
Urusan pekerjaan telah dirampungkan. Sepasang manusia yang bukan pengantin baru itu kini tiba di lokasi bulan madu. Bukan pengantin baru, kan? Meskipun dinamakan bulan madu, pernikahan mereka sudah hampir satu tahun. Jika secara harfiah bulan madu untuk pasangan yang baru saja menikah, berarti mereka bukan bagian dari pengantin baru tersebut. Meski begitu, tidak ada yang melarang penyebutan liburan Ica dan Bayu itu sebagai bulan madu.
"Mas, beneran kita bulan madunya di daerah yang banyak perkebunan kelapa sawit gini?" Ica yang rupanya sudah sampai di rumah keluarga Bayu yang di bangun di lokasi liburan mereka itu masih tidak percaya. Bagaimana tidak, Ica berpikir tempat liburan seperti pantai atau gunung sebagai destinasi rencana bulan madu mereka, tapi ini Bayu membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Ica bahkan sempat jengkel, karena sejak dijemput dari bandara oleh orang suruhan Bayu, jalanan banyak berlubang, belum lagi hampir membutuhkan waktu setengah hari untuk mereka benar-benar sampai di rumah ini.
"Kita baru sampai, lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu belum lihat keseruannya karena lelah kamu lebih mendominasi. Masuk aja ke kamar, sebelum ke sini, saya udah meminta seseorang untuk membersihkan rumah ini secara total." Bayu paham akan kelelahan Ica. Bayu sudah terbiasa dengan perjalanan dinas yang melelahkan sebelum-sebelumnya, jadi ini belum apa-apa bagi Bayu.
Baru sampai, Bayu langsung bergegas berganti baju dengan setelan yang lebih santai.
"Mas mau ke mana?" Ica bertanya saat mendapati Bayu bukan berbaring di sampingnya, tapi terlihat hendak keluar kamar.
"Mau menyapa sebentar masyarakat sekitar. Sekalian membelikan makanan untuk kamu."
Ica mengangguk paham.
"Sate padang, ya, Mas."
Bayu tersenyum, "In syaa Allah kalau ada, ya, sayang. Kamu tahu kita ada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit, kan?"
"Ya usaha, dong, sayang..., demi istri tercinta tahu!"
"Saya nggak bisa janji, ya, Ca."
"Ya udah."
"Saya pergi sebentar, ya. Kamu berani sendirian, kan?"
"Ya kali berani. Mas bisa nanti aja nggak sih ketemu masyarakatnya? Apa mas nggak capek juga? Kita istirahat barengan dulu aja. Ntar sama-sama juga menyapa masyarakat. Mas tega ninggalin Ica sendirian, hah?"
Rupanya si manja itu kambuh karakternya. Bayu seperti mengurus anak kecil jika seperti ini.
"Atau Ica ikut aja, deh, sekalian. Gimana? Jadi, Mas nggak sendirian. Bisa kenalin ke masyarakat sini juga kalau Ica ini istrinya kamu. Hehe," tawar Ica yang tiba-tiba kembali dewasa.
__ADS_1
"Kamu gimana, sih, Ca? Siapa ya yang tadi ngeluh-ngeluh kecapean? Siapa ya yang tadi di jalan ngeluh terus karena pemandangan di luar full kelapa sawit?"
"Hehe...," Ica menyengir kuda, sindiran Bayu rupanya tak membuatnya goyah.
"Ya udah, Ica mandi dulu, Mas tunggu sebentar, ya."
"Jangan lama. Saya tinggal nanti kalau pake lama."
"Iya iya, bawel!"
"Lho? Serius kamu ngomong gitu? Sebenarnya siapa yang bawel, sih?"
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Bayu dari Ica.
"Jangan galak-galak, dong, Mas...., kita kan lagi bulan madu. Ya, sayang, ya? Pleaseee....," mantra Ica pada Bayu. Tentu saja magic word Ica selalu berhasil menyihir keadaan.
