Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Emosi


__ADS_3

Esok harinya. Bayu masih bekerja dari rumah. Pikirnya, tidak buruk juga mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah. Meskipun harus repot memonitori bawahannya dari jauh juga. Bayu mempercayakan bawahan andalannya untuk membantunya melaporkan apa yang tidak beres di sana. Dengan tahunya Raka juga, Bayu banyak dibantu untuk mengurus divisi humas yang ia pegang itu. Mertuanya itu benar-benar pengertian, Ia bersyukur untuk itu meskipun dasarnya cuma salah paham, perihal soal bulan madu itu. Bayu tak ingin memanfaatkan kesalahpahaman ini. Ia tak ingin berbohong. Selesai mengurus Ica sampai sembuh, ia ingin meluruskan semuanya dan minta maaf, itu niatnya.


Sungguh pemandangan yang luar biasa, Ica tanpa harus disuruh memakan sarapannya sudah ia lakukan duluan sebelum Bayu yang menyuruh. Begitu juga dengan meminum obatnya.


"Makanan kesukaan kamu selain sate padang roti, ya, Ca?" tanya Bayu dari meja kerja sementaranya itu.


Bukannya menanggapi, Ica malah menutupi wajahnya dengan selimut untuk pura-pura tidur kembali.


"Ya udah, kamu lanjut tidur dan istirahat aja. Kamu bilang mau sembuh hari ini, kan? Kalau kamu sehat, mungkin saya bakal marah karena kamu mengabaikan saya. Kali ini nggak akan saya permasalahan," tanya sendiri dan jawab sendiri. Bayu berusaha mengerti meski agak jengkel. Ucapannya barusan malah terdengar seperti ancaman dan sindiran buat Ica.


Sebenarnya Bayu tak tahu kalau Ica seperti itu dikarenakan tak ingin kelihatan senang karena panggilan barunya itu. Ica menyadari bahwa identitasnya sebagai Ica semalam bukanlah mimpi. Terbukti dengan Bayu yang juga memanggilnya dengan panggilan seperti itu barusan. Ica bersembunyi di balik selimut bukan karena ingin menghindari Bayu, tapi ingin menutupi wajah senangnya.


...----------------...


Balik melihati susunan laporan yang di buat oleh Caca, Bayu merasa harus bertindak soal itu. Ia sudah sangat lelah karena harus bekerja dari rumah dan mengurus Ica, tak seharusnya ia menambahkan pekerjaannya yang sebenarnya bukan pekerjaannya. Jika biasanya ia sendiri yang akan merevisi semua pekerjaan Caca sampai sempurna, kini ia tak punya tenaga untuk itu, sedikitpun.


Bayu mengambil helaan nafas panjang.


"Huh..., Caca..., aku capek banget begini terus. Kayaknya aku harus ikhlas untuk melepas bisnis ini dan nyerahin semuanya ke kamu," keluh Bayu pelan. Ia takut membangunkan Ica yang sudah tidur di ranjangnya sana. Jika dilihat, sekarang sudah jam sebelas malam, ia juga harus menyusul Ica tidur di sampingnya.


Di seberang sana, Caca merasa ada yang aneh dari Bayu karena tak kunjung membalas chatnya tiga hari ini, begitupun dengan e-mail yang Caca kirim serta telepon Caca yang tak pernah sekalipun diangkat Bayu. Padahal, Bayu selalu membalas dengan segera, karena berhubungan dengan bisnisnya. Caca suka berbuat kesalahan yang sama, tapi separah apapun Caca melakukan kesalahan, Bayu tak pernah mengabaikan sebegini lamanya.


"Bay..., kalau kamu kecewa sama aku, ngomong, Bay. Jangan abaikan aku kayak gini! Kalau kamu kasih tahu, aku juga jadi bisa menebus kekecewaan kamu, kan? Jadi, please..., setidaknya kamu balas chat aku." Tulis Caca untuk kesekian kalinya ke Bayu. Ia tak bisa tidur karena Bayu tak kunjung merespons. Dan sudah tahu Caca ada pekerjaan yang harus dilakukannya, tapi ia menunggu untuk disuruh dulu oleh Bayu. Siapapun akan geram melihatnya.

__ADS_1


...----------------...


Pulang shalat subuh, Bayu menemukan Ica berada di dapur. Cepat-cepat ia menghampiri Ica dengan perasaan khawatir.


"Kamu kenapa nggak di tempat tidur? Kamu masih sakit, Ca. Apa yang kamu lakuin di dapur?" ucap Bayu tersengal-sengal habis berlari dari depan pintu rumah.


"Maaf, Mas. Ica cuma mau ambil madu. Roti yang Ica makan rasanya pahit di lidah Ica."


