Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Rumor


__ADS_3

Selesai rapat pertama di Hari Senin, rasanya begitu berat karena harus menerima banyak pujian dari kolega. Ucapan selamat juga atas pernikahan mereka. Pujiannya memang tentang pekerjaan, tapi itu jarang jarang diucapkan. Mungkin karena pekerjaan Ica dan Bayu yang hari ini bagus dan terlihat kompak.


Ada satu lagi rapat sebelum jam makan siang. Kali ini Ica dibuat santai, karena ia tak perlu menghadiri rapat bersama Bayu.


"Selesai rapat mau langsung berangkat?"


"Berangkat ke mana, Pak?"


"Makan siang di luar."


"Oke. Kalau begitu, saya menunggu Anda selesai dulu di sini."


"Oke, saya ke ruang rapatnya dulu."


"Pak Bayu, tunggu dulu," cegat Ica. Padahal Bayu belum melangkah.


"Ada apa?" Ica mendekat, hingga jarak mereka tak sampai satu meter.


"Ini, dasinya kurang rapi. Masa Anda nggak sadar kalau dasi Anda miring, sih? Nggak perfeksionis banget ternyata," ujar Ica seraya merapikan dasi Bayu. Ia melakukannya tiba-tiba, Bayu jadi gugup karenanya.


"E-enak aja! Ini baru aja miring, kok."


"Iya iya. Nah, sekarang udah rapi, nih."


"Oke."


"Magic word-nya?"


"Terimakasih Raisa."


"Sama-sama Pak Bayu."

__ADS_1


...----------------...


Karena Bayu sedang pergi rapat, Ica jadi tidak ada pekerjaan. Tepatnya, pekerjaan sebelumnya sudah rampung, karena tugasnya mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan Bayu untuk rapat. Namun, karena sudah selesainnya pekerjaan, Ica jadi sangat senggang.


Karena bosan menunggu di meja kerjanya, ia keluar. Mampir ke tempat kerjanya dulu sebagai karyawan baru di divisi humas. Banyak kenangan di sana meskipun ia cuma satu bulan bekerja sebagai karyawan.


Melihat ke sana, tiba-tiba Ica tertawa kecil. Karyawan yang biasanya disebut bawahannya Bayu, mereka merasa terbebas dari penjara saat tahu kalau Bayu sedang keluar. Ia tertawa, karena ia juga begitu dulu saat menjadi karyawan divisi. Mengobrol dengan Lala, tertawa sepuasnya, dan menggibahi Bayu sampai puas. Mumpung tidak ada yang mengawasi, jadi ambil saja kesempatan itu. Ini juga cara bawahan Bayu menghindari stress karena tekanan bekerja di bawah Bayu langsung. Mungkin, selama ini Bayu tak tahu kalau bawahannya tidak produktif begini saat dirinya tak ada. Kalau tahu, mana mungkin Ica melihat pemandangan ini lagi.


"Pak Bayu sama si Ica nikah, kalian datang, nggak?" Terdengar sebuah rumor tentang dirinya, Ica pun memasang kupingnya baik-baik untuk mendengar percakapan tiga orang itu dan menyembunyikan keberadaannya.


"Datang, sih. Emang kenapa?"


"Eh, btw, kan, kalian apa nggak ada yang curiga sama mereka yang tiba-tiba nikah?" Akhirnya terdengar juga rumor negatif tentang pernikahan Ica. Ica memasang kupingnya lebih teliti. Berusaha melakukan kegiatan lain agar mereka tidak curiga Ica sudah ada di dekat mereka dan menguping.


"Kenapa harus curiga? Mereka keluarga baik-baik, tuh. Lagian, Ica udah kerja jadi sekretaris Pak Bayu, mungkin mereka cinta lokasi, terus nikah, deh."


"Ih, justru itu. Karena mereka bekerja di ruangan yang kita nggak bisa amati, kita nggak tahu apa yang mereka lakukan di belakang. Bisa jadi mereka cinta lokasi sampai khilaf. Terus, biar nggak ketahuan banget, makanya dinikahkan buru-buru."


"Ih, gila banget pikiran kamu. Kamu mengira Ica hamil duluan?"


"Pemikiran kamu awas jatuhnya suudzon, lho. Kalau mereka dinikahkan bukan karena yang kamu bilang, dosa tahu."


Dua orang yang lain tampak percaya tentang baiknya nama keluarga Ica dan Bayu. Namun, satu orang di antaranya malah kukuh beropini buruk tentang pernikahan Ica dan Bayu yang menurutnya sangat tiba-tiba itu.


"Ye..., aku kan cuma beropini. Nggak nuduh juga, kok. Tapi, coba aja deh kalian pikirin apa yang aku bilang ini."


"Masuk akal, sih memang."


