Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Lebih Cepat Lebih Baik


__ADS_3

Jawaban Ica membuat semua orang yang ada di sana merasa bahagia. Kecuali Bayu, harusnya dari diskusi yang baru saja mereka lakukan, Ica tetap mempertahankan keyakinannya untuk menolak perjodohan ini. Tidak mungkin Ica salah bicara karena Ica mendahuluinya dengan basmallah, pikir Bayu. Lalu, apa yang membuat Ica mengubah keyakinannya di saat-saat terakhir? Bayu bukan menunjukkan wajah yang bahagia, tapi menunjukkan wajah dengan seribu tanya.


"Alhamdulillah....," ucap Raka yang kemudian ucapan hamdallah itu diikuti oleh orang-orang di sana. Bayu juga mengucapkannya, kemudian refleks senyum tipis terlukis di bibirnya. Masih ada keheranan yang melanda Bayu, tapi mendengar jawaban Ica yang juga menyetujui perjodohan ini tanpa sadar ia juga bahagia sampai melukiskan senyum. Padahal, ia sangat yakin belum ada cinta di hatinya untuk Ica.


Ica menunduk malu saat mendengarkan ucapan-ucapan bahagia semua orang setelah mendengar jawaban Ica.


Sebenarnya, mengungkapkan jawaban seperti itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Sebab, sebenarnya ia sangat yakin untuk memilih menolak perjodohan, tapi ia mengubahnya. Ica memang tidak ingin mengecewakan semua orang, tapi ia tidak asal menerima saja. Keyakinannya berubah, memang sebagian besar karena diskusi dengan Bayu.


Saat berdiskusi, Ica melihat sosok baik dari Bayu, sosok yang tak pernah Bayu tunjukkan sebelumnya. Ica menyimpulkan, sebenarnya Bayu adalah orang yang baik hati dan lembut, tapi jika berhadapan dengan pekerjaan, Bayu menjadi orang lain kembali. Berdiskusi dengan Bayu beberapa kali telah menyentuh hatinya. Mendengar setiap ucapan tulus dari Bayu membuatnya yakin bahwa dirinya pasti akan menemukan kebahagiaan meskipun dinikahkan dengan orang yang baginya sangat menyebalkan ini. Ica yang juga tidak pernah merasakan indahnya cinta, ia ingin merasakannya. Namun, tidak ada cara yang terbaik selain menempuhnya dengan cara yang halal. Jadi, Ica sebenarnya sudah memikirkan dengan baik sebelum mengubah keyakinannya di akhir.


"Jadi, kapan pernikahan ini sebaiknya dilangsungkan?" Andi membuka suara.


"Lebih cepat, lebih baik, kan?" sambung Andi.


Bayu tidak akan heran saat Andi membuka suara soal itu. Sebab, saat bicara dengan keluarganya saja, Bayu diminta untuk bersiap jika pernikahannya akan sangat cepat dilangsungkan setelah Ica juga menyetujui perjodohan ini. Bayu tidak mempermasalahkan secepat apa ia menikah, jika semua orang telah setuju, dan itu baik, maka Bayu tak perlu khawatir dan menerima saja.


Lain halnya dengan Ica. Baru saja ia menyiapkan hatinya untuk memberanikan diri menerima perjodohan ini. Energinya telah habis. Lantas, ia menjadi sangat lemas saat harus mendengar ucapan calon mertuanya ini yang sudah menanyakan tentang waktu pernikahan. Ica tidak dibiarkan menarik nafas lebih dulu. Karena kehabisan energi, Ica menyiasatinya dengan banyak meminum air mineral, kemudian mengatur nafasnya.

__ADS_1


Semua orang yang melihat tingkah Ica berusaha menahan tawa. Sebab, tingkah Ica menampakkan sekali kalau ia salah tingkah dengan ucapan Andi.


"Apa nggak masalah kalau kami dinikahkan dengan cepat? Nanti, apa kata orang-orang kantor? Bisa jadi Ica dituduh udah di hamilin sama Pak Bayu, makanya tiba-tiba kami dinikahkan." Ica yang telah selesai mengisi kembali energinya mengutarakan pendapat dengan santainya.


Bayu yang mendengarnya jadi tersedak karena sedang meneguk air minum juga. Ia terbatuk-batuk dan berusaha menghentikan batuknya dengan banyak minum.


Semua orang yang ada di meja makan merasa tidak dapat menahan tawanya. Mereka akhirnya tertawa lepas melihat tingkah dua manusia ini. Ica yang tak tahu apa yang dibicarakannya, dan Bayu yang tersedak karena Ica membicarakan hal yang begitu vulgar di depan banyak orang, apalagi menyangkut dengan dirinya.


