
Pagi ini, selesai menunaikan shalat subuh Ica menunggu Bayu di kamar sambil membaca Al-Quran. Masalah-masalahnya itu mengingatkannya kalau dirinya kurang bersyukur dan cenderung lupa pada Tuhannya. Hari ini, ia ingin berkaca diri dan lebih dekat dengan Tuhannya.
Hari ini, Bayu akan dinas ke luar kota dalam waktu tiga hari. Ini pertama kalinya untuk Ica sebagai seorang istri, menyaksikan Bayu pergi langsung dinas ke luar. Memang sewaktu belum menjadi istri pun, Bayu juga sering melakukan perjalanan ke luar kota, tapi karena Ica cuma sekretaris, ia tak merasa berat hati saat itu. Berbeda dengan sekarang, sekretaris sekaligus istri. Ica bingung bagaimana ia harus mengantar Bayu, takut yang ia lakukan malah salah lagi.
"Mas Bayu..., pulang dari dinas langsung pulang ke rumah, kan? Apa yang perlu Ica siapkan saat kamu pulang nanti, Mas?" Ica bertanya saat mereka sarapan bersama.
"Apa, ya..., saya udah terbiasa kalau pulang dinas langsung tidur. Jadi, nggak ada yang perlu kamu siapkan."
"Ee..., Mas Bayu nggak mandi dulu setelah sampai rumah? Beneran langsung tidur, gitu?" Ica terkejut atas pengakuan Bayu yang tak biasa baginya.
"Iya. Kenapa? Masalah buat kamu? Lagian, saya udah mandi sebelum berangkat, kenapa harus mandi lagi waktu udah sampai rumah? Besoknya bisa saya lakukan, kan? Sama aja." Bayu mulai sinis. Oleh karena itu, lebih baik Ica tak perlu mempermasalahkannya lagi.
"Ooh. Kalau gitu, makan malamnya mau di masakin apa?"
"Nggak usah. Sampai rumah saya benar-benar akan tidur. Nanti saya makan makanan yang disediakan di pesawat aja. Jangan khawatirkan tentang mag saya. Saya yang lebih tahu tubuh saya seperti apa. Urusan jaga makan, kamu tak perlu ikut memikirkannya. Kamu aja yang jaga makan. Selama saya dinas nanti, jangan sering nggak makan. Makanlah yang teratur! Bahaya kalau kamu sampai sakit juga."
"Apa ini? Mas Bayu khawatir sama aku?" batin Ica menanggapi dengan senang ucapan Bayu itu.
"Makasih banyak, Mas."
"Untuk apa?"
"Mas Bayu ternyata bisa berucap semanis itu. Ica senang banget karena Mas Bayu khawatir sama pola makan Ica."
"Ha? Bukan apa-apa, kok. Itu cuma ucapan normal aja yang sering saya ucapkan."
"Yakin ucapan normal? Yakin itu sering diucapkan?" Ica mengambil kesempatan untuk menggoda Bayu.
__ADS_1
"Udah, jangan main-main. Cepat makan dan antar saya ke bandara."
"Siap Pak Bos." Ica gagal menggoda Bayu. Lagi-lagi Bayu yang memenangkan permainan.
Selesai sarapan, mereka langsung melesat menuju bandara. Bayu yang menyupir, jadi lebih cepat sampai ke tujuan.
"Jangan lupa oleh-oleh ya, Mas," ucap Ica saat mereka sudah sampai di bandara.
"Ada-ada aja. Di masa seperti ini udah masuk jam kantor, tahu!"
"Iya iya. Jangan lupa oleh-olehnya kalau Anda masih ingat sama saya. Hati-hati di udara. Saya mau balik ke kantor sekarang biar nggak dibilang makan gaji buta sama Anda." Ica menjawab sarkas dan menyindir. Kemudian menyiapkan langkah untuk kembali ke mobil.
"Assalamualaikum," ucap Bayu yang tersirat sindiran juga untuk Ica.
"Eh, iya, lupa. Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sampai jumpa, Pak...," pamit Ica. Kemudian melanjutkan langkah.
"Hati-hati di udara? Kenapa itu terdengar lucu?" batin Bayu saat melihat Ica berjalan menjauh secara bersamaan.
...----------------...
Hari-hari sibuk saat bersama Bayu tiba-tiba membuatnya merindukan Bayu. Padahal, belum ada satu hari Bayu pergi. Tiba-tiba, terpikir oleh Ica untuk menghubungi Bayu.
"Maaf, Pak. Saya ingin memastikan. Apakah Anda sudah sampai? Apakah ada berkas lain yang harus saya kirim melalui email?" tulis Ica dalam chat. Ia tak bisa memosisikan diri sebagai istri saat ini karena masih jam kantor. Ia juga tak ingin Bayu terganggu dengan ketidakprofesionalan Ica. Padahal, Ica ingin sekali mengingatkan Bayu untuk tidak lupa makan dan tidur yang cukup. Mungkin itu bisa ia lakukan saat jam kantor usai.
"Nggak ada," balas Bayu. Harus menunggu satu jam dulu sebelum dibalas. Memang chat adalah pesan singkat, tapi Ica tak berekspektasi kalau Bayu akan membalas sesingkat ini. Bayu bahkan tak menjawab kalau dirinya sudah sampai tujuan atau belum. Di sini Ica diuji. Ica yang tahu jadwal penerbangan Bayu dan berapa lama. Jadi, Bayu tak perlu menjawab itu. Namun, apa salahnya untuk menjawab, sih? Ica mulai kesal jadinya.
