
Kini tiba saatnya, Ica yang sudah rapi mengenakan gaun serba putih duduk di meja rias. Ia tampak begitu indah dengan gaun itu.
Ijab kabul sudah selesai diucapkan. Semua orang sedang menunggu Ica untuk turun. Manda menjemput sang anak untuk menemui pria yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Alhamdulillah."
"Masya Allah, tabarakallah."
Suara yang tergema di ruangan bawah sangat mendebarkan. Di sambut sorak-sorai bahagia itu seketika membuat Ica juga merasakan kebahagiaan. Ia refleks melukiskan senyum di bibirnya. Namun, ia sadar kembali dengan ucapan Caca beberapa hari lalu, membuat Ica memurungkan wajahnya.
"Pak Bayu, apa nggak salah menyebutkan nama waktu ijab kabul? Apa dia sempat salah mengucap Raisa menjadi Salsa? Apa aku kabur aja, ya?" ucapnya dengan dirinya sendiri di depan cermin.
"Hah? Kabur? Apa maksud kamu? Mau kabur kemana kamu?" tanya Manda dengan suara menggelegar yang berhasil membuat Ica terkejut.
"Aa..., nggak kok, Bun. Tadi cuman bercanda aja, hehe."
"Jangan macam-macam kamu, ya, Ca. Kamu udah sah jadi istri Bayu sekarang. Mau kabur pun nggak akan ngerubah status kamu."
"Iya iya. Bunda bawel, deh."
"Ica..., kamu turun sana."
Ica tak tahu kalau ia akan berpisah dari bundanya. Bahkan, ia tak memikirkan soal itu, karena pikirannya dipenuhi oleh semua hal yang menyangkut Bayu. Manda juga tak ingin menyinggung soal itu sekarang. Kalau Ica sadar, ia pasti akan menangis sesenggukan dan melunturkan riasan wajahnya yang cantik itu.
Semua orang melihat ke arah Ica yang sedang turun dari tangga dengan anggun. Begitu pula dengan Bayu yang sekarang tanpa ragu memandangi Ica yang sudah menjadi istrinya itu. Bayu sangat mengagumi kecantikan yang terpancar dari Ica. Ia baru sadar ternyata Ica memiliki pesona sebesar ini, ia tak pernah tahu Ica adalah wanita cantik yang sekarang sudah menjadi istrinya. Padahal, yang Irsyad tahu, Ica selalu berwajah jutek dan pembangkang. Memasang wajah cemberut jika diberi tugas yang terlalu banyak. Berwajah menyebalkan, membuat orang kesal.
Bayu..., sebenarnya ia tidak benar-benar melihat Ica membuat semua wajah-wajah yang ia pikir tadi. Ia tidak benar-benar melihat Ica selama ini, kecuali hari ini. Ia hanya menyimpulkan bagaimana Ica mengekspresikan wajahnya melalui bagaimana Ica mengekspresikan suasana hatinya dengan suara. Bayu tak pernah memandang langsung ke arah Ica, ia sangat menjaga pandangannya. Ia tidak pernah melihat area mata Ica lama-lama, apalagi memandangi wajah Ica dengan terbuka. Namun, sekarang ia tak perlu menjaga pandangannya lagi. Ia bisa dengan puas memandangi Ica sekarang. Ia bisa tahu dengan jelas wajah seperti apa yang akan Ica buat ketika bersama Bayu.
"Umm..., Pak Bayu, saya minta izin untuk salim tangan Anda."
__ADS_1
Bayu tersenyum dan mengangguk menyetujui. Kemudian memberikan tangannya.
Ica tampak ragu memegang tangan Bayu. Ia tak pernah menyentuh pria yang bukan mahramnya. Tapi, jika sudah menikah begitu, seharusnya ia tak usah ragu, kan? Karena melihat keraguan Ica, akhirnya Bayu bertindak juga. Ia juga masih malu-malu jika tangannya disentuh lama oleh Ica. Lalu, dengan cepat Bayu membawa tangannya menuju ke bibir Ica untuk segera di kecup. Kemudian, segera melepaskan tangannya.
Tanpa aba-aba, Bayu pun mengecup kening Ica. Tidak begitu lama, tapi terasa sangat lama dan begitu berbekas untuk mereka berdua yang merasakannya langsung.
Keduanya merona setelahnya. Ica tak mengerti apa ada perasaan di hati Bayu untuknya? Kenapa saat merasakan kecupan di keningnya itu terasa begitu lembut dan penuh cinta? Apa itu hanya perasaan Ica saja? Toh, aslinya, kecupan itu tidak berlangsung lebih dari tiga detik.
...----------------...
Pesta pernikahan langsung di gelar di hari yang sama juga. Hari yang melelahkan untuk mereka berdua. Menerima ucapan selamat dengan berdiri, berfoto, dan terus tersenyum pada tamu. Benar-benar melelahkan saat menjadi pengantin begini. Bahkan, Ica lebih bersyukur diberi pekerjaan yang banyak oleh Bayu di bandingkan ini.
Gedung pernikahan ada di dekat rumah keluarga Arshad, rumah Ica. Jadi, kedua keluarga pulang ke kediaman Arshad setelah pesta pernikahannya selesai.
