
Lupakan apa yang terjadi setelah pembicaraan malam itu. Karena memang tidak terjadi apa-apa setelahnya. Suami istri itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ica yang bermain ponsel sebentar lalu lebih dulu tidur, dan Bayu yang memegang tablet di tangannya untuk mengawasi laporan dari bisnis bersama Caca dan bisnis satunya yang ia mulai sendiri.
Malam itu berlalu dengan keheningan. Apa keheningan ini baik untuk hubungan mereka, kita tidak tahu.
Esoknya mereka menjalankan profesi sebagai bos dan sekretaris secara profesional. Bayu pun tidak akan menyinggung ucapan Ica yang ditangguhkan itu jika Ica tidak ingin membahasnya duluan. Sampai akhirnya, tidak ada lagi istilah istri profesional, mereka seperti tidak berstatus sebagai pasutri. Ica memang menemani Bayu sarapan dan makan siang di luar, tapi tidak pernah sekalipun membahas perihal rumah tangga. Mereka berbicara soal perusahaan, tidak ada yang lain.
Satu bulan sudah mereka menjalani pernikahan yang hambar ini. Ica jarang berbicara dengan Bayu di rumah. Saat di rumah pun, Bayu lebih lama berada di ruang kerjanya daripada di kamar sendiri. Ica tak mempermasalahkan itu, karena tak merasa dirugikan juga.
"Raisa, Hari Minggu ini saya minta tolong ke kamu untuk menemani saya bertemu dengan Caca." Akhirnya hari ini tiba. Bayu meminta Ica untuk bertemu dengan Caca. Apa yang dipikirkan Bayu sebenarnya? Mungkin dia sudah gila karena menemui wanita lain yang adalah cinta pertamanya, ditemani oleh istri sahnya sendiri malah. Bayu itu sebenarnya memikirkan baik-baik atau tidak? Apa ia sudah lupa kalau Ica tahu tentang Bayu yang dulunya amat sangat mencintai Caca. Ica tidak habis pikir, sulit menebak apa yang dipikirkan Bayu.
__ADS_1
Mendengarnya, Ica diam sejenak. Batinnya bergejolak saat nama Caca disebutkan. Nama yang panggilannya sama dengan Ica. Yang juga Bayu lebih mudah mengucapkan panggilan itu ke Caca yang hanya sekedar teman lama katanya, dibanding dengan menyebut panggilan "Ca" kepada Ica istri sahnya. Lagi-lagi Ica mempermasalahkan soal panggilan itu. Sepele kedengarannya, tapi bagi Ica inilah letak prioritas Bayu terlihat. Letak di mana terlihat Bayu lebih memedulikan siapa.
"Kenapa saya harus ikut? Saya sudah punya pekerjaan kedua sebagai seorang istri. Apakah saya juga punya pekerjaan ketiga dengan ini, yaitu menjadi notulen kalian?" tanya Ica sarkas. Ia padahal baik-baik saja sebelumnya, tapi jika dibawa topik tentang Caca, entah kenapa Ica teringat bagaimana Ica diperingatkan tentang pernikahan ini yang tak akan berhasil. Pertemuan terakhirnya dengan Caca tidak berjalan lancar, malas rasanya jika bertemu Caca lagi. Bisa ditebak, Caca pasti akan menyinggung soal pernikahan ini jika ada kesempatan berdua saja dengan Ica.
"Saya nggak pernah meminta kamu untuk menjadi notulen, Raisa! Saya hanya meminta kamu untuk ikut karena..., kamu tahu alasannya saat saya pertama kali meminta kamu untuk menemani bertemu dengan Caca. Saya risih bertemu dengan Caca jika hanya berduaan. Apalagi, sekarang saya udah nikah." Bayu yang awalnya ikut terpancing emosinya, dipertengahan merendahkan nada bicaranya. Ia sadar, kali ini ia sedang meminta tolong pada Ica.
