
Sampai di kantor. Bayu berubah menjadi hewan buas. Setiap kesalahan yang diperbuat bawahannya selalu ia komentari dengan lantang, sekecil apapun itu. Itu cara ia mendisiplinkan bawahannya, memarahi bawahan yang berbuat kesalahan di depan yang lainnya dengan suara lantang. Biasanya ia memang selalu mendisiplinkan dengan cara ini, tapi hari ini hampir setiap karyawan divisi ini ia marahi. Sudah lama Bayu tidak sesadis ini. Efek kurang tidurnya lah yang menjadi pemicu.
"Lala!" Selesai Bayu berurusan dengan bawahan yang bermasalah baginya, kini pandangannya menuju Lala. Sudah lama Lala tak melihat Bayu semenakutkan ini. Padahal, Lala pikir, ia tidak melakukan kesalahan apapun, apa ia harus kena semprot juga, pikirnya.
"I-iya, Pak?" respons Lala gugup.
"Kamu ikut rapat hari ini, kan? Kenapa kamu santai sekali? Bawa semua keperluannya segera. Kamu ikut sama Raisa, lupa? Kamu tahu kalau ini rapat penting, kan? Sudah berapa lama kamu kerja di sini, sih?" Kalimatnya keluar dengan volume suaranya yang tinggi, benar-benar marah.
"Maaf, Pak. Saya akan siap-siap sekarang," jawab Lala.
"Nggak pakai lama." Bayu pun pergi untuk masuk ke ruangannya kembali.
Semua karyawan terlihat menghela nafas lega karena singa itu akhirnya kembali ke kandangnya.
"Wah..., aku juga kena semprot ternyata. Hari ini Pak Bayu galak banget, ya. Lagi nggak ada masalah sama kamu, kan, Ca?" tanya Lala pada Ica. Ica memang telah ikut dengan Bayu untuk melihat-lihat, sebagai sekretaris tentunya. Lalu, ia berhenti di meja Lala untuk menemani Lala mempersiapkan kebutuhan rapat.
"Hahaha, dia itu emang galak, tahu. Nggak ada hubungannya sama aku. Sekarang, Mbak Lala tahu, kan, perasaannya diomelin tapi cuma gara-gara hal kecil? Waktu baru-baru kerja di sini, aku malah nggak betah karena bosnya nyebelin banget, dikit-dikit marah. Tapi sekarang, karena udah pernah kena marah lebih parah dari ini, aku udah bisa ngerti dan mengabaikan nada tingginya waktu marah," ucap Ica seraya menyunggingkan senyum bermasalah. Ia sebenarnya juga kena marah begitu banyak pagi ini. Itu karena ia tidak fokus karena chat yang dikirim Caca. Ia selalu memikirkan itu sejak membacanya.
"Udah, ah, ayo susul Pak Bayu. Nanti dia jadi punya bahan untuk marah-marah lagi." Lala dan Ica pun menyusul.
Datang ke rapat, isi kepala Ica hanya berputar pada kejadian saat di rumah. Ia banyak membuat kesalahan, tidak seperti biasanya.
Selesai rapat pun, ia malah melamun di mejanya. Kemarahan Bayu atas tiap kesalahan yang ia lakukan tampaknya tak membuatnya memperbaiki kesalahan-kesalahan itu.
Bayu melemparkan berkas secara kasar di meja Ica untuk mengacaukan lamunan Ica. Tentu saja Ica terkejut karena itu.
"Jangan melamun aja! Dari tadi pagi kamu nggak fokus. Kerja juga bersalahan. Apa yang kamu lakukan tadi saat di ruang rapat bahkan lebih buruk daripada kinerja karyawan baru. Kamu pikir udah berapa lama kamu jadi sekretaris saya?" Ini sudah sekian kalinya Bayu memarahi Ica.
"Maaf, Pak."
__ADS_1
"Raisa, hari ini kita nggak makan siang di luar. Saya mau tidur siang untuk menebus waktu kurang tidur tadi. Bisa kamu amankan semuanya seperti biasa, kan?" pesannya sebelum meninggalkan meja Ica.
"Apa Anda mau dibelikan makanan yang ada di dekat kantor?" tawar Ica.
"Nggak perlu. Saya benar-benar mengantuk. Saya nggak mau rasa kantuk ini menghalangi saya sebagai seorang manajer. Jadi, saya harus tidur sekarang untuk memulihkan fokus setelah tidur nanti."
"Kalau roti, Anda mau, kan? Anda lupa kalau punya mag?" Ica sadar ia telah memilih kata yang menyindir Bayu secara tak sengaja. Ia merutuki dirinya sendiri.
"Haha, kalimat itu seperti sindiran kedengarannya. Kalau gitu, kamu juga belilah. Saya akan menunggu. Kita makan bersama di ruangan saya nanti, lalu kamu mengamankan semuanya selama saya tidur nanti."
"Saya berangkat sekarang, Pak."
"Oke."
