Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Menjaga Jarak


__ADS_3

Bayu bukan malah kembali ke dalam, ia malah merenungi beberapa menit setelah Dirga pergi dari hadapannya. Untuk kali ini, ia bolos kerja untuk sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan. Anehnya, ia tak mempedulikan itu, ia bahkan tak merasa bersalah soal itu. Karena yang ia inginkan sekarang adalah menenangkan diri dan mencerna semuanya dengan baik, bukan bekerja dan malah tak bisa fokus karena dirinya tak merasa tenang.


Bayu kemudian mengambil ponselnya. Dicarinya nama Caca di sana, kemudian ia mengirimkan chat tanpa membaca chat drama Caca sebelumnya yang menumpuk.


"Jangan melibatkan orang lain. Kalau kamu merasa diabaikan, aku minta maaf. Kita harus bicara, sabtu ini setelah aku selesai bekerja. Lokasinya akan aku kabari lagi nanti," tulis Bayu.


Setelah merasa lebih tenang, Bayu kembali ke dalam. Ia harus membayar jam kerja yang ia korupsi tadi.


...----------------...


Ica sudah sampai di rumah, sementara itu Bayu mungkin akan pulang telat hari ini. Bayu memberitahukan Ica soal itu, kemudian tanpa banyak bicara Ica hanya menganggukkan kepala menanggapi.


Sampai di rumah, Bayu tak melihat Ica di meja makan. Padahal, biasanya tepat setelah melaksanakan shalat isya, ia sudah di meja makan. Apalagi, makan siang mereka tadi hanyalah roti yang bagi mereka tak dapat mengenyangkan perut. Karena penasaran, Bayu melihat ke kamar. Di dalam kamar, Ica ternyata berkutik dengan laptop di meja kerja sementara Bayu waktu itu yang ia gunakan saat harus menjaga Ica sakit.


"Kamu nggak makan?" tanya Bayu. Ica tak menjawab. Ia hanya menunjukkan roti di mejanya saja dan menunjuk-nunjuk mulutnya yang sedang mengunyah untuk menjawab Bayu. Ica hanya makan roti, terlebih, ia membawa makanannya ke kamar sembari bekerja. Bayu tak mempermasalahkannya, karena ia juga sering begitu.


Tanpa menanyakan tentang Ica lagi, Bayu puas dengan respons isyarat Ica, kemudian kembali turun untuk makan, sendirian.


Di meja makan, Bayu melihat obat batuk Ica ketinggalan di meja. Ia khawatir soal batuk Ica, karena di kantor Ica juga masih batuk parah. Saat selesai makan, ia kembali ke kamar dan membawa obat itu.

__ADS_1


"Kamu belum minum obat batuknya?" tanya Bayu. Ica ternyata masih belum selesai mengunyah semua rotinya, karena ia makan sambil bekerja. Alhasil, ia kembali menjawab pertanyaan Bayu dengan Isyarat. Ia keluarkan obat batuk yang ada di tasnya, yang ia beli saat jam makan siang kantor tadi, kemudian menunjukkannya ke Bayu dan mengacungkan jempol tanda ia sudah meminum obat itu.


"Kalau obat peningnya? Udah kamu minum? Kamu juga baru sembuh, terus di kantor kerjaan juga banyak, dan bahkan saat di rumah pun kamu juga masih harus bekerja. Apa kamu udah minum obatnya?" tanya Bayu agak panjang. Ica diam dan kemudian menggelengkan kepala. Sejak lupa membawa obat peningnya tadi pagi, ia tak meminumnya lagi sampai sekarang. Ia juga tak membelinya sekalian saat akan membeli obat batuknya.


"Huh..., ini udah saya bawakan. Kamu harus minum itu. Saya tahu kamu sering pening, tapi kamu menahannya," ujar Bayu. Ia memberikan obat pening itu ke Ica, kemudian kembali ke bawah untuk bekerja di ruangan kerjanya.


