Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Tak Dapat Berpisah


__ADS_3

Dengan berat hati, Bayu mengizinkan Ica berhenti jadi sekretarisnya. Bayu sudah mengonfirmasi kepada Raka, tapi entah kenapa dirinya dipanggil lagi untuk segera ke ruangan Raka.


"Pak, Anda dipanggil untuk ke ruangannya Pak Raka, kan? Saya juga di suruh ke sana bersama Anda. Jadwalnya saat makan siang nanti. Sekretaris Pak Raka udah menyiapkan makan siang juga untuk kita makan bersama, jadi kita nggak perlu makan siang dulu. Sebaliknya, mungkin Pak Raka bermaksud untuk mengajak kita makan siang bersama," ujar Ica memastikan jadwal Bayu dan memberitakan langsung pada Bayu beberapa saat sebelum jam makan siang.


"Kalau gitu, apa kamu mau pergi bersama saya ke ruangan beliau bersamaan?" tanya Bayu memastikan.


"Memang seperti itu permintaan beliau, Pak. Kenapa Anda harus bertanya lagi soal itu?" jawab Ica agak sewot. Bayu seperti berbasa-basi agar dapat mengobrol lebih lama dengan Ica.


Bayu yang dulu mungkin akan membalas sewotnya Ica. Namun, ia tak melakukannya karena ia tak mau menambah kejengkelan Ica lagi. Sejak diberikan kesempatan kedua oleh Ica, Bayu selalu berusaha mengalah dan menurunkan egonya.


...----------------...


"Ayo, di makan dulu. Setelah selesai makan, kita baru pindah dan mengobrol di sofa," Raka mempersilahkan.


Ketiganya makan dengan cepat agar cepat pula mereka mengobrol di sofa.


Setelah mengucapkan kalimat pembuka, Raka berhenti sejenak untuk menyesap kopinya. Obrolan selanjutnya akan membahas hal serius, tak ada waktu untuk meneguk minum di tengah-tengah obrolan.

__ADS_1


"Setelah Ayah pikir-pikir, keputusan Ica untuk keluar dari divisi humas dengan niatnya itu udah bagus banget," mulai Raka lagi. Ica dan Bayu jadi tahu, kenapa mereka dipanggil langsung ke ruangan Raka. Mungkin soal ini tak dapat hanya dibahas melalui telepon.


"Tapi memisahkan Ica dengan Bayu itu bukan hal yang baik. Ayah juga nggak mau Bayu jadi nyimpen dendam ke Ayah karena ngizinin Ica untuk pindah divisi," imbuh Raka. Ica dan Bayu bingung dengan dua pernyataan Raka yang berlawanan.


Raka sudah berpikir banyak soal permintaan putrinya itu untuk keluar dari divisi humas. Ia mengingat kembali obrolannya dengan Ica, ia tak menemukan permintaan agar Ica tak dijadikan sekretaris Bayu lagi. Ica hanya ingin belajar di divisi lain, menjadi sekretaris dari manajer divisi lain untuk belajar. Di situ Ica berpikir bahwa Bayu pasti akan selalu menjadi manajer divisi humas, makanya ia tak bisa dipindahkan dengan bebas. Jadi, Icalah yang minta dipindahkan.


"Ayah akan kasih Ica kesempatan untuk pindah dari divisi humas menjadi bekerja di bawah Ayah langsung. Sebagai putri dari pemilik perusahaan, udah saatnya kamu belajar langsung di bawah Ayah, Ca," ucap Raka memandang Ica. Respons Ica sangat senang. Ia memang meminta ingin bekerja sebagai sekretaris Ayahnya, tapi bekerja di bawah sang Ayah langsung juga tidak buruk, pikirnya.


Ica berpikir, meskipun tak dapat menjadi sekretaris ayahnya, ia masih bisa belajar tentang jalanin perusahaan dari Ayahnya. Anak satu-satunya, berarti Ica yang bakal meneruskan perusahaan ini. Agak terlambat juga karena baru belajar sekarang, tidak dari dulu.


"Kamu jangan senang dulu, tapi, Ca. Kamu memang akan dipindahkan dari divisi humas, tapi kamu nggak sendirian, kamu juga bukan jadi karyawan biasa."


"Ayah butuh wakil Ayah, yang berarti wakil pimpinan perusahaan. Perusahaan kita udah jadi lebih besar setelah pernikahan kamu dan Bayu. Ayah masih kewalahan meskipun udah punya sekretaris. Karena Ayah merangkap jabatan direktur utama dan presiden direktur. Kadang, Ayah suka kewalahan ambil keputusan dan ragu-ragu karena dua perusahaan udah lebih erat. Ayah nggak terlalu tahu detil Surya Group bagaimana. Nah, Ayah mau bantuan Bayu juga sebagai pengambil keputusan selain Ayah. Yang artinya, Ayah mau Bayu jadi wakilnya Ayah. Dan Ica, kamu jadi sekretaris Bayu di bagian eksekutif perusahaan."


