Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Sekretaris dan Istri Profesional


__ADS_3

Pagi hari, Bayu dan Ica pergi bersama ke kantor. Mulai hari ini, Ica tak perlu lagi duduk di kursi belakang. Jika ia lakukan itu, sama saja ia menganggap suaminya sebagai supir. Belum lagi omelan Bayu yang akan panjang jika Ica duduk di belakang. Jadi, karena kepekaan Ica tinggi, ia berinisiatif untuk duduk dulu di depan tanpa di suruh lebih dulu oleh Bayu.


Hari ini menjadi hari yang sangat mendebarkan buat Ica. Ia masuk kantor dengan status barunya. Ia penasaran sekaligus khawatir dengan omongan orang kantor tentang dirinya. Karena itu, selesai waktu subuh tiba, Ica tak bisa tidur lagi. Dan karena itu juga lah Ica tidak khawatir akan terlambat ke kantor. Ia juga ingat akan bersama Bayu ke kantornya, jadi ia harus cepat, tidak usah membuat masalah.


"Pak, ini sarapannya," ujar Ica. Baru sampai di kantor, ia langsung melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris dengan profesional. Setelah turun dari parkiran mobil kantor, Ica tidak masuk ke kantor bersama Bayu, melainkan mampir dulu ke tempat biasa ia memesan sarapan untuk Bayu. Mampir juga ke toserba untuk membeli sarapan untuknya.


"Oke, terimakasih," jawab Bayu. Pagi-pagi begini ia sudah disibukkan dengan tumpukan berkas yang harus ditinjau sebelum rapat mingguan dilaksanakan.


"Um..., Pak, jangan lupa makan, nanti Anda sakit. Sebentar lagi juga waktunya Anda shalat duha, setelahnya langsung melakukan rapat. Lebih baik, sarapan sekarang. Apalagi, Anda punya maag," ujar Ica tidak seperti biasanya. Mungkin karena mulai hari ini ia juga merangkap sebagai istri Bayu, ia harus lebih perhatian pada suaminya itu saat dirinya sedang di posisi sekretaris.


"Kamu sendiri gimana? Apa kamu nggak sarapan?" tanya Bayu balik. Ia sudah menutup dokumennya dan memandang ke arah Ica.


"Udah beli juga waktu belikan Anda sarapan," jawab Ica.


"Kalau gitu, ya udah, kita makan bareng di ruangan saya," tawar Bayu tiba-tiba.


"He...? Ngapain, Pak? Saya nggak punya maag. Sarapan sekalian makan siang nanti juga udah biasa. Bahkan, sampai digabung ke makan malam kadang-kadang. Jangan khawatir soal itu. Saya beli roti dan beberapa snack untuk mengganjal perut saya. Jadi, aman," tolak Ica.


"Raisa! Kamu lupa? Saya tidak menerima penolakan. Cepat duduk di kursi itu dan sarapan juga." Bayu menunjuk kursi yang berhadapan dengan kursinya, yang masih di satu meja dengannya, berhadapan dengannya.


"Tapi, Pak, saya masih harus ngurusin dokumen untuk rapat nanti," Ica bersikeras.


"Jangan membantah! Ikuti aja apa yang saya bilang." Bayu yang biasanya mulai menunjukkan jati dirinya, pikir Ica.


"Pak, bukannya Anda menyuruh saya untuk profesional? Saya lagi berusaha untuk menempatkan diri dengan baik, loh, ini. Saya mau mengurus semua keperluan Anda rapat dulu. Jadi, kalau semua persiapan sudah selesai, Anda nggak akan malu atau merasa kurang puas dengan rapat nanti. Jadi, saya harus profesional bekerja sebagai seorang sekretaris Anda," ucap Ica dengan volume meninggi.

__ADS_1


"Raisa, di saat seperti ini, kadang kamu perlu menambah skill kamu. Menjadi seorang sekretaris dan istri profesional dalam waktu yang bersamaan. Urusan perut tugasnya istri, kan? Lagian, menemani suami makan pahalanya besar, kan?" Di balas Bayu dengan volume yang lebih tinggi pula. Atau lebih tepatnya marah. Namun, Bayu mengatakan hal yang baik saat marah tadi, tidak seperti biasanya yang sarkas dan tersengat merendahkan.


