
Ica sampai di rumah, kemudian tidur dengan pulas. Ia merasa ada kelegaan sekaligus keganjalan setelah mendengar penjelasan Caca. Yang awalnya ia berharap baru bisa menentukan sikap ke Bayu setelah mendengar Caca, kini malah ia semakin bingung untuk menentukan sikapnya.
Mendengar Caca bicara seperti itu, Ica merasa dirinya seperti orang jahat yang seenaknya merebut milik orang lain.
"Ca..., bangun, Ca. Kamu udah kelamaan tidur. Takutnya kamu telat hari ini," suara Bayu kuat yang berani membangunkan Ica. Sebelumnya ia memanggil Ica dengan panggilan Raisa, tapi itu tak mempan. Bayu berpikir, dengan membangunkannya dengan memanggil Ica, ia akan bangun. Terlebih, itu mungkin bisa mengingatkannya pada bundanya, meski agak menyakitkan buat Bayu.
Bayu sudah bersiap-siap akan ke kantor, sudah rapi. Namun, Ica masih saja tidur. Kalau bisa marah, Bayu akan marah karena Ica akan telat ke kantor nantinya, tapi ia tidak memilih itu karena sedang dalam proses berbaikan kembali dengan Ica. Sebenarnya mereka akan melakukan perjalanan Dinas hari ini, jadi tidak perlu ke kantor. Namun, Si Perfeksionis Bayu ini ingin menyetorkan mukanya dulu ke kantor agar bawahannya pada takut dan menjadi disiplin karena mereka sedang diperhatikan Bayu. Kalau kata Bayu, ia ingin melihat bagaimana bawahannya berprodiktifitas, sekaligus mengawasi dan mendisiplinkan secara tak langsung agar mereka lebih produktif.
Ica bangun, ia mengira itu suara bundanya. Tapi kemudian ia menyadari kalau hal itu mustahil terjadi. Ia tahu itu Bayu. Ica langsung duduk setelah dibangunkan Bayu, kemudian melamun mengumpulkan nyawa sekalian.
"Kalau sekarang kita nggak mungkin berangkat bareng ke kantor. Kamu juga kalau nyusul nanti bakalan nggak sempat, telat. Jadi, ketemuan di lokasi aja, ya?" ujar Bayu yang kini lembut.
Ica tak merespons. Tiba-tiba pikirannya kembali ke semalam, soal pertemuannya dan Caca waktu itu.
Ica jadi berpikiran macam-macam. Dari ucapan Bayu, Caca menyimpulkan bahwa Bayu akan pergi tanpa dirinya. Kenapa hanya dengan dibilang begitu terasa sangat menyayat hati Ica? Bagaimana jika Bayu pergi dari kehidupan Ica lama? Padahal, ditinggal ke kantor hanyalah waktu yang sebentar.
"Mas Bayu mau pergi ninggalin Ica?" suara lembut nan manja Ica keluar. Ia lama merespons, sekalinya merespons, Ica mengeluarkan pernyataan yang tak disangka.
"Apa itu tadi? Ica? Mas? Apa karena aku duluan yang membangunkannya dengan panggilan Ica, makanya tingkahnya seperti ini? Tapi apa benar? Mungkin saja ia masih mengumpulkan nyawanya dan tak sadar mengucapkannya hal manis barusan," batin Bayu bertanya-tanya.
"Kalau untuk ke kantor, mungkin iya, saya pergi duluan, sih. Kenapa?"
"Iya itu sama aja ninggalin Ica, kan?"
__ADS_1
"Wait, wait, wait. Are You okay?" Satu lagi magic word yang Ica tak rekomendasikan ke Bayu, dan itu dilontarkan dengan tulus ke Ica. Benar-benar terdengar nada khawatir di sana. Sebuah magic word yang setelah diucapkan di saat seperti ini akan menumpahkan air mata Ica.
Posisi Bayu kini berdiri di depan Ica, dan secara refleks Ica menunduk seraya menyembunyikan air matanya.
"Raisa..., kenapa? Kamu menangis, kan? Kamu nggak apa-apa? Coba cerita, biar kalau saya salah, saya bisa tahu."
"Curang! Kamu curang, Mas. CuraAAAANG!" Ica memukul-mukuli dada Bayu di depannya, tangisnya kian menjadi.
Bayu bingung harus apa. Yang ia lakukan adalah membawa Ica dalam dekapannya, meskipun Ica masih terus memukul-mukuli dadanya.
Bayu membiarkan Ica puas dengan menyalurkan emosinya lewat pukulan yang sebenarnya tidak terlalu sakit itu. Ia juga membiarkan Ica menangid sepuasnya, tak ada kata ledekan cengeng untuk Ica kali ini. Karena kini Bayu berusaha peka, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menyalurkan emosinya. Seperti Bayu yang cara menyalurkan emosinya dengan kemarahannya, Ica menyalurkannya lewat tangis dan tenaganya yang seadanya. Melihat Ica menangis malah membuat Bayu juga ingin menangis. Ia merasa tak bisa menghentikan tangisan Ica itu.