"Hah?"


"Tapi nggak bisa bener-bener sekarang. Pemegang divisi humas bakalan kosong, jadi kita harus menunggu pengganti Bayu datang. Tapi nggak usah khawatir, Ayah juga udah hubungi orang cabang yang berbakat dan cocok untuk mengambil posisi yang sebelumnya dipegang oleh Bayu. Memang nggak terlalu perfeksionis kayak Bayu, tapi kerjanya cukuplah untuk memegang divisi humas."

__ADS_1


"Yah, tunggu dulu. Kenapa Pak Bayu harus ikut juga? Kan, Ica yang minta dipindahin. Lagian, divisi humas udah klop banget sama Pak Bayu. Tanpa sekretaris pun, dulu beliau bisa handle semuanya sendiri. Jadi, untuk apa dipindahkan ke bagian eksekutif bareng Ica? Kalau Ayah mau tanya-tanya untuk ambil keputusan soal perusahaan, Ayah bisa tanya via daring ke Pak Bayu, nggak usah sampai pindahin segala. Ayah juga bisa, kan, langsung hubungi Dirga atau Pak Andi?"


"Ca, kamu tahu mereka juga sibuk. Ayah juga nggak bisa terus-terusan nanya ke Bayu kalau Bayunya juga sibuk ngurusin divisi humas. Nanti nggak fokus kerjanya Bayu, dan Bayu malah benci itu. Kamu tahulah sifat perfeksionis Bos kamu ini. Nah, soal divisi humas, nggak usah dipikirin. Penggantinya Bayu ini punya sifat yang mirip sama Bayu, cuman lebih ramah dan gampang akrab sama bawahan. Jadi, Ayah pastikan dia bisa menghandle divisi humas dengan baik, dianya juga punya sifat yang kekeluargaan, kok. Udah cukup banget untuk mengambil alih divisi humas yang Bayu pegang. Terus, Bayu juga udah terlalu nyaman di divisi humas, lebih baik cari pengalaman lain juga, kan? Lagian, tujuan pernikahan kalian juga, kan, untuk menyatukan dua perusahaan. Nah, sekarang kalian harus terlibat langsung sama dua perusahaan ini. Toh, perusahaan ini juga akan Ayah teruskan ke kalian."


Ica berpikir, itu artinya sama aja usaha untuk menghindar sepenuhnya dari Bayu gagal. Meskipun ada niat lain yang juga untuk kebaikan Bayu.


"Kamu bagaimana Bayu? Apa menerima keputusan ini?" lempar Raka ke Bayu.


"Saya agak terkejut sebelumnya saat ikut dipanggil ke sini bersama Raisa. Saya lebih nggak nyangka lagi, karena obrolannya akan mengarah ke sini. Jujur, saya nggak ada pikiran apapun untuk pindah divisi. Mungkin karena saya terlalu nyaman di sana. Tapi, yang Pak Raka bilang itu nggak ada salahnya. Saya siap dipindahkan. Mendengar perkataan Pak Raka, saya juga merasa ingin mencari pengalaman baru. Di bagian eksekutif, ada banyak hal yang dapat saya pelajari dan jadikan pengalaman yang bagus."


"Kamu gimana, Ca?"


Ica diam. Jika pindah divisi, tapi masih bersama Bayu, bukan cari pengalaman lagi. Ia sudah berpengalaman bekerja dengan Bayu. Ayahnya hanya mengusulkan untuk pindah dari divisi humas dan mencari pengalaman di bagian eksekutif. Raka tak mengubah posisi Ica sebagai sekretaris Bayu.


"Ayah udah mikirin ini dengan baik, Ca. Kamu sama Bayu memang harus terus bersama. Setiap aspek udah Ayah pertimbangkan. Dan sekarang, Ayah memang lagi butuh banget wakil Ayah. Dan Bayu juga mengerti tentang perusahaan Papanya itu. Bayulah orang yang tepat untuk di posisi ini. Dan kamu, Ca, kamu bisa belajar dari Bayu dan Ayah langsung meskipun di posisi sekretaris lagi bekerjanya."


Ica diam, lagi. Hingga akhirnya sang sekretaris Raka menginterupsi untuk mengingatkan Raka jadwal Raka selanjutnya, yang mengharuskan Ica dan Bayu juga kembali ke divisi humas. Pembicaraan menggantung. Ica tak bisa lepas dari Bayu, dan itu agak menjengkelkan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2