
Apa yang mau dibicarakan telah selesai dibicarakan di pertemuan Bayu dengan Caca. Caca tampak senang karena Ica tak perlu ikut campur dalam pertemuannya dengan Bayu, sebab kali ini ia ingin berduaan dengan Bayu. Ia merasa menang karena Bayu lebih memilih makan siang bersamanya daripada makan terlebih dahulu di rumah.
"Aku balik duluan, Ca," pamit Bayu. Ia merasa lega akhirnya semua hal yang telah dibahas selesai. Ia tahu Caca belum menghabiskan makanannya, tapi ia tidak mau menunggunya.
"Iya, hati-hati, Bay. Kirim salam sama Ica, ya. Padahal aku pengen banget ngobrol sama Ica juga. Eh, ternyata Icanya nggak bisa datang karena sibuk mau urusin keperluan dinas kamu, ya, mau gimana lagi," sambut Caca ramah membicarakan tentang Ica. Niat tersembunyi lainnya tentu saja ada, ingin mengadu domba Ica saat ada kesempatan.
"Sip. Nanti perkembangannya kamu kirim ke email aja, Ca. Bye, Assalamu'alaykum," pamit Bayu untuk terakhir kalinya.
Selepas kepergian Bayu, Caca masih duduk di tempat yang sama. Bahkan ia memesan minuman lagi untuk duduk lebih lama lagi di sana. Jika tidak dapat memanas-manasi Ica secara langsung, ia bisa melakukannya secara tak langsung. Ia mengirim foto Bayu yang ia potret diam-diam. Foto itu pasti akan membuat Ica panas karena Bayu terlihat sedang tersenyum di sana. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Ica, membuat Bayu tersenyum. Tidak lupa pula Caca memberikan embel-embel sebelum mengirim foto itu ke Ica. "Wah..., hari ini seneng banget, deh. Sayang banget kamu nggak ikut, Ica," tulisnya. Ia tersenyum penuh kemenangan.
...----------------...
Bayu pulang di saat sore hari. Asharnya ia lakukan di masjid saat dalam perjalanan menuju ke rumahnya.
Agak bagaimana rasanya kembali ke rumah. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan Ica.
Saat Bayu mengucap salam setelah masuk ke rumah, yang menyambutnya bukan Ica. Ia tak melihat Ica yang biasanya akan menampakkan diri tiap Bayu pulang, meskipun tidak disambut seperti membawakan tas, mencium tangannya atau sebagainya. Tumben, pikir Bayu.
__ADS_1
"Umm..., maaf Den Bayu, malah bukan Non Ica," ujar Bi Ana setelah menjawab salam Bayu dengan lengkap.
"Raisa kemana, emangnya?" tanya Bayu. Ia penasaran juga ternyata.
"Katanya, sih, Non Ica mau pergi ke panti asuhan. Terus, kalau jumpa Den Bayu, Bibi diamanahkan untuk ngomong ke Den Bayu untuk lihat chat dari Non Ica,"
"Ooh, oke." Setelah itu Bi Ana kembali ke aktivitasnya yang sedang menyapu lantai.
Di saat seperti ini, ia teringat dengan Ica yang mengajarinya tentang magic word. Di situasi ini, harusnya kata itu diucapkan.
Bi Ana tersenyum ramah menanggapi. "Sama-sama, Den," jawabnya.
"Assalamu'alaykum, Mas. Maaf Ica keluar tanpa izin dulu ke kamu. Ica pergi berkunjung ke panti asuhan. Bulan ini udah telat datangnya dari jadwal, jadi kemungkinan besar Ica mau menebusnya dengan lama-lama di sini sampai anak-anak panti tidur. Ica harap Mas Bayu mengizinkan dan nggak akan marah. Maaf karena nanti malam Ica nggak bisa nemenin kamu makan malam. Untuk makanan hari ini, Ica masak sendiri tanpa bantuan Bi Ana. Semoga kamu suka, ya, Mas. Terimakasih. Wassalamu'alaykum." Begitulah isi chat dari Ica. Isinya lebih cocok dikatakan surat karena terlalu formal.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Lain kali, saya juga akan ikut berkunjung ke panti asuhan itu. Anak-anak yang kamu undang di pernikahan kita waktu itu sepertinya sangat penasaran dengan saya. Sesekali saya ingin bermain bersama mereka." Bayu langsung membalas chat itu.
