
Bayu dan Ica masih bekerja seperti biasa. Padahal, mereka juga sibuk mempersiapkan pernikahan mereka yang kurang dari sebulan lagi.
Orang-orang kantor bereaksi macam-macam saat mendapat kabar bahwa Bayu dan Ica akan melangsungkan pernikahan. Benar kata Manda, mana ada yang berani mencibir putri pemilik perusahaan. Setidaknya secara langsung. Kita tidak tahu jika memang ada yang mencibir Ica di belakang.
"Um..., Pak Bayu, semua orang kantor di undang, ya?" Ica buka suara sebelum menyerahkan tugas yang sudah ia selesaikan kepada Bayu.
"Di undang apanya?" tanya Bayu heran. Padahal Ica sudah mengungkapkan dengan sangat jelas. Topik apa lagi yang akan membahas soal undangan selain pernikahan mereka? Memikirkannya membuat Ica jadi kesal.
"Pernikahan kita lah! Masa orang lain sih!"
"Ooh. Iya, mereka saya undang semua. Kenapa emangnya?"
"Nggak papa," jawab Ica dengan nada sarkas.
"Ooh," balas Bayu singkat. Ica malah makin kesal karenanya.
"Pak Bayu, ih! Kalau cewek bilang nggak apa-apa, berarti ada apa-apa. Tanyain, kek, beneran nggak papa!" Ica berani sekali berperilaku kesal seperti itu. Terlihat sekali manjanya.
Karena Bayu malas memperpanjang, ia menuruti. "Beneran nggak papa?" tanyanya.
"Udah, ah, nggak mood lagi. Nih, tanda tangannya jangan lupa. Udah saya periksakan semua." Ica melengos pergi meninggalkan Bayu dengan suasana hati yang kesal.
"Lah, malah ngambek. Aneh." Bayu makin heran jadinya. Seharusnya ia sudah memarahi Ica karena tidak sopan dengan atasan. Tapi, ia hanya tidak mau mencari gara-gara dengan calon istrinya itu.
__ADS_1
...----------------...
"Raisa, nanti kamu pulang saya yang antar. Nggak bawa mobil, kan, kamu?" Bayu menghampiri Ica saat jam pulang kantor tiba.
"Ngapain di antar? Sah aja belum." Lagi-lagi Ica sangat berani melontarkan ucapan "tak sopan" itu pada bosnya.
"Ya udah nggak apa-apa kalau kamu mau nyusahin orang lain dengan nelpon supir kamu di jam istirahatnya. Harusnya jam segini udah nggak kerja, kan, ya? Padahal, saya lagi berbaik hati sama kamu. Orang yang ingin berbuat baik harusnya kamu terima, dong. Tapi, nggak apa-apa kalau di tolak, sih." Bayu kali ini panas darahnya ingin mementalkan ucapan Ica.
"Ya udah, saya ikut."
Keduanya sama-sama memburu masuk ke mobil Bayu. Seperti biasa, Ica duduk di kursi belakang, demi kenyamanan mereka berdua.
"Mulai besok saya akan terus bawa mobil aja biar Anda nggak punya alasan untuk maksa saya ikut pulang bareng Anda," Ica buka suara di perjalanan pulangnya.
"Iih, beneran tulus nggak sih nganterin? Apa cuma gara-gara disuruh keluarganya supaya baik ke aku karena kita mau nikah? Nyebelin banget!" Ica menggerutu kesal dalam hati.
"Tapi, saya akan tetap melakukan ini jika kamu tidak membawa mobil. Saya tahu, kamu pasti sangat lelah karena saya menuntut banyak ke kamu saat bekerja. Belum lagi, mempersiapkan keperluan pernikahan yang nggak kalah capeknya. Wajar kalau kamu merasa kelelahan sampai harus meminta supir mengantar saja. Selain karena kamu nggak mau terlambat ke kantor dan kena marah sama saya, kamu juga mengejar waktu untuk membelikan saya sarapan lebih dulu, kan? Kalau nggak segera di beli, pasti akan kehabisan, dan kamu nggak mau kena marah lagi hanya karena itu. Jadi, biarkan saya berkontribusi sedikit, Raisa. Meski kelihatannya tidak tulus di mata kamu, tapi saya sudah berusaha," lanjut Bayu setelahnya.
