
"Mas tadi bilang apa? Ica tadi nggak salah denger, kan?"
"Ya udah, saya ulangi. Kalau saya bilang kita mau mojok, reaksi kamu gimana?"
"Astaghfirullah, Mas. Ica kira kamu polos. Ternyata kamu pinter juga menyembunyikannya dengan sok polos kamu itu. Kok tahu kata mojok, sih, Mas? Lucu banget, deh."
"Lucu dari mana?"
"Lucu aja, soalnya kata-kata itu kayak nggak cocok aja gitu kamu ucapin."
"Lho, kenapa nggak cocok?"
"Ya, secara, kan, kamu itu nampaknya berwibawa banget, ya? Abis itu gelar S2 kamu jadi kayak nggak bisa dipercaya aja. Ahahhaa."
"Apa ada hubungannya sama pendidikan, ya? Kayaknya bercandaan kamu nggak lucu!" Terdengar nada ngambek di sana. Bukannya marah seperti biasanya jika suasana hati Bayu sedang tak bahagia, ia malah diam seribu bahasa kali ini.
Meskipun didiamkan oleh Bayu, Ica tetap mengeratkan pelukannya. Ia tak mengerti kenapa Bayu marah. Tapi biarlah begini dahulu, berharap dengan memeluk Bayu erat akan meredakan amarahnya.
...----------------...
Mereka sampai di rumah. Suatu tempat yang hendak didatangi tidak jadi didatangi.
__ADS_1
Berakhir di rumah sampai malam mencekam.
Bayu tetap menjalankan sholat witir dan menyuruh Ica mengerjakannya. Tapi setelahnya tak ada lagi percakapan. Hingga keduanya berada di ranjang dan saling membelakangi.
"Mas, belum tidur, kan?" ujar Ica. Ia tahu Bayu belum terlelap. Hanya saja, Bayu memilih untuk menyimpan ucapannya.
"Ica minta maaf kalau hari ini ada kata-kata Ica yang menyinggung perasaan Mas Bayu. Padahal, harusnya ini momen bahagia, nggak ada saling nyakitin, tapi Ica secara nggak sengaja malah nyakitin hati kamu. Ica spontan, Mas. Maafin, yah," ungkap Ica. Lantas, ia mencoba mengubah posisi untuk menghadap Bayu, meskipun yang ia hadapi adalah punggung Bayu, bukan wajahnya.
Hingga Ica dengan berani merangkul Bayu, melingkarkan tangannya pada Bayu dari belakang. Menenggelamkan wajahnya pada punggung Bayu, dan makin merapat, serapat yang ia bisa.
Bayu tak menunjukkan aksi penolakan. Ia biarkan Ica melakukan hal yang ia suka.
"Mas, Ica mau cerita. Tapi terserah kamu mau dengerin atau nggak, mau ditanggapi atau nggak. Tapi Ica memang bener-bener mau ceritain soal ini. Jangan tidur dulu, yah." Bicara sendiri, padahal Ica mengharapkan suatu respon dari Bayu meskipun hanya suara "hmm" saja.
Bayu yang awalnya bodo amat, kini ia sedikit menggerakkan tangannya. Seolah bereaksi "kenapa?" pada Ica. Meskipun ia hanya melakukan gerakan yang sangat kecil. Ya, Ica peka, sehingga ia berniat melanjutkan ceritanya walaupun ia tak melihat Bayu merespons secara langsung.
"Ada satu temen yang deket sama Ica waktu masih ngampus dulu. Iyaa, laki-laki. Karena temen cewek nggak pernah bisa berkawan sama Ica yang serba bermasalah di segala hal buat mereka. Nanti Ica cerita soal itu kapan-kapan."
"Jadi, Laki-laki ini tuh namanya Riko. Kita temenan ya cukup akrab, Mas. Laki-laki lain yang dekat sama Ica selain Ayah. Tapi berkawan gitu aja, kayak sahabat. Cuman, ada satu momen yang di mana Ica jadi ragu sama persahabatan kami."
Bayu bereaksi lagi, dengan gerakan kecil. Ica seperti sangat diberi kesempatan untuk menjelaskan semua.