Ica berusaha mencari-cari pekerjaan, tapi memang tak ada yang bisa ia kerjakan lagi. Ia sudah mengatur semua jadwal Bayu untuk sebulan ke depan dan tugas lainnya. Rasanya ia ingin sekali pulang karena senggangnya. Tapi, urusan menerima telepon masih menjadi tugasnya. Ia tak bisa pulang begitu saja dan tak mengangkat telepon yang kemungkinan penting.
__ADS_1
Dalam kesenggangan, Pikiran Ica menelusuri ke kejadian pagi tadi di rumah. Ia menjadi senyum-senyum sendiri karena ingat Bayu bisa berucap semanis itu.
"Ternyata Mas Bayu memperhatikan aku juga yang jarang makan. Nggak nyangka, deh. Diam-diam gitu dia peduli banget," batin Ica senang.
Kemudian, Ica menelusuri ingatannya di mana Bayu pernah membelikannya makanan saat itu. Sebuah perhatian kecil dari Bayu yang kalau dipikirkan itu sangat manis. Ica ternyata pernah menerima perhatian itu dari si galak Bayu. Ia yang waktu belum sarapan dan juga makan siang, akhirnya menerima makanan dari Bayu. Bahkan saat itu ia tak memberitahu Bayu kalau belum makan. Jika dipikirkan lagi, Bayu memiliki caranya sendiri untuk berterima kasih. Saat itu Bayu meminjam mobil Ica, sebagai ucapan terimakasih, Bayu membelikan makanan untuk Ica. Bayu menunjukkan terimakasih bukan dengan ucapan, tapi dengan tindakan. Mengingat itu, membuat Ica makin melebarkan senyumnya.
...----------------...
Tak terasa, tiga hari sudah Bayu pergi dinas. Ia akan pulang hari ini. Ica tak sabar bertemu Bayu. Ia mengakui kalau dirinya merindukan Bayu. Tanpa sadar, ia malah sudah berpakaian sangat cantik dan berdandan untuk menyambut Bayu.
Bayu tidak ingin dijemput dari bandara oleh Ica karena bukan jam kantor. Ia juga tak bisa menyuruh Ica menjemputnya sebagai seorang istri. Akhirnya, ia menelepon supir rumah Mamanya untuk menjemput. Bayu juga tanpa sadar membelikan oleh-oleh. Padahal, biasanya ia tak pernah berpikir untuk membawa oleh-oleh sepulang dinas. Mungkin ini dorongan hati karena istrinya langsung yang memintanya.
Terdengar salam dari depan rumah. Ica yang sudah bersiap di meja makan segera menyambut Bayu.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas. Akhirnya Mas Bayu pulang juga. Barang bawaannya biar Ica bantu bawa, Mas," sambut Ica dengan senyuman paling indah. Terpancar kesenangan yang alami saat akhirnya ia bertemu dengan Bayu.
Bayu terpesona melihat Ica yang berdandan untuk menyambutnya. Seketika kelelahan Bayu hilang saat melihat Ica. Tanpa sadar, pesona Ica membuat Bayu terbawa suasana. Di sambut oleh istri cantiknya itu terasa sangat menyentuh hatinya. Refleks Bayu menarik tubuh Ica untuk jatuh ke pelukannya.
"Eh? Kenapa tiba-tiba?" batin Ica terkejut bukan main. Jantungnya berdegup sangat kencang. Sebab ini pertama kalinya ia dipeluk seperti ini oleh seorang laki-laki selain ayahnya. Juga karena hal lain sebenarnya. Tidak ada kata benci untuk suaminya sendiri, ia sudah mencintai Bayu sejak Bayu menjadi suaminya. Detakan jantung ini, Ica sangat menikmatinya.
"Saya membawakan oleh-oleh untuk kamu," ucap Bayu dalam pelukan. Ica tersenyum karena Bayu dalam keadaan sadar saat memeluknya. Juga senang saat Bayu membelikannya oleh-oleh.
"Terimakasih banyak, Mas," balas Ica senang.
"Raisa..., kamu boleh mencium tangan saya saat ingin menyambut saya. Tapi, izinkan saya untuk mengecup kening kamu setelahnya." Sangat mengejutkan, lagi-lagi Bayu mengeluarkan sikap yang bukan seperti dirinya. Tentu Ica sangat senang, ia merasa seperti menjadi orang paling bahagia di dunia saat ini. Sikap Bayu benar-benar manis, pikirnya.
Ica kemudian melepaskan pelukan itu dan mulai mengambil tangan Bayu. Kemudian ia cium tangan itu. Dengan cepat, Bayu membalas dengan mengecup kening Ica lembut. Kemudian kembali memeluk Ica sampai energinya habis dan mereka terduduk.
__ADS_1
Ica sangat bahagia. Air mata bahagia pun keluar. Ia mengucap syukur kepada Allah dalam hati karena akhirnya telah diberikan kesempatan untuk merasakan sikap manis dari suaminya. Rasa sakitnya dan stress sebelumnya rasanya terbayar sudah. Ica tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
...----------------...