Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Di Rumah Mertua


__ADS_3

Pulang ke rumah lagi. Bayu benar-benar merasa lebih baik setelah bermain dengan anak-anak panti. Memang panti asuhan itu merupakan tempat refreshing terbaik untuk mereka yang menyukai anak-anak. Bayu senang dengan keputusannya untuk membatalkan pertemuannya dengan Caca dan lebih memilih ke panti itu bersama Ica.


Hari Senin menjadi hari paling sibuk karena hari pertama di pekan yang baru. Semua pekerja kebanyakan mengalami tekanan lagi setelah meng-healing-kan diri di akhir pekan. Belum lagi bos mereka yang pasti akan lebih aktif dan galak memantau laporan mingguan dan sebagainya. Biasanya Bayu yang menjadi momok di Hari Senin selalu menjadi sosok tak bercelah, mencari celah tiap bawahannya yang sedikit saja melakukan kesalahan pasti langsung kena omelan Bayu. Namun, itu hanya kebiasaannya di Hari Senin saja. Hari ini Bayu tak seketat biasanya mengawasi bawahannya. Itu karena mereka kapok saat hari Jum'at itu Bayu mengamuk, makanya mereka benar-benar meningkatkan performa terbaik mereka. Dan ada pemicu satunya yang mereka tak tahu. Bayu masih menyisakan kebahagiaan setelah bertemu anak-anak panti semalam. Maka, jadilah Bayu yang sekarang lebih terlihat "ramah".


"Raisa, besok keluarga kita bakal makan malam bersama. Lokasinya di rumah orang tua saya. Kamu udah tahu kabar itu?" Bayu bicara sambil menemani Ica memeriksa jadwalnya.


"Hah? Saya baru tahu, Pak. Terus, kalau di rumah Anda, bisa jadi kikuk saya. Emang harus hari ini banget, ya?" respons terkejut pun tak terelakkan.


"Ahaha. Nggak, saya bercanda," Bayu malah tertawa. Ia mencoba menjahili Ica yang sedang serius ternyata.


"What? Pak Bayu ketawa nih? Karena aku, kah?" batin Ica keheranan. Bisa membuat bayu tertawa karena dirinya, membuat Ica senang. Memang saat bersama anak-anak panti, Bayu banyak menunjukkan tawanya, tapi itu berkat anak panti, bukan Ica. Kali ini ia senang karena pertama kali melihat Bayu tertawa karena dirinya. Asumsinya yang mengira bahwa Bayu tak bahagia bersama Ica sekarang terbantahkan.


"Iiih..., bisa banget kayak gitu. Orang udah khawatir, juga," ucap Ica dengan nada ngambek. Tapi selanjutnya ia tersenyum tipis karena tertular tawa Bayu.


"Tapi saya nggak bohong soal makan malam itu. Kita akan datang. Acaranya malam minggu pekan ini, saya juga baru diberitahu sama Mama tadi. Makanya langsung kasih tahu kamu. Nanti Bunda pasti ngabari kamu juga, kok."


"Kalau gitu, mohon kerjasamanya, Pak Bayu. Jika saya kikuk di depan mereka dan karena berada di kediaman mereka, saya harap Anda dapat selalu membantu saya."


"Santai, mereka itu sayang banget sama kamu. Ngapain kikuk gitu coba?"


"Kan mau ketemu sama mertua."

__ADS_1


"Ada orang tua kamu juga, lho. Jadi, jangan sekikuk saat kita mengunjungi orangtua saya. Kamu selalu merasa kurang nyaman tiap kali saya mengajak untuk ke sana berkunjung."


"Hehe, ketahuan, ya, Pak?"


Benar yang Bayu bilang, Ica suka kikuk saat berkunjung waktu itu. Padahal, Ica sudah tiga kali berkunjung sebagai seorang menantu dari keluarga Surya Group, tapi masih seperti orang asing yang tak pernah memasuki rumah itu. Ya, meskipun hanya berkunjung dua jam, kemudian berpindah mengunjungi rumah orangtuanya Ica.


...----------------...


Di meja makan rumah keluarga Bayu, Surya Group. Tidak disangka, ternyata suasana bisa jadi lebih ringan hanya dengan menghadirkan orangtua Ica juga di meja makan ini. Tampaknya, kunjungan mereka kali ini tak perlu Ica khawatirkan.


Ica tak menyangka, makan malam bersama ini ternyata ada maksud lain. Kedua keluarga menyinggung Ica dan Bayu untuk memulai program hamilnya. Tapi, karena masih baru menikah, Ica tak perlu khawatir soal itu, tidur ada kecurigaan juga saat Ica hanya tersenyum menanggapi singgungan itu.


