia berdiri mendatangi penjual, meninggalkan Ica yang dalam hatinya sudah agak jengkel.
Beberapa saat kemudian, Bayu kembali. Ica cukup sebal ditinggalkan Bayu. Karena ia pikir, Bayu akan kembali setelah memesan makanan, tapi ia malah ditinggal keluar warung setelah memesan makanan dengan si pemilik warung.
"Mas, lama banget, sih. Pergi keluar nggak bilang-bilang Ica," ucap Ica dengan wajah cemberutnya.
Tak lama Bayu duduk kembali, pemilik warung langsung mengantarkan makanan beserta minuman yang sudah di pesan Bayu tadi.
Ica keheranan. Pasalnya, Si Bapak penjual membawa makanan yang tidak ada di menu. Satu sate kacang, dan satunya lagi..., sate padang.
"Makasih banyak, ya, Pak," ucap Bayu dengan sopan saat menyambut si bapak.
Bayu tak mau mendengar apapun dari Ica. Terlihat pula wajah Bayu yang seperti dipasangi barikade agar Ica tak menerobos dengan bertanya banyak hal atas keheranannya.
"Sate padang ini....," ucap Ica menggantung. Ia melirik Bayu yang sudah melahap duluan sate kacangnya. Yang kemudian Bayu sadar, dan memberikan tatapan tajam. Yang seolah mengatakan, "jangan banyak bicara, makan saja!"
Ica langsung mengalihkan pandangan. Tak ingin memancing kegaduhan dengan Bayu yang mode galaknya sedang on itu.
"Ya udah lah. Ngikut aja. Yang penting sate padang udah di pandang. Daripada nyari mati sama si bos yang mode galaknya baru on, kan?" batin Ica mencari aman.
__ADS_1
...----------------...
"Mau kemana lagi, Mas?"
"Terserah saya, dong," jawab Bayu angkuh juga ketus.
Setelah makan sate tadi, keduanya tak ada mengobrol karena fokus menikmati makanan dan suasana sekitar.
Bayu bahkan sempat akan meninggalkan Ica lagi sesaat setelah ia membayar kepada si bapak pemilik warung. Ica mau protes, tapi ia tak mau berdebat dengan Bayu di mode ini. Ia tahu ujung-ujungnya ia akan kalah. Ya..., contohnya sekarang. Ica baik-baik bicaranya, tapi di jawab ketus oleh manusia yang berubah jadi singa yang bersiap menerkam mangsa.
Di perjalanan, Bayu membawa motor dengan amat kencang. Ia mungkin lupa soal Ica. Jantung Ica begitu degdegan, takut ada kecelakaan menimpanya. Ia sendiri enggan sekaligus gengsi memeluk Bayu. Angkuh, seolah tak butuh itu.
Hingga akhirnya ada momen yang memaksanya memeluk Bayu dengan erat dari belakang. Kecepatan tinggi Bayu yang dipadukan dengan jalanan yang banyak gundukan nya. Ica menutup mata dan menyenderkan kepalanya di bahu kiri Bayu.
Dan akhirnya Bayu mengurangi kecepatan motornya. Pelan-pelan pula Ica akhirnya membuka matanya, dan mengendurkan pelukannya. Namun, pelukan itu ditahan oleh Bayu. Ia menahannya dengan tangannya, agar Ica tetap mengeratkan pelukan itu.
Dalam diam, mereka melaju dengan kecepatan sedang. Ica dan Bayu sama-sama menikmati kencan mereka kali ini. Naik motor berdua seperti ini kenapa begitu menyenangkan? pikir Ica.
Dalam momen bahagia ini, Ica merasa harus melakukan sesuatu.
Cup
Ya, yang harus Ica lakukan adalah mengecup Bayu untuk menumpahkan kasih sayangnya. Kasih sayangnya pada Bayu seorang sudah tumpah-tumpah minta disalurkan. Di momen bahagia ini tentunya.
Pipi kiri Bayu telah dikecup sekali oleh Ica. Merasa tak puas, Ica bahkan mengecup beberapa kali pipi yang sama, juga geram dengan Bayu yang memasang wajah polos, poker face yang meskipun tak nampak, Ica benar menebaknya.
__ADS_1
"Mas, ini kecupan Ica nggak dibales, ceritanya?" ujar Ica dengan wajah cemberutnya.
Bayu akhirnya tersenyum, sangat lebar. Ia bukan lupa soal Ica dibelakangnya. Ia memang sengaja membuat Ica terjatuh sejatuh-jatuhnya pada Bayu. Memanfaatkan suasana dan celah agar ia menang. Dan terbukti ia berhasil. Ia pandai sekali menggunakan strategi.
Bukannya membalas ucapan Ica yang masih cemberut itu, Bayu membalasnya dengan aksi. Ia mengemudikan motor lebih pelan lagi agar ia bias menyupir dengan satu tangan. Lantas, tangan kirinya itu ia letakkan di tangan Ica yang sudah memeluknya erat. Kemudian dengan lembut ia genggam dan mengelus tangan itu lembut dan penuh sayang. Lantas, tangan itu ia pindahkan ke kepala Ica yang sudah menempel di bahu kirinya untuk ia dekatkan sedikit lagi ke wajahnya. Dan memberikan satu kecupan yang penuh cinta di sana. Hingga Ica seperti melayang rasanya.
Bayu mengendurkan pelukan Ica dengan mengambil tangan kiri Ica. Lalu ia genggam tangan itu seraya mengusap-usapnya. Ia cium tangan sang istri berkali-kali sampai membuat rona pipi Ica kian memerah. Sampai ia kembalikan lagi tangan Ica untuk memeluknya lebih erat, serta mengakhiri dengan mengecup Ica lagi. Karena setelah ini ia akan membawa Ica ke suatu tempat lagi.
"Kalau dipikir-pikir, Mas Bayu baru kali ini genggam tangan Ica, ya, Mas? Kok Ica candu banget? Boleh genggam tangan Mas lagi, nggak?" ujar Ica dengan bahagia.
"Pertama kali? Astagaaa, ingatan kamu lemah sekali," balas Bayu seraya mengambil tangan Ica lagi untuk digenggam dan ia usap lembut.
"Iyaa, sih, bukan yang pertama kalau diinget-inget. Tapi, yang sekarang berasa banget. Jadi nggak mau lepasin. Hehe...," jawab Ica. Lalu tiba-tiba, Bayu merasa ingin sekali mengecup istri manjanya itu. Dan terjadi. Kali ini ia bukan cuma sekali memberi kecupan di pipi Ica, melainkan beberapa kali dan diakhiri satu kecupan agak lama di akhirnya.
"Siapa yang nggak bahagia coba kalau diginiin? Biarlah kita di antah berantah. Asal sama kamu, aku bahagia, Mas," ucap senang Ica dalam hati.
"Kita mau ke mana lagi, Mas? Hmm?"
Bayu tersenyum, tak langsung menjawab.
"Mas ih, ditanyain malah dikacangin! Dasar!" umpat Ica. Namun, Bayu malah tertawa mendengar Ica mengumpat dengan lucu seperti itu. Bagaimana tidak lucu, wajahnya ia gembulkan seraya membuat wajah yang cemberut.
"Kalau saya bilang kita mau mojok, gimana?"
"Hah? Mojok?"
__ADS_1
...----------------...