"Kenapa nggak tunggu saya pulang? Kalau kamu pingsan di tangga gimana? Kamu nggak pikir itu? Kamu belum sembuh, Ica."


"Ica minta maaf. Ica cuma nggak mau ngerepotin Mas Bayu aja. Ica juga udah agak mendingan, kok. Turun tadi juga hati-hati, pegangan kuat-kuat."


"Bagus, sekarang kamu menghabisi energi untuk membantah. Selepas ini, pasti kamu akan jatuh lemas lagi."


Ia merasa khawatir, tapi Bayu melampiaskan dengan cara yang salah. Di mata Ica, saat ini Bayu yang galak itu kembali, padahal baru saja Ica pikir Bayu berubah menjadi lembut permanen kepadanya. Melihat Bayu merapikan barang-barang yang Ica keluarkan dengan kasar dan gusar, serta suara dentingan barang yang beradu yang memekakkan telinga, membuat Bayu terlihat sangat marah di mata Ica. Setelah di paksa duduk begini, sulit untuk Ica berdiri lagi, karena rasa peningnya pasti akan semakin menyerang. Ingin membantu pun, takut ia malah membuat Bayu semakin marah.


"Mas...," panggil Ica lemas. Benar yang Bayu katakan, kini Ica menjadi lemas lagi karena telah mengeluarkan habis energinya untuk membantah.


"Hmm?" balas Bayu singkat seraya tetap merapikan barang-barang berantakan di depannya ulah Ica itu.


"Ica minta maaf. Kenapa sih Ica sakit masih digalakin terus? Nanti Ica nggak sembuh-sembuh gimana?" Suara Ica terdengar bergetar menahan tangis.


Bayu tiba-tiba terhenti sejenak dari aktivitasnya karena menyadari yang Ica katakan benar. Ia jadi heran, kenapa setiap perasaan yang ia sedang rasakan itu cara pelampiasannya tak pernah jauh-jauh dari amarah? Kali ini ia benar-benar khawatir akan kesembuhan Ica, ia pikir ucapannya bisa membuat Ica sadar akan kesehatannya, tapi Ica malah merasa di galakin karena volume suara Bayu yang juga tinggi. Bayu beristighfar dalam hati dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Huh..., Ica..., kita balik ke kamar sekarang, ya. Kamu istirahat yang cukup. Nanti madunya saya yang bawa, ya. Sini saya bantu jalan, pegangannya sama saya aja, biar lebih aman," respons Bayu lembut sambil meraih puncak kepala Ica dan menatap mata Ica sambil bicara. Ia meninggalkan barang-barang yang belum dirapikan seluruhnya itu. Beralih mengambil Ica, Bayu memapahnya untuk kembali ke kamar.


Ica tersenyum, Bayu ternyata sadar akan kesalahannya. Meskipun Bayu tak meminta maaf langsung ke Ica, Bayu menunjukkan bentuk maafnya dengan lebih lembut ke Ica seperti ini. Mau seperti apapun, Ica suka cara Bayu mengekspresikan maafnya dengan cara unik seperti ini. Ica bisa mengerti, Bayu masih kaku dengan mengucapkan magic word yang ia ajari itu. Bagaimanapun bentuknya, magic word itu dapat menyihir keadaan menjadi lebih baik.


"Mas..., terimakasih banyak."


"Iya. Kamu istirahat yang cukup, ya. Kamu mau roti, kan? Pakai madu sekalian, kan? Kamu tunggu di sini dulu, ya."


Bayu pun kembali ke dapur setelah mengantar Ica ke tempatnya.


Tak lama setelah itu, terdengar bel rumah dibunyikan. Cara membunyikan belnya pun terdengar tidak sopan dengan membunyikannya tanpa jeda.


"Siapa tamu yang datang pagi-pagi begini? Kenapa cara mencet belnya kayak gitu? Apa dia buru-buru? Tunggu Mas Bayu aja, deh, yang cerita. Kalau aku ikut turun dan bukain pintu, pasti Mas Bayu bakal ngamuk," gumam Ica penasaran.


Bayu pun penasaran dengan tamu yang tak ada sopan-sopannya ini. Ica sedang sakit, pasti akan terganggu dengan suara berisik ini. Lagian, pagi-pagi begini, siapa yang berani dengan tak sopan mengunjungi rumah orang tanpa mengabari lebih dulu? Rasanya Bayu ingin memarahi tamu itu dan mengusirnya pergi setelahnya.


"Sabar!" teriak Bayu agar tamu itu berhenti membunyikan bel. Padahal, Bayu sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk Ica. Mengganggu saja, pikir Bayu.


Dengan gusar Bayu membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya Bayu. Ia tak menyangka tamu yang tak sopan ini ternyata orang yang tak ia pikirkan akan berani mendatangi rumah Bayu.


"Kamu?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2