Bayu memang tidak ada melirik ponselnya saat berdiskusi dengan Caca. Mendapat kabar Ica tidak ada di rumah juga sempat membuat emosinya bergejolak. Namun, saat mendapat kabar di mana keberadaan Ica, ia berhasil meredam Bayu.
__ADS_1
...----------------...
Sudah pukul sembilan malam. Setelah makan malam selepas menunaikan shalat isya di masjid, Bayu langsung ke ruang kerjanya sampai sekarang. Ia tidak tahu kalau Ica sudah pulang atau belum. Tidak juga mengkhawatirkan Ica dan menyuruhnya untuk pulang segera. Bayu pun di ruang kerjanya sibuk dengan urusannya sendiri.
Tepat setengah sepuluh, Ica sampai rumah. Perutnya tak bermasalah kalau melewatkan makan malam. Karena ia sangat lelah bermain seharian dengan bocah-bocah itu, ia ingin langsung berbaring di ranjang empuknya. Urusan shalat wajibnya sudah ia selesaikan berjamaah dengan anak-anak panti. Kalau urusan mandi, ia tidak peduli lagi soal itu karena ia sudah sangat mengantuk dan kelelahan. Hijabnya ia buang begitu saja dari kepalanya yang terlihat lebih nyaman tidur tanpa hijab. Ia selalu melakukan itu kalau ia kelelahan. Tapi ia lupa, ia tidak tinggal di rumah orangtuanya lagi sekarang. Ia tinggal di rumah bersama suaminya, tidur satu ranjang bersama Bayu. Sayangnya, Ica sudah tertidur pulas tanpa menyadari hal itu. Rambutnya yang panjang dan tergerai terekspos begitu saja.
Tepat pukul sepuluh malam Bayu memutuskan untuk mengerjakan lanjutan pekerjaannya besok. Ia kembali ke kamar untuk tidur.
Saat masuk ke kamar, ia malah dikejutkan dengan pemandangan yang belum pantas ia lihat. Melihat Ica tidur dengan rambut terurai tanpa hijab membuat rasa kantuknya hilang seketika. Jika begini, mana bisa ia tidur satu ranjang bersama Ica. Ia merasa belum boleh melihat Ica seperti itu. Kemudian ia sadar, Ica juga secara tak sengaja melakukannya karena kelelahan. "Ya, Seperti saat malam setelah pesta pernikahan mereka", pikir Bayu. Ia mendoktrin dirinya untuk percaya kalau Ica melakukannya karena kelelahan dan dalam keadaan tidak sadar.
Karena Ica menguasai penuh ranjangnya, mau tak mau Bayu harus tidur di sofa. Kemudian, ia mencoba untuk mengembalikan rasa kantuknya tadi dengan berbagai macam hal seperti mencoba menghitung anak domba yang lompat di bayangannya sampai ia mengantuk. Namun, disela menghitung Bayu malah terbayang penampilan Ica di tempat tidur malam ini. Rasa kantuk yang hampir datang tiba-tiba terusir kembali. Meskipun ia merasa belum boleh dan belum pantas melihat rambut Ica, pemandangan itu masih sempat ia lihat meski hanya sesaat. Namun, hanya dengan sesaat itu saja Bayu sudah tidak bisa tidur karena terus terbayang dibenaknya.
"Aaa...., Raisa, kamu mengacaukan waktu tidur saya! Kenapa tidur dengan penampilan seperti itu?" batin Bayu gusar. Ia menggaruk kepalanya secara kasar karena kesal.
Lagi, berkali-kali Bayu mencoba banyak hal untuk membuatnya tidur, bersamaan dengan penampilan Ica yang mengganggu. Sampai akhirnya pukul empat dini hari ia baru bisa benar-benar terlelap. Sepertinya, kebiasaan shalat tahajudnya kali ini tidak dapat ia laksanakan karena jadwal tidurnya terganggu. Kalau sampai Bayu bangun telat untuk subuh nanti, ia akan memarahi Ica karena ini semua ulah Ica. Ica membuatnya tak bisa tidur. Ica membuatnya harus absen shalat tahajud. Ica membuatnya kurang tidur karena hanya diberi jarak tidur tidak sampai satu jam sampai waktu subuh tiba. Bersiaplah Ica! Karena Bayu akan galak lebih dari biasanya kalau ia mengalami kurang tidur. Apalagi penyebabnya adalah Ica sendiri.
...----------------...
__ADS_1