Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Semakin Dekat Semakin Ragu


__ADS_3

Entah kenapa, rasanya ini tak adil untuk Ica. Diperlakukan begitu rendah oleh orang lain, ia tak pernah mengalaminya.


Air mata yang ia tahan akhirnya tumpah. Ia sengaja menahan suaranya agar tidak ketahun.


"Raisa, kamu menangis?" Bayu menanyakan hal itu saat melihat ke arah Ica yang menahan suaranya, tapi tak bisa menahan sesenggukan yang ketara di tubuhnya.


"Hiks..., Pak Bayu, kita pulang aja, ya? Saya duluan ke mobilnya." Ica masih mau menjawab.


Saat melihat Ica menjawab dan menunjukkan wajahnya yang sembab, Bayu segera mendahului Ica agar bisa sampai lebih dulu ke mobil, mengingat ada tisu di sana. Ica mengikuti langkah cepat Bayu dengan menutupi area matanya dengan tangan kanannya, menyembunyikannya agar tak terlihat orang-orang.


Bayu sampai duluan di mobil, tak lama di susul Ica. Ia memberikan tisu untuk Ica.


"Terimakasih, Pak."


"Saya nggak akan nanya kamu kenapa kecuali kamu yang mau cerita. Tapi, saya nggak suka kamu kalau belum tenang berusaha untuk jawab seolah biasa aja, kayak nggak ada apa-apa dan baik-baik aja. Saya juga nggak peduli sama magic word kamu kali ini. Saya tahu harusnya saya nggak pantas mendapat ucapan terimakasih hanya karena menyuguhkan tisu. Kesalahan saya besar, tak sebanding dengan hanya memberikan tisu ini."


"Apa ini cara tersendiri Anda untuk meminta maaf?" batin Ica bingung, rasanya semakin pedih setelah mendapat perlakuan baik itu dari Bayu.


Karena dikatakan seperti itu, Ica jadi diam. Memandang keluar jendela, tapi pikirannya melihat yang lain. Ia melamun, kadang-kadang air matanya juga ikut menetes saat pandangannya ke luar dan pikirannya mengingat ke beberapa waktu lalu, ia masih menyimpan dengan jelas bagaimana merasa dipermalukan seperti tadi.


Tak terasa perjalanan menuju rumah Ica akhirnya harus berakhir. Ica juga sudah cukup tenang dan tidak menangis. Kalau menangis dan sampai terlihat oleh sang Bunda, ia pasti akan diinterogasi habis-habisan dan menyebabkan kepanikan di rumah. Ia tak ingin melakukan hal itu.


"Saya siap kapanpun kalau kamu mau menceritakannya." Bayu membuka mulut lagi setelah di perjalanan lebih memilih bisu. Ica mengangguk menanggapi.


"Saya masuk dulu, Pak. Terimakasih sudah mau mengantarkan sampai rumah. Assalamu'alaykum," pamit Ica.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Bayu. Ia melihat Ica sudah tidak menangis, tapi mata sembap itu tak bisa berbohong kalau Ica sudah menangis cukup lama. Ia siap jika orangtua Ica meminta keterangan soal ini. Ia akan bertanggungjawab untuk menjawab menghadapinya.

__ADS_1


...----------------...


Waktu telah berlalu. Ica sama sekali tak pernah bicara soal waktu itu tentang alasannya menangis. Bayu juga tidak pernah mengatakannya. Saat mempersiapkan pernikahan seperti fitting baju dan lainnya, Ica juga bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun, seolah tak ada yang mengganggu pikirannya.


"Yah, Bun..., Ica mau ngomong. Soal pernikahannya." Di meja makan saat makan malam, Ica buka suara.


"Ada apa, Sayang? Kenapa dengan pernikahannya? Tinggal seminggu lagi, kan?" respons Raka lembut.


"Aa, itu dia. Ica lupa tinggal berapa hari lagi pernikahannya. Cuma mau nanya itu doang. Hahahaa. Makasih udah diingatin, Yah," jawab Ica lain di mulut lain di hati.


Ya, Ica berbohong, ia sebenarnya semakin ragu dengan pernikahannya yang sudah semakin dekat. Ia ingin membuat kesepakatan untuk mengundurkan waktu pernikahannya, kalau bisa ia juga ingin membatalkan saja pernikahannya. Namun, ia ingat selama ini sudah sangat manja kepada dua orangtuanya itu. Ia memang selalu dituruti permintaannya, tapi tidak mungkin untuk kasus yang satu ini. Untuk masalah ini saja, ia ingin tidak egois dan memukulnya sendiri.


"Gimana, sih, Ca? Kan kita udah pada sibuk banget ngurusin pernikahannya bareng-bareng. Harusnya udah pasti inget, dong," Manda ikut menimpali, mengomel ke Ica seperti biasa.