"Kita lihat aja lagi perut Ica gimana beberapa bulan ke depan. Terus, kita hitung sama tanggal Ica kerja di sini, kerja jadi sekretaris Pak Bayu, dan menikah sama Pak Bayu." Si pembuat rumor negatif ini malah membuat taruhan.


Ica yang berkamuflase itu geram dengan rumor yang dibuat. Ia pun menunjukkan dirinya pada tiga orang itu.

__ADS_1


"Hay, semua. Kangen banget sama kalian. Lagi ngobrolin apa, sih, rame-rame?" sapa Ica dengan wajah yang ceria, geram di dada.


"Eh M-mbak Ica," jawab gugup si pembuat rumor. Ia hendak membuat opini lagi setelah membuat taruhan itu, tapi ia urungkan karena yang ia gosipkan malah datang menghampiri.


"Eh.., bukan gitu manggilnya, sekarang, kan udah jadi istrinya bos, berarti panggilnya Buk Ica. Atau mungkin Buk Bayu lebih cocok, ya?" Teman yang lain juga terlihat sama gugupnya. Berbasa-basi untuk menutupi perbuatannya.


"Panggil kayak biasa aja. Aku sekarang memang istri manajer kita, tapi aku juga, kan, cuma sekretaris beliau aja. Panggil aja kayak biasa. Panggil Ica, gitu," respons Ica berusaha mengakrabkan diri.


"I-iya, Mbak Ica. Eh, Ica maksudnya."


"Lagi ngobrolin apa, sih? Aku juga gabung, dong."


"Ooh, kamu nggak tahu apa yang kami obrolin, Ca?"


"Iya, soalnya aku lihat rame-rame di sini, jadi penasaran. Makanya ikut ke sini. Baru aja, kok. Jadi, kalian ngobrolin apa tadi? Ajak-ajak, dong." Si pembuat rumor tampak agak lega saat mendengar Ica baru saja melihat mereka, yang artinya, Ica pasti tidak mendengar sesuatu yang membahayakan karir si pembuat rumor itu. Padahal ia tidak tahu kalau Ica hanya berbohong saja untuk tidak membuat mereka canggung.


"Ooh, itu, si Lala katanya lagi hamil," ucap mereka asal.


"Eh...? Beneran? Mbak Lala hamil? Wah..., aku baru dapet beritanya, nih. Thanks ya udah infoin. Aku mau ke tempat Mbak Lala dulu." Karena mereka tampak canggung, akhirnya Ica pergi saja meninggalkan mereka menuju meja kerja Lala. Ica tahu itu bohong, soalnya Lala juga sering cerita tentang dirinya, dan Lala juga tidak sedang hamil.


Kepergian Ica membuat suasana akhirnya lega untuk mereka. "Fuuh..., untung Ica nggak denger apa yang kita obrolin," ucap salah seorang diantaranya.


"Iya, untung aja Ica kelewatan baiknya, nggak ada curiganya sama sekali ke kita."


"Iya, kalau Ica tahu dan malah kepikiran, dia pasti ngobrol ke Pak Bayu. Abis itu di pecat, deh, kita. Aku nggak mau lagi, deh, gosipin mereka. Aku masih sayang sama pekerjaan ini walaupun bosnya galak."


"Aku juga, sih. Udah ah, balik kerja lagi."


Berubahnya status Ica menjadi istri Bayu ternyata sangat berpengaruh di perusahaan. Saat Ica keluar dari ruangan kerjanya untuk melihat-lihat keadaan tempat ia bekerja dulu, ternyata memberikan doktrin untuk para karyawan produktif kembali. Memang Bayu sedang tak ada untuk mengawasi, tapi masih ada Ica yang notabene sekarang adalah istri sekaligus sekretaris bos, belum lagi Ica juga putri pemilik perusahaan yang baru mereka ketahui identitasnya setelah mereka mendapat undangan pernikahan. Bisa jadi Ica akan mengadukan tingkah karyawan divisi ini yang tidak profesional saat bekerja tanpa pengawasan Bayu. Untuk menghindari itu, mereka pun kembali produktif lagi saat melihat keberadaan Ica.


Setelah selesai rapat, Bayu melihat para karyawannya banyak yang lebih produktif hari ini. Sesuatu yang jarang terjadi. Ia ingin mengapresiasi, tapi takut akan membuat mereka terlalu senang dan menghancurkan performa kerja yang sudah sangat baik ini. Lebih baik ia tak melakukan apa-apa seperti biasa. Ya, meskipun biasanya ia marah-marah, hari ini ia tidak akan melakukan apa-apa.

__ADS_1


Berterimakasihlah kamu Bayu kepada Ica. Karena Ica yang secara tak langsung membuat bawahanmu sangat produktif hari ini.


...----------------...


__ADS_2