
"Apa? yang benar aja, dong. Bukannya Pak Bayu nggak butuh sekretaris, ya? Biasanya Anda kan, bisa nge-handle semuanya sendiri." Ica terkaget-kaget karena mendapat berita itu sebelumnya dari Lala. Ia langsung bergegas menuju ruangan Bayu dan melontarkan ucapan dengan wajah yang kentara sekali kekesalannya.
Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba dipasangkan dengan pria paling menyebalkan dalam hidupmu. Apalagi soal menjadi sekretaris, pasti akan lebih sering bertatap karena tuntutan pekerjaan. Mana sudi Ica bertemu dengan bos galak itu terus-terusan.
"Bukan saya yang memutuskan, tapi itu sudah diatur oleh pimpinan perusahaan," balas Bayu dingin. Ia tak menatap Ica sedikitpun dan hanya fokus berkutat dengan layar komputernya.
"Ayah, ya?" batin Ica. Ia segera meninggalkan ruangan Bayu dan menuju ke ruang kerja sang ayah.
"Yah, gimana, sih? Ica udah ngikutin kata Ayah, lho. Ica juga udah terbiasa kerja disini. Kenapa tiba-tiba Ica harus jadi sekretaris bos galak itu? Ica nggak mau jadi sekretaris dia. Kalau Ayah mau buat Ica jadi sekretaris, jadiin sekretarisnya orang lain aja, Yah, jangan si galak itu," ungkap Ica kesal. Sepertinya sifat galak bosnya itu menulari dirinya.
"Apaan sih, datang marah-marah gitu, bukannya ucap salam dulu. Assalamu'alaykum," tegur sang Ayah. Raka lebih tegas daripada Manda sang bunda. Namun, karena Ica lebih sering menghabisi waktu dengan Manda, sifat dan karakter Ica terbentuk karena Manda yang terlalu lembut mendidiknya. Seperti sekarang contohnya, ia tahu sang ayah begitu tegas pada dirinya, tapi jika ada sesuatu yang membuatnya kesal, ia tak segan berhadapan langsung dengan sang ayah.
"Wa'alaykumussalam," jawab Ica ciut dengan merendahkan volume suaranya. Ia bukan menyapa dengan salam kembali, malah menjawab salam sang ayah saja. Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya menanggapi karakter Ica yang seperti itu.
"Jadi, bisa jelaskan ke Ica, Yah? Ica nggak papa deh jadi sekretaris, tapi jangan sama Pak Bayu. Boleh, ya?" Kini Ica mengeluarkan jurusnya yang selalu ampuh meluluhkan orangtuanya. Ia mengeluarkan sifat manjanya, berharap permintaannya akan dikabulkan oleh Raka.
"Kamu jangan salah paham dulu. Coba deh, dipikirkan kebaikannya lagi, kalau kamu jadi sekretaris Bayu, kamu akan bisa lebih mandiri. Jadi sekretaris, kan, juga ngurusin orang lain. Jadi kamu punya tanggung jawab tambahan, ngurusin diri sendiri dan orang lain. Ini untuk melatih kemandirian kamu juga, Ca," jelas Raka.
"Tapi, Yah," bantah Ica.
"Ica..., Raisa Humaira Arshad putri kesayangannya Ayah, menurut, ya. Kali ini aja. Oke, Ayah menerima ini sulit untuk kamu. Tapi, Ayah minta tolong ke kamu untuk kamu turutin ini. Ini upaya Ayah untuk membuat kamu mandiri. Tolong hargai upaya Ayah. Jalani aja dulu selama satu bulan. Setelah satu bulan dan kamu masih kukuh nggak mau jadi sekretarisnya Bayu, baru kita bicarakan lagi. Ayah janji." Raka pandai sekali berbicara. Penjelasannya itu seketika membuat Ica tenang. Ica memikirkan kembali apa yang sudah dikatakan sang ayah.
"Tapi Ayah janji, ya?" Ica memastikan.
__ADS_1
"Iya, Ayah janji."
"Oke, Ica pegang janji Ayah. Satu bulan lagi, siap-siap tungguin Ica obrolin topik ini lagi," ancam Ica secara halus.
"Iya, iya. Ya udah, kamu ke sana kembali ke tempat bos galak kamu itu. Atau kamu bisa dikira dia bolos kerja karena kamu nggak segera ke sana." Mendengar itu, Ica langsung buru-buru keluar menuju ruang Bayu kembali.