"Saya ke kamar mandi duluan, ya. Tapi maaf kalau lama. Soalnya saya perempuan." Ica meminta izin untuk membersihkan diri sebelum tidur. Ia paling tidak bisa tidur dengan tubuh lengket dengan keringat.
Bayu pun menunggu. Namun, ini sudah terlalu lama baginya. Bayu pun ingin membersihkannya diri, ia tak sabar menunggu Ica.
"Raisa! Raisa! Apa yang kamu lakukan di dalam sana? Udah dua jam kamu di sana." Bayu mengetuk pintu kamar mandi Ica dengan gusar. Belum lama menikah, akhirnya sifat aslinya dikeluarkan lagi, pikir Ica yang terganggu dengan ketukan pintu yang keras itu.
"Iya. Pak Bayu kalau mau ke kamar mandi, ke kamar mandi yang lain aja. Ica betul-betul masih lama, nih," respons Ica setengah berteriak.
"Oke." Bayu keluar membawa baju gantinya. Ia tadi ada melihat kamar mandi di sebelah kamar tamu tempat adik-adiknya tidur. Berada di lantai dua, lantai yang sama dengan kamar Ica. Tapi tidak terlalu jauh. Ia segera menuju ke sana.
"Mana mungkin aku bilang ke dia kalau aku lagi datang tamu bulanan. Untung dia yang tanya duluan. Jadi, aku bisa ke kamar lagi ambil stok pembalut di lemari," batin Ica setelah mendengar suara pintu kamar yang menandakan Bayu telah keluar. Ica pun berjalan seperti detektif untuk ke kamarnya. Ia harus cepat-cepat karena hanya menutupi tubuhnya dengan handuk saja. Kalau dilihat Bayu bisa bahaya.
Selesai Ica dengan mengurus tamu bulanannya, ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia tertidur pulas, lupa akan statusnya yang sekarang istri orang. Ia bahkan tak menyisakan separuh bagian ranjang untuk Bayu tiduri.
"Raisa! Raisa!" Bayu selesai dengan membersihkan tubuhnya. Ia memanggil Raisa, membangunkannya lebih tepatnya.
__ADS_1
"Raisa! Raisa!" Bayu mengulanginya lagi, kali ini lebih keras, agar Ica terbangun.
"Mm..., kenapa?"
"Bisa kamu geser sedikit? Gimana saya mau tidur kalau kamu mengambil bagian saya juga?"
"Tidur tinggal tidur aja, Mas."
"Mas?" Bayu terkejut saat Ica mengucapkan itu.
"Iya, tapi saya juga mau tidur di ranjang. Kamu geser sedikit ke sana." Bayu mulai mengomel.
"Masih bisa nih. Emang nggak mau mepet sama istri sendiri? Udah sah, juga." Ica benar-benar tak memperhatikan kasurnya.
"Raisa, kamu sepertinya ngelindur. Mana bisa saya tidur terlalu mepet seperti ini. Meskipun kamu sudah menjadi istri saya sekalipun. Kalau seperti ini, lebih luas dan leluasa jika saya tidur di sofa."
"Mas Bayu bawel banget. Udah malam gini masih aja galakin istrinya. Udah sini, tinggal tidur." Ica menarik paksa Bayu untuk seranjang dengan Ica dengan jarak yang sangat minim di antara keduanya.
Mereka berhadapan. Bayu sangat terkejut Ica bisa seberani ini.
"Mas Bayu galak banget, ya! Sama kayak Bunda yang suka bawel marahin Ica di rumah ini. Tapi tetep galakan Mas Bayu, deh, kayaknya. Aa..., ngapain juga nyamain kamu sama Bunda? Beda banget. Bunda sayang banget sama Ica. Marahnya Bunda tanda sayang ke Ica. Sedangkan Mas Bayu? Sayangnya Mas Bayu mungkin ada, tapi Ica nggak yakin kalau rasa sayang itu untuk Ica. Kenapa sih, Mas, mau nikah sama Ica untuk urusan perusahaan lagi? Apa gila kerja itu harus melibatkan kehidupan pribadi seperti rela menikahi orang yang membenci kamu?" Ica berceloteh sambil memejamkan matanya, setengah sadar.
"Kamu menyesal sudah memutuskan menikah dengan saya?" tanya Bayu terdengar serius.
"Nggak, kok. Mas Bayu yang pasti akan merasa menyesal karena menyetujui perjodohan ini hanya karena ingin yang terbaik untuk perusahaan dengan bersatunya dua keluarga."
"Ca, kamu nggak lagi sadar dan serius ngomongnya, saya tahu itu. Kamu cuma ngelindur karena kecapean aja."
"Ca? Ca siapa, Mas? Caca? Bukannya Ica dipanggil Raisa sama, Mas?"
__ADS_1
"Di saat seperti ini pun, Mbak Caca yang ada di pikirannya?" batin Ica. Kemudian, ia benar-benar tertidur. Tak sempat ia dengar respons dari Bayu. Bayu pun sebenarnya tidak merespons, karena tak tahu harus merespons bagaimana.
...----------------...