"Anda selalu seperti ini. Susah banget buat dipatahin argumennya. Ya udah, saya sarapan bareng Anda di sini cepat-cepat, biar langsung balik kerja lagi," Ica mengalah dengan wajah yang kesal. Bayu pun tersenyum penuh kemenangan.


Ica duduk di hadapan Bayu. Padahal, ia sudah biasa duduk di hadapan Bayu saat membahas dokumen, tapi kali ini ia merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi, agendanya bukan membahas dokumen, melainkan menemani suaminya makan.


"Kamu sarapan roti coklat aja?" tanya Bayu disela-sela kunyahannya.


"Iya, Pak. Emang kenapa?"


"Emangnya kenyang?"


"Nggak sih, Pak. Tapi, kan, kalorinya sama aja kayak sarapan Anda. Jadi, kebutuhan nutrisinya juga udah cukup terpenuhinya."


"Noda apaan?"


"Coklat dari roti yang kamu makan. Cepat hapus itu. Itu akan mengganggu estetika. Orang yang melihatnya akan fokus pada noda itu dan menjadi tidak fokus dengan hal yang lebih penting."


"Hah? Emang nggak penting banget, ya, kalau cuma lihat noda coklat ini?" tanya Ica sarkas seraya menghapus nodanya di tempat yang Bayu ucapkan. Kemudian, karena ia berpikir sudah sepenuhnya terhapus, ia melanjutkan untuk menghabiskan rotinya.


"Raisa, jangan buat saya membatalkan wudhu yang saya jaga." Bayu kali ini tampak kesal saat mengucapkannya.


Ica yang tak mengerti menjadi heran, "Hah? Apaan, sih, Pak?" tanyanya.


"Iya..., kamu mengusap noda itu di tempat yang salah. Masih ada nodanya di sana. Jangan buat saya yang mengusapnya," jawab Bayu lebih sarkas lagi. Karenanya, Ica mengusap kasar area bibir, semua yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Namun, tampaknya Ica kurang bersih membersihkannya. Itu terbukti karena terlihat Bayu malah semakin risih melihatnya.

__ADS_1


"Raisa! Masih ada. Kamu gimana, sih?"


Akhirnya karena geram melihat noda yang masih menempel di dekat bibir Ica, Bayu lebih memilih untuk membatalkan wudhunya. Toh, ia juga akan wudhu lagi sebelum melaksanakan shalat duha.


Bayu mengusap lembut di mana area noda itu berada. Ica sempat refleks memundurkan wajahnya saat tangan Bayu mendekat. Tapi, karena melihat ketulusan Bayu untuk menghapus noda itu, ia akhirnya diam saja seraya memperhatikan Bayu yang ternyata hanya fokus pada noda itu.


"Nah, kalau gini, kan, nggak mengganggu fokus orang." Bayu berucap lega saat sudah tak melihatnya noda lagi di sana.


"Tapi tingkah Anda yang tiba-tiba tadi yang sekarang malah mengganggu fokus saya." Ingin sekali Ica mengatakan itu dengan jelas. Tapi jika ia katakan kejujuran itu, mungkin ia akan diomeli gara-gara tidak bisa fokus karena urusan yang pasti di anggap Bayu sepele seperti ini.


Akhirnya sarapan bersama sudah selesai. Ica segera kembali ke meja kerjanya tadi.


"Raisa, saya nggak mau mengusap itu kalau kamu bukan istri saya. Jadi, saya melakukannya dengan kesadaran penuh. Makanya, saya rela membatalkan wudhu saya."


"Duh..., dibilang kayak gitu malah makin nggak fokus akunya. Ntar kalau nggak fokus kerjanya gimana? Apa Anda akan memarahi saya karena penyebab saya tidak fokus sebenarnya adalah Anda, yang sekarang sudah menjadi suami saya."


"Makan siang nanti, makanlah bersama saya. Kita akan makan siang bersama di luar."


Bruh... Ica merasakan damage yang tiba-tiba dari Bayu. Padahal, ia ingin lepas dari penyebab fokusnya yang buyar, Bayu. Eh, malah dikatakan seperti itu sebelum Ica kembali ke meja kerjanya, mana bisa fokus lagi ini mah, pikir Ica.


"B-baik, Pak."


Cukup sudah fokusnya terganggu karena ucapan Bayu. Sekarang saatnya menjadi sekretaris profesional setelah bersamaan menjadi sekretaris dan istri profesional tadi, menemani Bayu sarapan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2