Keduanya sama-sama berangkat. Bayu yang kembali ke ruangannya dan Ica yang melangkahkan keluar menuju toserba.
...----------------...
"Hay, Ica. Apa kabar? Kamu abis keluar, ya? Bukannya ini baru aja jam makan siang? Kamu kok udah beli makanan?"
"Ooh, ini suruhan Pak Bayu, Mbak. Beliau nggak bisa makan siang di luar hari ini, katanya mau tidur siang aja. Jadi, sebagai gantinya, saya disuruh membelikan roti untuk Pak Bayu." Bagaimana perasaan Ica hari ini, ia tak ingin lepas kendali. Berusaha ramah dengan orang yang merusak mood Ica dan sumber stressnya ini benar-benar menekan batin Ica.
"Ooh, mau tidur siang, ya? Berarti aku nggak bisa masuk ke dalam, nih. Aku titip flashdisk ini aja ke kamu, boleh?"
"Ooh, iya, Mbak, boleh. Nanti biar saya serahkan ke Pak Bayu saat beliau bangun nanti."
"Oke, terimakasih."
"Iya, Mbak, sama-sama."
__ADS_1
"Tapi, ya..., tumben banget si gila kerja itu mau tidur siang di kantor? Pasti obrolan menyenangkan semalam sangat melelahkan buat Bayu. Sampai memikirkannya aja jadi nggak bisa tidur, hahaha. Sayang banget kamu nggak ikut, Ica. Padahal kita bisa senang-senang bareng. Kalau kamu ikut, pasti ada banyak kesenangan lain. Hahaha." Caca seperti memikirkan hal lain saat menyebutkan tentang kesenangan lain. Tentu saja memprovokasi tentang pernikahan Ica dan Bayu adalah kesenangan lain untuk Caca.
"Ya udah, deh, aku duluan ya. Kirim salam sama Bayu. Aku cuma anterin flashdisk Bayu yang ketinggalan semalam. Ke sini cuma balikin doang. Dan karena ketemu sama Ica, jadinya aku titip ke Ica. Tolong bilangin kayak gitu, ya, Ca."
"Iya, Mbak."
"Oiya, minggu ini kayaknya aku sama Bayu ada pertemuan lagi, deh. Kamu ikut, dong, biar makin seru dan senang-senang bareng." Lagi, ia sengaja mengucapkan hal itu. Sebenarnya Ica tahu maksud makin seru apa yang dikatakan oleh Caca. Tapi, lagi-lagi ia tak mau buat masalah. Ia harus ramah pada Caca.
"Hahaha, insyaallah, Mbak." Dibilang begitu pun, Ica pasti tidak akan pernah datang. Bayu dan dirinya telah mempermasalahkan soal pertemuan bisnis itu. Tak mungkin juga Ica datang.
"Ya udah, babay, Ica."
...----------------...
Ica masuk ke kantor. Dengan langkah cepat ia ke ruangan Bayu. Bertemu langsung dengan dua orang sumber stressnya saat ini membuka Ica banyak menghabiskan energi.
Rasanya ingin sekali meluapkan semua agar ia tak perlu stress seperti ini. Tapi, ia tak mungkin marah-marah seperti Bayu. Itu akan menimbulkan pertanyaan kenapa dirinya tiba-tiba marah.
Dilihatnya Bayu ternyata telah tidur siang di sofa ruangannya. Bayu sama sekali tak menunggu Ica kembali setelah membeli roti dari toserba. Di pagi hari pun, Ica sibuk mempersiapkan rapat mingguan, jadi tak sempat sarapan bersama Bayu. Nanti siang, sudah pasti tak ada lagi kesempatan Ica untuk makan bersama Bayu walaupun hanya memakan roti bersama. Apa Bayu sengaja? Mungkin, nanti malam pun Bayu dan Ica tak akan makan bersama juga karena Bayu sibuk mempersiapkan kebutuhan untuk pergi dinasnya.
"Mas..., apa-apaan semua ini? Ica benci sama Mas Bayu." Ica berhasil meluapkan sebagian tekanannya. Tapi, ucapan itu tak akan sampai pada Bayu, karena Ica mengucapkannya dengan pelan.
Ica meninggal beberapa roti di meja kerja Bayu. Kemudian, ia mendekat ke tempat Bayu tertidur. Ia pandangi wajah Bayu lekat. Lalu, ada keinginan dalam hati untuk melakukannya sesuatu yang hanya bisa ia lakukan sebagai istri Bayu. Yang tentunya tidak dapat dilakukan oleh Caca.
Cup
Ica tanpa permisi mengecup pipi kiri Bayu. Ia tanpa sadar telah meluapkan semua tekanan yang ia alami dengan melakukan kecupan singkat itu. Setelah melakukannya, Ica baru sadar telah melakukannya sesuatu yang lancang saat Bayu tak sadarkan diri. Ia segera kembali ke meja kerjanya, melarikan diri.
...----------------...
__ADS_1