"Hus..., cerita, Raisa. Mungkin dengan cerita kamu bisa merasa lebih baik," ucap Bayu yang matanya mulai memerah karena menahan tangis.
"Jangan panggil Raisa, Mas. Kamu kalau Ica ngomong jangan apa-apa langsung dituritin, dong. Waktu itu Ica juga emosi karena kamu emosi. Pokoknya jangan panggil Raisa lagi. Jangan pernah. Ica juga nama yang spesial. Bunda yang ngasih langsung panggilan itu. Dan Ica juga cukup imut untuk dapat panggilan Ica ini, kan? Panggil pendeknya juga, Mas. Ca..., gitu. Jangan ragu, Mas. Ya, Mas?"
"Mas Bayu jangan ninggalin Ica. Selamanya jangan. Sebentar pun nggak boleh pokoknya. Ica kan sekretarisnya kamu di rumah dan di kantor, jadi Ica harus ikut kemanapun Mas Bayu pergi. Pokoknya, Ica nggak mau ditinggalin, Mas. Ica takut Mas Bayu hilang dari tatapan Ica. Ica takut Mas Bayu balik ke pemilik hati Mas yang sebenarnya."
Ica mengeluarkan keluh kesahnya sambil sesenggukan. Hal itu sangat menyentuh hati Bayu. Ia memang sering melihat Ica menangis, tapi ia tak pernah melihat Ica serapuh ini. Dari semua yang telah diucapkan oleh Ica, Bayu dapat tahu bahwa Ica baru saja meminta penjelasan dari Caca yang telah menceritakan semuanya plus melebih-lebihkan, belum lagi ucapan Caca yang pastinya memprovokasi, sehingga Ica bisa seperti ini.
Bayu hanya mengelus-ngelus lembut rambut Ica untuk meredakan tangisan Ica.
"Yaudah, kita ke kantor sekarang. Tapi kamu tunggu di mobil, ya. Kamu kan belum mandi dan belum ada mempersiapkan apa-apa untuk dinas hari ini," Bayu menawarkan solusi.
__ADS_1
"Ica nggak mau ke kantor kalau sembab gini, Mas. Tapi Mas Bayu jangan pergi tanpa Ica pokoknya." Ica makin merengek. Ditinggal oleh Bayu sebentar berasa akan ditinggal Bayu selamanya. Bukan meninggal dan menemui Ilahi, tapi meninggalkan Ica untuk kembali ke pemilik cinta Bayu, Caca.
"Jadi, kamu mau yang gimana? Coba kamu jelasin yang jelas, deh," ujar Bayu tegas, tapi perhatian.
"Ica nggak mau ke kantor hari ini. Mas juga nggak mesti ke kantor, kan?" Air mata Ica mulai mereda, ia merasa nyaman dipeluk dan dielus-elus rambutnya oleh Bayu. Kemudian ia menatap Bayu agak mendongoak karena masih dipeluk Bayu.
"Nggak bisa, Ca. Gimanapun alasannya, mereka harus ada yang nengokin," Bayu memberi pengertian dengan nada yang sangat lembut. Apalagi saat bagian nama pendeknya itu disebutkan.
"Hihi," tawa Ica. Ia kemudian membalas pelukan Bayu dengan erat dan menyamankan dirinya di sana.
"Ca, yang tadi itu Ca buat Ica, kan? Bukan untuk orang lain?" tanya Ica.
"Iya, kamu, Ca."
Sesaat kemudian, senyum Ica mengembang dan ia tunjukkan pada Bayu. Ia tersenyum dengan senyuman yang paling indah dari yang Bayu pernah lihat. "Ia habis menangis, tapi wajahnya sangat cantik saat tersenyum seperti itu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" batin Bayu.
"Ya udah, deh, Mas Bayu pergi ke kantor aja sendiri, buat nengokin mereka kerja dan mantau hal lainnya. Ica tunggu di rumah. Nanti sebelum dinas, Ica dijemput, kan, Mas? Mas Bayu jangan lama-lama di kantornya."
Bayu bingung harus bereaksi bagaimana. Tadi menangis, tiba-tiba sekarang Ica terlihat bahagia. Kemudian kembali agresif mendorong-dorong Bayu. Apa semua wanita suka berubah moodnya secepat itu? Tanya bayu tak habis pikir.
Karena Bayu didorong-dorong Ica untuk segera pergi, akhirnya pun Bayu berpamitan dan berjanji akan menjemput Ica dalam waktu dekat. Ia harus Mengorbankan waktu yang biasanya ia luangkan untuk di kantor kini menjadi lebih sedikit, dan semua itu demi Ica. Ya, demi Ica.
...----------------...
__ADS_1