__ADS_1
"Riko itu anaknya asik banget, Mas. Ica juga sering naik motor dia kalau pak supir lupa anter jemput. Kami tuh udah best friend banget lah, kalau dibilang."
"Sampai waktu itu, dosen ada bikin kami di satu kelompok penelitian. Kami harus ke kebun kelapa sawit berkelompok. Ica sama Riko ada di kelompok yang sama. Temen yang satu kelompok lainnya juga ada. Tapi, mereka bukan ke kebun buat penelitian. Secara mengejutkan, mereka cerita soal apa aja yang mereka lakuin selama di kebun, dan mengaku kalau mereka ke kebun buat mojok, dan awalnya Ica nggak tahu kalau mojok itu sejenis aktivitas, karena yang Ica tahu, mojok itu ya berada di pojokan. Kata mereka, Ica terlalu polos. Terus, sampailah deadline survei lapangan di kebun itu hampir habis, kami bekerja ekstra di sana, sampai larut kadang. Suatu ketika, karena sampai malam, dan di kebun nggak ada lampu, Ica khawatir teman sekelompok nggak pas dititik kumpul di kebun itu. Nah, Ica sama Riko cariin dong temen Ica ini, yang bilang mojok itu. Emang mereka pacaran sih, katanya. Btw, kami dua pasang dikelompokkan, udah ketentuan dosen, jangan tanya kenapa, itu dosen yang mau."
Ica sepertinya sangat antusias bicara meskipun sedang tidak duduk di ranjang. Posisi berbaring menyamping ini tak menghalangi Ica untuk menceritakan semua. Sampai urutan ceritanya pun terbalik-balik dibuatnya.
Ada jeda agak lama sebelum melanjutkan ceritanya. Bayu yang diam seolah tak peduli itu penasaran, di mana semangat Ica yang tadi. Namun, Bayu masih tetap jadi patung, meski di dalam dirinya sangat penasaran.
Ica mengambil napas yang dalam dan panjang. Kemudian, ia kembali membelakangi Bayu, dan bersiap bicara.
Bayu semakin penasaran, kenapa Ica harus membelakanginya lagi?
"Mata Ica seperti ternodai, Mas. Ica melihat dua teman sekelompok Ica itu hampir melepaskan busana mereka. Bibir mereka saling beradu, kemudian aksi-aksi lain juga di perlihatkan mereka, padahal mereka bukan suami istri. Dan kami harusnya ke kebun itu untuk tugas dari dosen, bukan buat mojok dan melakukan hal tak senonoh itu."
"Waktu itu Riko temuin Ica setelah menangis melihat kelakuan mereka. Ica ditenangkan sama Riko. Dan Riko ngerti untuk nggak sentuh Ica, karena Ica masih nggak percaya dan trauma dengan apa yang Ica udah liat barusan. Ica dijemput saat itu juga, Riko yang nelepon Bunda buat jemput Ica. Dan akhirnya, Bunda Ica peluk kuat-kuat, dan Ica puas-puasin buat nangis sekencamg-kencangnya di pelukan Bunda."
Isak Ica mulai terdengar. Itu karena tiba-tiba ia harus mengingat kejadian yang tak meng-enakkan di masa lalunya.
Bayu tersentuh hatinya. Ia lupakan egonya, lalu ia peluk wanitanya itu dari belakang. Ia tenangkan Ica sembari mengecup apa saja di area kepala Ica.
"Saya nggak tahu soal ucapan saya yang berakibat fatal. Saya minta maaf. Lupakan soal kata mojok itu. Sebenarnya saya berusaha untuk menggoda kamu. Tapi itu tidak mempan karena kamu ada trauma dengan kata itu. Lain kali, kamu cerita aja soal hal lain yang sebenarnya kamu nggak nyaman dari ucapan saya, ya, sayang," ujar Bayu lembut, tepat di telinga Ica.
__ADS_1
Ica merasa lebih tenang. Kini keduanya berhadapan. Lalu Ica memilih untuk tertidur dalam dekapan prianya. Cuddle.
...----------------...