Kemudian, Dirga, adik pertama Bayu yang merupakan anak kedua mengumumkan kalau ia akan menyusul untuk menikah juga. Ia ternyata sudah mempunyai seseorang yang akan dijadikan istrinya, teman satu kampus katanya. Dirga tampaknya bukan orang yang senang berpacaran, tapi ia ternyata sudah memiliki calon sendiri. Berat juga menjadi seorang pewaris seperti Dirga. Apa ia buru-buru menikah untuk pemenuhan kualifikasi untuk menjadi pewaris, atau ia memang benar-benar ingin menikahi calonnya itu. Atau mungkin keduanya. Sebab, Dirga menceritakan kalau calonnya itu adalah orang yang ia sukai saat di kampus, dan dengar-dengar mereka ternyata saling mencintai tanpa mengetahui satu sama lain.


"Pa, bahas itu lagi? Raisa mulai nggak nyaman tahu," tegur Bayu pada Papanya. Cuma pembelaan kecil, tapi Ica sangat senang dengan itu.


Sesi makan sudah selesai. Semua orang berpencar. Melihat Dirga sendirian di ruang keluarga, Ica segera mendekat. Ia ingin memberikan ucapan selamat langsung kepada Dirga. Dari semua anggota keluarga Bayu, ia hanya kurang akrab dengan Dirga. Saat Ica dan Fahmi si bungsu bicara, Dirga seperti tak mau ikut obrolan mereka. Kalau dipikirkan, mereka sepertinya tak pernah bicara.


"Dirga, selamat, ya. Nggak nyangka kamu nyusul cepat juga," ucap Ica.


"Makasih, Mbak," balas Dirga singkat.

__ADS_1


"Aneh banget dipanggil Mbak sama kamu. Padahal lebih tua kamu satu tahun daripada aku. Beda sama Fahri yang sebaya, cuma lebih tua aku bulannya."


"Aku cuma menghormati Bayu. Mbak Ica sekarang udah jadi kakak ipar aku soalnya."


"Ya udah, deh, kalau gitu."


"Mbak Ica, seperti yang dikatakan di meja makan tadi. Kemungkinan besar, aku dan calonku yang akan memberikan cucu lebih dulu. Soalnya, kami sama-sama suka, beda sama Mbak Ica dan Bayu." Dirga terus terang, tapi membingungkan buat Ica.


"Ee... maksudnya gimana, ya, Dirga?" tanya Ica bingung.


"Aku tahu kalau Bayu masih suka sama Caca. Mana bisa Bayu lupain masa lalunya gitu aja sama Caca. Mereka bahkan memulai semuanya sama-sama dari nol. Aku heran, kenapa Bayu mau terima perjodohan waktu itu. Dia itu selalu egois dan pengecut. Perusahaan Papa harusnya dia yang pegang sekarang, tapi dia malah nggak mau dan malah lebih milih untuk memulai semua dari nol lagi. Melemparkan seenaknya kewajiban dia ke aku. Aku jadinya yang diharuskan untuk mengambil alih perusahaan Papa." Dirga terdengar agak marah saat mengucapkannya.


"Aku bisa bilang kalau kamu dan Bayu hanya menjalani hidup seperti orang asing yang tinggal satu atap. Pasti berat, ya. Bayu tipe yang harus menunggu izin dulu baru mau menyentuh istrinya sendiri untuk ke tahap itu. Dan aku berani taruhan, Bayu tak akan siap meminta izin. Jika kamu memberikan izin pun, Bayu pasti ragu menyentuh kamu. Dia sendiri pun masih nggak mau panggil istrinya sendiri dengan panggilan yang sama dengan Caca. Udah jelas, tanpa perlu dijelaskan. Jadi, mungkin benar yang Papa bilang. Bisa aja aku yang duluin kalian, padahal kalian yang duluan menikah," lanjut Dirga lebih jelas. Dan pernyataan itu juga jelas menyinggung hati Ica.


"Dirga, ia bahkan berpikir untuk berlomba memiliki anak lebih dulu?" batin Ica tak habis pikir.


"Raisa, ayo siap-siap untuk pulang. Saya harus bekerja besok," ajak Bayu seraya menarik tangan Ica.


"I-iya, Mas." Ica merasa lega, seperti terselamatkan oleh Bayu.


Keduanya pun langsung berpamitan dengan semua orang.

__ADS_1


Baru pertama kali bicara dengan Dirga, tapi Dirga sudah menunjukkan ketidaksukaan kepada Ica. Pantas saja Dirga tak pernah menimbrung obrolan yang Ica ikut di dalamnya. Sepertinya ia merestui Bayu dengan Caca, bukan dengan Ica. Ica menjadi penasaran, masa lalu seperti apa yang terjadi antara Bayu dan Caca? Dan kenapa Dirga lebih senang dengan Caca dari cara bicaranya? Memikirkannya saja sudah membuat hati Ica tergores. Perih rasanya, Ica terluka. Luka yang tak berdarah.


...----------------...


__ADS_2