"Hahahaha, Ica, kamu tahu apa yang kamu omongin?" Raka buka suara. Ica heran dengan semua orang yang tertawa, dan Bayu yang tersedak karena ucapannya. Kemudian, ia mengingat kembali apa yang telah ia ucapkan. Saat diingat kembali, Ica langsung menangkup mulutnya dan menunduk malu. Ia sadar telah mengutarakan hal yang vulgar di depan banyak orang. Ica memerah karena sangat malu.


"Iya, benar. Dan kalau ketahuan yang ngomongin kalian dari divisinya Bayu, pasti Bayu langsung menyuruh karyawan itu untuk mengundurkan diri. Hahahaha," ucap Raka menimpali. Bayu merasa agak tersindir, bos besar ternyata tahu kebiasaan Bayu yang suka memecat karyawan.


"Mereka sudah kenal selama dua bulan. Lebih baik pernikahannya segera dilakukan. Bagaimana kalau bulan depan?" Lagi-lagi Andi membuat pernyataan yang Ica tidak siap mendengarnya.


"Hah? Bulan depan? Satu bulan lagi maksudnya?" tanya Ica terkejut bukan main.


"Iya, lebih cepat lebih baik, kan? Lagian, kalian berdua udah sama-sama setuju untuk dijodohkan. Ya, tinggal dinikahkan saja, kan? Apa kamu merasa satu bulan lagi itu terlalu cepat, Ica?" jawab Andi seraya menatap orang-orang dari Arshad Grup itu—keluarga Ica.

__ADS_1


"Kalau menurut Ica, sih, iya, Om. Soalnya, persiapan pernikahan itu, kan, banyak banget. Cetak undangan, ngundang orang-orang, belum lagi fitting baju pengantin, pilih gedung pernikahan, catering, dan sebagainya. Emang waktu satu bulan itu cukup?" tanya Ica memastikan. Sebenarnya, ia juga belum siap jika secepat itu mengganti statusnya sebagai istri orang. Ica juga merasa jika secepat itu akan menyulitkannya untuk menaruh hati duluan ke Bayu sebelum pernikahan benar-benar dilakukan. Setidaknya, ia ingin menaruh hatinya pada Bayu meski sedikit, sehingga pernikahan mereka nantinya bukan hanya didasarkan atas perjodohan saja, tetapi juga atas dasar cinta. Pasti perlu waktu lebih dari sebulan untuk menumbuhkan rasa cinta di hati masing-masing, pikir Ica.


"Bahkan lebih dari cukup. Surya Group adalah lulusan manajemen terbaik di kampus pada masanya, jangan kamu ragukan kemampuan kami. Urusan seperti ini bahkan terbilang mudah untuk diatur bagi kami. Tentu, kedua keluarga akan saling membantu, ditambah bantuan dari pihak-pihak yang akan melancarkan pernikahan ini juga. Urusan pasti akan aman terselesaikan, kok. Apalagi yang mau kamu khawatirkan?" jawab Andi mantap. Tidak ada celah lagi untuk Ica buka suara setelah dijawab sangat sempurna seperti itu.


"Kalau udah dibilang kayak gitu, Ica ngikut aja, deh," ucap Ica terdengar pasrah di telinga Bayu.


"Kamu menerimanya, Raisa? Pernikahan akan diadakan satu bulan lagi, loh. Apa kamu siap?" tanya Bayu langsung. Ia tahu betul kalau Ica biasanya akan berargumen panjang jika dihadapkan dengan hal yang mirip seperti ini jika bersama Bayu. Bayu tahu, Ica tampak menahan diri untuk berargumen karena segan dengan Andi. Makanya, Bayu memancing Ica, hal itu juga ia lakukan agar Ica tidak menyesal nantinya.


"Pak Bayu sendiri, emangnya siap?" tanya Ica balik.


"Saya sudah siap dari awal sejak dijodohkan. Lain halnya dengan kamu. Mungkin, kamu masih bingung mencerna semuanya. Semuanya terlihat tiba-tiba untuk kamu. Kalau kamu keberatan, jangan ragu untuk mengatakannya," Bayu menjawab dengan penuh percaya diri. Hal itu membuat Ica agak gugup.


"S-saya nggak keberatan, kok. Saya udah siap. Saya masih punya Bunda untuk diandalkan kalau saya butuh seseorang untuk menguatkan saya dengan semua ketiba-tibaan ini," jawab Ica juga yang memaksakan diri untuk terdengar penuh percaya diri.


"Ya udah kalau gitu. Yang bersangkutan kelihatannya nggak keberatan dengan pernikahan yang akan dilaksanakan satu bulan lagi. Lebih cepat lebih baik memang," Andi mengambil kesimpulan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2