"Humph! Pandai sekali perempuan itu menyiram api dengan sebuah kecupan. Dasar!" umpatan itu Bayu ucapkan pelan, seraya tersenyum mengingat kecupan barusan. Sebenarnya ia senang, tapi mulutnya tak mau jujur soal itu. Buktinya, pipi Bayu merona kala Ica mengecupnya tiba-tiba tadi.
...----------------...
Menyapa masyarakat sangat melelahkan. Wajah Bayu rupanya sudah dikenali di satu desa ini. Ica juga lelah harus selalu senyum sebagai simbol keramahan.
"Mas kok bisa se-terkenal ini, sih? Heran Ica."
"Kamu udah tahu jawabannya, kan?" Ica dima sejenak. Kemudian mengangguk mengiyakan setelah mengingat kembali komentar-komentar masyarakat kepada Bayu saat menyapa masyarakat tadi.
Bayu, lebih tepatnya keluarganya memiliki kebun kelapa sawit yang cukup luas di sini. Seorang juragan tanah, bisa dibilang. Keluarga Bayu sampai membangunkan rumah untuk tempat beristirahat ketika ingin melihat keadaan kebun sawit mereka.
Rumah yang ditinggali pasutri ini sekaranglah tempatnya. Rumah yang sangat mewah untuk di bangun di sebuah pedesaan yang kalau kata Ica sangat pelosok ini.
__ADS_1
"Sekarang mas mau bawa kita kemana?" Ica bertanya-tanya.
Mereka tidak langsung pulang, tapi melanjutkan perjalanan naik motor berdua.
Berusaha romantis, Bayu mencoba memasangkan helm untuk Ica setelah ia memasang miliknya.
Ica agak terkejut dengan serangan tiba-tiba ini. Pasalnya, mereka memang sudah naik motor dan memakai helm saat ingin menyapa masyarakat tadi, dan tidak ada adegan seromantis ini, Ica memasang helmnya sendiri. "Mas Bayu ada apa, sih? Kok tiba-tiba masangin helm segala? Bikin deg-degan aja," ucap Ica dalam hati.
"Ica..., pegangan. Peluk pinggang saya. Kamu nggak ada ngelakuin itu dari tadi. Sekarang, kita harus mengebut di jalan, jadi kamu juga harus aman di belakang saya," ucap Bayu agak berteriak. Pasalnya, keduanya sudah memakai helm, dan ada kemungkinan besar suara akan terhambat.
Ica di belakang rupanya tak mendengar dengan jelas suara Bayu. Padahal mereka masih melaju dengan kecepatan standar.
"Ha? Mas ngomong apa? Ica nggak denger. Bising banget," jawab Ica tak mau kalah, suaranya lebih besar dari suara Bayu tadi.
Bayu mengulangi ucapkan sekali lagi. Lantas Ica tetap membalas dengan respons yang sama. Dan akhirnya Bayu kesal sendiri.
Karena kesal, tapi tak ingin berdebat dengan Ica di jalan seperti ini, ia pun memilih untuk memarkirkan motor sebentar.
"Lho, kok berhenti, Mas?" tanya Ica kebingungan. Ia celingukan berharap dapat menemukan jawabannya sebelum Bayu membuka mulutnya.
Tanpa aba-aba, Ica yang sedang celingukan itu terkejut dengan kelakuan Bayu.
Bagaimana tidak? Si galak ini bisa sangat romantis. Dengan tiba-tiba tangan Ica diambilnya, lalu ia raih dan ia kecup. Lantas, tangan itu ia lingkarkan ke pinggang miliknya, membuat isyarat agar Ica memeluknya dengan erat.
Lantas, dengan lembut Bayu berucap kembali. "Peluk saya, ya, Sayang..., kita akan jalan kencang, ngebut. Saya nggak mau ada apa-apa nanti," ucapnya.
Ica yang sudah memeluk Bayu itu kini kian mengeratkan pelukannya. Layaknya anak remaja yang tengah jatuh cinta, itulah yang dirasakan Ica.
"Mas kok bisa romantis banget gini, sih? Ica kan jadi makin jatuh cinta!" ucap Ica spontan.
Bayu tak menghiraukan, tapi lebih tepatnya ia tak mendengar. Mereka sudah mengebut sejak Ica kian mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
...----------------...