Ica menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan pintu, membuka Raka penasaran dengan sang putri.
"Ada apa, Ca? Ada yang kelupaan?" tanya Raka.
"Iya, Yah. Ica lupa bilang thank you. Makasih banyak ya, Yah, udah mau mempertimbangkan permintaan Ica. Ya walaupun kurang memuaskan untuk Ica, sih. Makasih banyak, Yah. Semangat untuk kerjanya, Yah." Ica mengungkapkan seraya tersenyum di akhir.
Anak manja itu bisa bersikap manis juga di saat seperti ini. Seketika hati Raka meleleh dan refleks tersenyum mendapatkan perlakuan manis seperti itu. Rasanya Raka sudah melewatkan masa Ica kecil terlalu lama, hanya dengan ucapan terimakasih saja sudah sangat membuat Raka merasa senang. Seperti mendapatkan ucapan terimakasih dari anak kecil yang baru saja pandai berbicara, mengucapkan terimakasih secara tulus seperti itu begitu menyenangkan hati.
...----------------...
"Jadi, Pak, apa tugas pertama saya?" tanya Ica sesopan yang ia bisa. Rasa kesalnya karena dipekerjakan sebagai sekretaris Bayu masih tak bisa ia hilangkan. Bahkan, semakin kesal saat melihat bos galak itu.
"Buatkan saya kopi," jawab Bayu dengan datar. Lalu, Ica dengan cepat melaksanakan tugasnya.
Ica buru-buru mengantarkan kopi yang sudah selesai ia buat. Karena kalau terlalu lama, pasti akan ada omelan yang dikeluarkan Bayu.
Bayu mulai menyesap perlahan, tapi ia membuat raut wajah kesal setelahnya. "Kopi ini kenapa sangat pahit?" ungkap Bayu kesal dan menunjukkan raut wajah pahit, sepahit kopi yang ia minum.
__ADS_1
"Anda tidak ada bilang bagaimana definisi lengkap dari membuat kopi yang Anda maksud. Biasanya juga, bos divisi minumnya kopi pahit." Ica melakukan pembelaan.
"Saya punya maag," balas Bayu. Lalu, Ica terdiam sejenak karena mengakui kesalahannya, sedikit iba juga karena mengetahui penyakit Bayu.
"Ee... Maaf, Pak. Kalau begitu saya buatkan kopi yang tidak terlalu pahit."
"Tunggu dulu. Saya tidak mau kamu membuat kesalahan lagi. Lain kali kalau kamu ragu, jangan lupa ditanyakan. Jadi, tidak ada kesalahan seperti ini. Apalagi kamu sekretaris, harusnya kamu memastikan dulu. Saya mau kopi instan dan gulanya satu sendok saja. Kopi panas, tapi jangan terlalu panas, melepuh tangan saya nanti. Sudah, silahkan pergi dan buat kopi saya," omel Bayu.
"Baru aja mau kasian sama dia, eh malah di galakin lagi. Dasar bos galak," batin Ica. Ia kemudian melanjutkan membuat kopi dengan tidak ikhlas.
"Nih, silahkan dinikmati kopi Anda. Kopi panas tapi tidak terlalu panas, kopi instan jadi tidak terlalu pahit, dan gulanya satu sendok jadi tidak terlalu manis." Ica mengucapkannya dengan nada sarkas. Namun, kesarkasan Ica tak digubris oleh Bayu.
"Terimakasih," ucap Bayu singkat. Ia meneguk sedikit kopi itu, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Oiya, nanti siang saya akan bertemu dengan klien. Kamu ikut saya, ya. Tugas kamu mencatat pokok penting pertemuan. Oiya, biar lebih mudah, pakai mobil kamu saja. Saya harus multitasking juga untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang deadline-nya mepet. Jadi, kamu yang nyupir. Bisa kan?" ujar Bayu beberapa saat kemudian.
Ica yang tengah santai itu langsung berdiri sigap, "Cuma berdua, Pak?" tanya Ica.
"Iya. Tenang saja, saya tidak akan macam-macam. Saya juga akan duduk di kursi belakang." Bayu menjawab tanpa menoleh ke arah Ica.
"Hah? Emangnya aku supirnya, apa?" Ica lagi-lagi kesal dengan bos galaknya itu.
"Oke deh. Siap Pak Bos."
__ADS_1
"Pak bos galak maksudnya," cibir Ica dalam hati.
...----------------...