"Hehe, Bunda lupa ya kalau Ica pelupa?"


"Iyaiya, Ica minta maaf, Bun."


...----------------...


Lagi, waktu pernikahan tinggal menghitung hari. Semakin dekat, semakin ragu Ica untuk menjadi pengantin. Apalagi, setelah ia mendapatkan chat dari orang yang membuat suasana hatinya berantakan seperti sekarang. Ia meminta untuk bertemu dengan Ica, mendadak pula.


"Akhirnya kamu datang juga, Ica."


"Ada apa, Mbak? Kenapa ingin bicara sama saya?"


"Nggak, saya cuma mau ngomong doang. Kamu bakalan jadi istri Bayu, berarti kamu juga teman saya. Ya..., tiga hari lagi kamu bakal jadi istri Bayu, kan?"

__ADS_1


Ica tak tahu apa maksud Caca mengajak Ica bertemu. Padahal, masalah yang waktu itu belumlah rampung. Ica masih tidak tahu mengapa Caca tiba-tiba mengirimkan chat, padahal memiliki nomor Ica saja tidak. Setidaknya, Ica tak pernah memberikan nomornya pada Caca. Pasti Bayulah yang memberikannya.


"Selamat, ya, kamu bakal jadi istri orang sebentar lagi."


"Terimakasih, Mbak." Ica merespons dengan senyum palsu yang dipaksakan.


"Saya baru-baru aja ketemuan sama Bayu. Kita bahas soal kamu yang jadi calon istrinya. Juga cerita bagaimana kalian bisa berakhir ke jenjang pernikahan karena perjodohan." Caca mulai bercerita. Permulaannya saja sudah membuat perasaan Ica jadi tidak enak.


"Saya minta maaf ke Bayu karena pergi tiba-tiba waktu itu. Saya nggak nyangka ternyata perempuan yang menjadi sekretaris Bayu akan menjadi istrinya. Sedangkan saya yang merupakan teman lama Bayu, yang juga membabi bisnis bersama-sama cukup lama, cinta yang akhirnya tumbuh di hati saya tak terbalas."


"Dari awal saat mendengar Bayu ingin menikah pun, saya sudah putus asa. Ingin rasanya menyerah untuk mendapatkan hati Bayu. Ada di dekat Bayu tidak lantas akan membuatnya jatuh cinta lagi pada saya."


Ica hanya menjadi pendengar. Saat Caca menjeda ceritanya untuk minum sejenak, Ica berpikir untuk menanggapi cerita Caca.


"Maaf, Mbak..., Maksud Mbak bicarain ini ke saya apa, ya?" tanya Ica. Sebenarnya, Ica tahu kemana arah pembicaraan ini akan berakhir, tapi ia hanya ingin menanyakannya saja.


"Nggak, saya cuma mau cerita aja. Biar kamu tahu."


"Saya awalnya memang putus asa. Tapi, kalau saya tahu pernikahan kalian dilakukan karena perjodohan, sepertinya saya masih punya harapan. Saya kenal Bayu lebih lama daripada kamu. Saya sangat jelas tahu bagaimana dia sebenarnya. Dia menikah tanpa cinta dengan kamu. Karena cintanya masih tersisa untuk saya, orang yang dengan lubuk hatinya ingin dinikahi dan membina rumah tangga. Saya tahu cinta Bayu sangat besar saat mengungkapkan itu, nggak mungkin begitu aja cinta itu sirna."


"Jadi..., intinya saya cuma mau bilang, sepertinya Bayu nggak akan pernah mencintai kamu, karena tujuan pernikahannya di awal nggak begitu. Bisa jadi di saat itu kamu ingin pisah karena jenuh, saya yakin kamu nggak akan tahan sama sifat Bayu. Kamu tahu sendiri saat dia bekerja bagaimana, kan? Kemungkinan besar umur pernikahan kalian akan pendek. Dan pada saat itu tiba, Bayu akan menemui saya sebagai orang yang benar-benar ia inginkan dari lubuk hati terdalamnya untuk membina rumah tangga."


"Oiya, kamu tenang aja, saya bakalan hadir di pesta pernikahan kalian, kok. Saya nggak akan jahat sampai menyabotase segala supaya acara pernikahannya kacau. Lagian, tanpa melakukan itu pun, saya pasti menang pada akhirnya."


"Astaghfirullah, apa yang ada di pikiran Mbak Caca?" batin Ica khawatir. Ia khawatir karena tahu Caca masih tidak menyerah untuk mendapatkan Bayu. Bahkan, Caca mendeklarasikan perang secara terselubung dengan calon istri sahnya Bayu.


Lagi, Ica semakin ragu jadinya. Mungkin lebih baik kabur saja saat hari pernikahannya tiba, pikirnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2