"Kamu bukan dokter, Mas, bukan juga dukun yang tahu kalau aku ini masih pening. Nyatanya omongan kamu salah, aku sama sekali nggak pening. Bukan kepalaku yang sakit, tapi hatiku!" batin Ica meraung. Harusnya ia merasa senang karena diperhatikan oleh Bayu. Tapi ia malah tak yakin kalau Bayu memberikan perhatian itu dengan tulus.


...----------------...


Hari Jum'at, Ica pergi lebih dulu ke kantor dengan supir rumahnya, tidak bersama dengan Bayu. Ia tak menyupiri Bayu, karena ia dianggap masih sakit oleh Bayu. Jadi, ia meminta supir rumah bundanya untuk membawanya ke kantor. Ica beralasan ingin memesan sarapan Bayu lebih awal, karena ia tidak sanggup berdiri untuk mengantri jika beli di jam biasanya ia beli. Ica mengabari itu di chat, dan Bayu menyetujuinya karena ia tahu orang yang baru sakit tidak akan sanggup berdiri lama, itu akan membuat pandangannya di sekitarnya menghitam. Pada dasarnya, Bayu mengizinkan karena khawatir. Ingin sekali menyuruh Ica untuk tak usah membelikan sarapannya, tapi itu sudah tugas Ica sebagai sekretariat.


Di Hari Jum'at itu, Ica sengaja tak melakukan kontak dengan Bayu. Berbicara pun tidak sama sekali. Ia hanya mengangguk atau menggeleng, dan kadang berusaha untuk tak merespons apa-apa jika berhadapan dengan Bayu. Berkomunikasi pun via chat, ia begitu menghindar berbicara secara langsung dengan Bayu. Pulang lebih awal pun, ia hanya mengabari Bayu via chat, padahal ia biasanya masuk ke ruangannya Bayu untuk berpamitan langsung.


Di Hari Sabtu juga terjadi hal yang sama. Bahkan di rumah pun, Ica tak menyambut Bayu saat pulang shalat. Bayu tak mempermasalahkannya karena ia juga tak mementingkan sambutan yang rutin dari Ica. Ditambahkan Ica sedang datang bulan dan baru sakit, jadi Bayu menganggap itu wajar untuk Ica lakukan, sekaligus mengistirahatkan dirinya sampai benar-benar sehat.


"Maaf, Pak, saya hari ini mau izin pulang cepat, sekarang. Saya mau menemui bunda sebentar, kemudian istirahat di sana," tulis Ica via chat pada Bayu dua jam sebelum jam kantor selesai. Pastinya ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya lebih dulu baru berani meninggalkan kantor.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Saya nggak bisa menyusul hari ini. Karena ada pertemuan penting setelah selesai kerja," balas Bayu. Dari tulisannya, tersirat kekecewaan di sana. Tapi Ica bukan fokus pada kekecewaan Bayu, ia malah fokus dengan pertemuan lain yang kata Bayu penting. Ica sudah tahu siapa yang akan ditemui Bayu, sampai menganggap pertemuan itu penting. Mungkin lebih penting daripada menyusul Ica ke rumah bundanya.

__ADS_1


"Saya sendiri aja naik ojek online, Pak."


"Ojek online? Saya nggak pernah tahu kalau kamu pernah naik itu. Biar saya yang antar!" terbaca Ica, Bayu kelihatan memaksa. Ica jadi kurang senang dengan itu.


"Nggak perlu, Pak. Saya tahu Anda sibuk. Saya juga bisa jadi cewek mandiri, kok, tanpa bantuan Anda," balas Ica. Sebenarnya ini sama sekali tak ada hubungannya soal kemandirian, tapi Ica geram sekali dan malah mengetik seperti itu.


"Apa maksud kamu?"


"Saya bisa ke rumah bunda sendiri. Naik ojol juga udah pernah sebelumnya. Jadi Anda jangan berlebihan. Saya juga udah sembuh, benar-benar sembuh."


"Kamu menghindari saya?"


"Nggak."


"Ke ruangan saya sekarang. Kalau kamu mau izin, lebih baik bicara langsung. Jangan melalui chat!"


"Maaf, Pak, ojol saya udah datang. Saya izin pergi dulu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2