"Saya sibuk mengurusi jadwal Anda, Pak. Apalagi, bulan depan Anda harus dinas keluar kota. Banyak hal yang ingin diurus, sebagai sekretaris dan istri tentunya. Lagian, Anda tidak seperti biasanya, ya? Di mana seorang Bayu Pramana Surya yang dapat menghandle semuanya sendirian? Kenapa harus meminta tolong kepada saya?" Ica mempertegas. Terlihat Ica ingin meninggalkan Bayu dari ruangan manager divisi humas itu.
"Kalau gitu, ajak orang lain, jangan saya! Apa Anda nggak memikirkan kalau saya akan merasa sakit hati saat tahu suami sendiri akan menemui orang yang menjadi cinta pertamanya? Apalagi, saya akan menjadi saksi kedekatan kalian dan keakraban kalian di sana. Saya cuma bisa diam karena tidak bisa menimbrung apa yang kalian bahas. Apa Anda memikirkan perasaan saya?" Ica mulai berapi-api lagi. Sudahlah, perdebatan seperti ini telah menjadi makan sehari-hari mereka berdua. Ketika dua orang egois ini diadukan, perdebatan pun tak terelakkan. Bayu menganggap hal ini biasa, tapi tidak dengan Ica. Karena kali ini perdebatan bukan soal pekerjaan atau profesionalitas, melainkan soal... orang ketiga mungkin?
__ADS_1
"Lagian..., kenapa harus bertemu dengan dia? Bukannya sejak perdebatan kalian waktu itu semua urusan bisnis dibahas lewat email? Kalian juga biasanya membahas lewat telepon. Waktu di rumah, Anda selalu betah berkomunikasi dengan dia di ruang kerja. Terus, kenapa harus ke sana menemui dia langsung?" Terlihatlah bagaimana cemburunya Ica sekarang, harusnya. Namun, Bayu melihat itu sebagai balasan argumennya yang ditolak dengan Ica menunjukkan amarahnya.
"Anda memang laki-laki baik yang tak bermain wanita. Anda berbeda dari kebanyakan bos di perusahaan ini. Tapi di waktu bersamaan, Anda juga bukan laki-laki baik. Laki-laki baik mana yang akan menemui cinta pertamanya di saat ia sendiri telah mempunyai istri. Meski urusan kerja sekalipun. Oiya..., maaf..., saya lupa kalau Anda memang gila kerja. Menikah dengan saya pun Anda lakukan ujung-ujungnya karena kegilaan Anda untuk bekerja. Seakan hidup ini tujuannya hanya untuk kerja. Padahal, kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja." Ica menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia tak mau lama-lama di sini. Segera keluar dari ruangan Bayu adalah pilihan terbaik. Telah banyak ia menghabiskan energi hanya untuk berdebat dengan Bayu. Mungkin kali ini energi yang ia keluarkan lebih banyak karena di waktu bersamaan ada kecemburuan di hati Ica yang lebih banyak menguras energinya.
"Apa maksud kamu mengatai saya seperti itu?" ucap Bayu saat Ica telah di ambang pintu untuk keluar. Ica berhenti di sana untuk mendengar balasan dari Bayu.
"Oke kalau nggak mau ikut nggak masalah. Saya bisa lakukan sendiri, seperti biasa. Jangan protes kalau saya akan sering bertemu Caca dikemudian hari kalau memang telah jadwalnya kami bertemu. Saya juga tak perlu memberitahu kamu kemana saya akan pergi, toh, kamunya juga tak peduli," ucap Bayu mengakhiri. Ia mendudukkan diri gusar bersamaan dengan telah keluarnya Ica dari ruangannya.
Bayu, kamu salah. Wanita itu sering tak sinkron perkataan dan perbuatannya dengan apa yang ada di hati dan di pikirannya. Ia sebenarnya hanya menunjukkan kecemburuannya, tapi terlihat bertingkah seperti itu. Bayu memang tidak suka dengan orang yang bertingkah, beginilah jadinya. Ica harus tegar membiarkan Bayu bertemu dengan Caca. Ha? Tegar? Ica bahkan telah menangis saat ini tepat setelah keluar dari ruangan Bayu.
__ADS_1
...----------------...