"Aaa... apa lagi ini? Perhatian kecil yang masih membuatku bingung. Sebenarnya, Anda memiliki sifat baik ini atau nggak, sih? Dan lagi, apa ini cara Anda mengungkapkan terima kasih? Hahaha, lucu sekali, padahal Anda hanya harus bilang doang, kenapa susah?" Ica dibuat labil karena sikap Bayu. Ia menertawakan Bayu yang malu-malu berterimakasih langsung ini.
"Raisa, saya serius ngomong. Kenapa kamu malah tertawa? Apa yang lucu dari saya?" Bayu malah menaikkan volume suaranya karena tak suka ditertawakan.
"Ng-nggak, kok. Nggak ngetawain Anda, kok. Saya cuma ngerasa lucu aja sama yang Anda omongin. Bilang terimakasih aja susah," balas Ica.
__ADS_1
"Te-- apa? Kamu kenapa tahu saya mau bilang itu?" tanya Bayu marah untuk menutupi perasaan malunya.
"Pak Bayu, Anda pernah bilang kalau Anda tidak pandai dalam hal itu. Anda susah bilang makasih, maaf, dan tolong, magic word itu. Saya mengapresiasi Anda karena berusaha mengganti ucapan terima kasih yang sulit itu dengan gaya sendiri. Walaupun nggak sama, tapi nggak mengubah maknanya, kok. Terimakasih, Pak, Anda sudah berusaha dengan baik."
Entah apa yang Ica rasakan saat ini. Ketika mendapat perhatian kecil dari Bayu seperti ini, ia lupa kalau bosnya itu adalah orang yang pemarah. Rasanya, ini yang membuat Ica tidak menyesal karena telah mengambil keputusan untuk menerima perjodohan ini.
"Kamu, dasar aneh!"
"Siap-siap menerima keanehan saya selanjutnya, sebab saya akan menjadi istri Anda yang setiap saat akan ada di dekat Anda, baik di rumah maupun di kantor." Ica menantang dengan penuh percaya diri. Dan lagi, berani sekali Ica menyebutkan dirinya akan menjadi istri Bayu?
"Ahahahah, kamu menantang saya? Kalau begitu, siap-siap juga harus menentukan sikap seperti apa saat di rumah dan di kantor. Sebab, saya akan kembali menjadi perfeksionis yang galak dan kamu benci itu. Jangan heran saat saya tiba-tiba marah, atau tiba-tiba lembut saat bicara," balas Bayu menantang balik.
Keduanya kemudian diam sejenak. Bayu fokus menyetir, dan Ica fokus melihat jalanan yang sudah padat merayap.
"Anda sebenarnya orang yang bagaimana? Kenapa saya begitu penasaran?" Saat macet sudah tak terelakkan, Ica jadi mengungkapkan hal yang membuncahnya.
"Kamu sekretaris saya. Pasti kamu mengenal saya, dan saya juga mengenal kamu. Jika di rasa kurang, apa gunanya mulut? Kamu bisa tanyakan. Lagian, kita masih di masa ta'aruf, fase saling mengenal. Wajar jika kamu bertanya seperti itu, karena kita akan menjalankan pernikahan nantinya," jawab Bayu lembut. Harusnya, di tengah macet seperti ini, emosinya juga terpancing saat menjawab pertanyaan Ica, tapi Bayu tidak melakukannya.
"Apa Anda nggak bisa sebaik ini juga saat di kantor?" tanya Ica dengan nada cukup manja, sama seperti saat ia bicara dengan ayahnya ataupun bundanya. Berharap, dengan nada yang sama, Bayu mau menurutinya.
"Kamu tahu sendiri, saya orang yang perfeksionis. Saya seperti itu untuk kelangsungan perusahaan di masa depan. Mustahil jika saya baik juga saat di kantor. Malah yang ada, mereka akan heran dengan sikap saya dan menambah beban pikiran mereka. Kinerja mereka juga akan menurun."
Bagi Ica, tanpa magic word "sorry", ucapan Bayu terdengar hambar. Dan itu mengingatkan kembali tentang tujuan perjodohan ini yang sebenarnya. Bayu yang menyetujuinya demi kelancaran dua perusahaan di masa depan, tidak lebih dari itu. Ica hanya terbawa perasaan dengan kelembutan seorang pria yang hanya sesaat. Itu juga karena ia tidak pernah merasakan kelembutan pria lain saat berbicara, selain dengan ayahnya. Sepertinya, semakin mengenal Bayu akan membuat Ica akan menyesali keputusannya untuk menerima perjodohan ini. Pikirannya berubah lagi saat mengingat tujuan utama pernikahan ini. Dasar labil, Ica.
__ADS_1
...----------------...