Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Pahlawan Bayangan


__ADS_3

Di ruangan Bayu, saat sedang fokus menyelesaikan pekerjaan, tiba-tiba saja Caca datang.


"H-hai, Bayu," sapa Caca kikuk.


"Kamu? Ngapain kamu ke sini?" tanya Bayu yang tidak senang dengan kehadiran Caca.


"Aku nggak ada niatan buruk, kok. Kamu tenang aja. Aku bisa masuk ke sini, karena Ica yang bantu. Aku bilang ke Ica kalau kamu nggak balas chat dan jawab telepon aku, makanya dia mau bantu aku. Katanya, kamu disuruh lihat chat dari dia dulu sebelum komentar banyak soal kenapa aku bisa masuk ke sini," jawab Caca meyakinkan Bayu.


Kemudian, Bayu segera merogoh ponselnya. Ia lihat memang banyak chat dan telepon yang tak terjawab dari Caca. Ia memang malas berurusan dengan Caca lagi. Lalu, ia cari chat dari Ica dan mulai membacanya.


Ckk


Bayu berdecak kesal saat membaca chat dari Ica. "Awas aja kamu nggak datang besok, Raisa! Siapkan diri aja buat sakit lagi karena kamu harus mendengarkan ocehan saya yang akan membuat kamu makin tertekan," batin Bayu kesal. Ica, ia akan dapat masalah besar sepertinya.


"Jadi, apa tujuan kamu untuk datang ke sini? Bukannya kita bukan siapa-siapa lagi, ya? Kita juga bukan rekan bisnis, kenapa harus datang sampai ke kantor segala?" ujar Bayu sinis. Ia menyimpan kembali ponselnya dengan gusar.


"Bayu, aku ke sini mau minta maaf. Tolong kamu maafin aku, Bay. Aku nggak bisa apa-apa tanpa kamu, kamu tahu itu, kan? Menangani bisnis sendirian, aku nggak sanggup. Apalagi, banyak usaha dan modal yang kamu berikan di bisnis ini. Aku jadi merasa bersalah kalau kamu ingin melepaskannya. Kalau memang segitu nggak bisanya ketemu sama aku lagi, oke, nggak apa-apa. Kita bisa berdiskusi lewat telepon atau email. Karena bisnis ini ada di kamu yang sudah berkontribusi banyak, lebih baik kamu yang pegang lagi, dan biarkan aku yang pergi. Aku merasa nggak layak mewarisi ini, kamu udah baik banget ke aku," ucap Caca dengan memelas.


Bayu menarik nafas panjang agar amarahnya tidak langsung tumpah.


"Kamu yakin? Kamu tulus mengatakannya? Apa kamu lupa sama semua yang kamu ucapkan saat kita bertemu terakhir kali?" tanya Bayu masih sinis.

__ADS_1


"Aku tahu, aku salah. Makanya aku ke sini untuk minta maaf. Kamu tahu kalau aku gampang emosi, dan setelah merenungkan kalau aku salah, aku pasti berusaha untuk nggak ngelakuin lagi. Kamu yang paling tahu aku bagaimana, Bay. Kamu tahu sendiri kalau kita udah kenal lama banget," ucap Caca meyakinkan.


Tampaknya Bayu sudah memaafkan Caca. Ia juga tidak tega meninggalkan Caca yang memang benar tidak bisa apa-apa tanpa dirinya. Namun, mulai sekarang ia harus lebih tegas. Apalagi, ia akan menikah dengan wanita pilihan keluarganya.


"Aku nggak suka kamu bawa masa lalu. Aku yang dulu memang berniat melamar kamu. Namun, setelah di tolak, aku berhenti memikirkan untuk mendapatkan kamu. Biar aku perjelas, ya. Hubungan kita hanya sebatas teman lama dan rekan bisnis saja. Aku juga akan mengurangi bertemu dengan kamu, karena sepertinya aku akan menikah. Aku mengatakan ini di awal, karena tidak ingin kamu berharap lebih dari aku. Aku juga nggak mau memberikan harapan apapun ke kamu. Memang terdengar sombong, tapi aku hanya ingin memperingatkan di awal agar kamu juga dapat menjaga sikap," jelas Bayu berterus-terang.


"Menikah, ya? Aku ikut senang, deh. Nanti, kalau mau nikahan, jangan lupa aku diundang, ya. Kita, kan, teman lama. Aku juga mau aja bantu-bantu persiapan pernikahan kamu, kok, kalau kamu minta." Tampak raut wajah kecewanya. Caca memang terlambat, ia terlambat mencintai Bayu balik. Sekarang, ia kalah cepat dengan wanita yang akan menjadi istri Bayu.


"Tentu kamu aku undang. Tapi, aku nggak mau memperbudak kamu, karena ngurusin bisnis ini aja pasti udah repot banget." Bayu tersenyum ramah meresponsnya. Caca sudah mulai tak suka pembicaraan ini, ia langsung ke topik lain untuk membahasnya dengan Bayu.


"Oiya, aku mau kasih tahu kamu laporan keuangan bisnis kita. Baru beberapa hari nggak meng-handle bareng kamu, bisnis ini ada kemerosotan, Bay. Memang kemampuan manajerial kamu dibutuhkan banget," ungkap Caca.


"Ya udah, kamu kirim aja lewat email. Kita bahas abis aku pulang kantor aja, ya. Nggak enak kalau dilihat atasan kita membahas hal di luar pekerjaan kantor. Nanti kamu aja yang nentuin tempatnya."


"Iya, Ca. Ya udah sana kamu pulang. Bukan bermaksud ngusir, tapi kamu memang harus pulang. Toh, kita juga ketemuan lagi nanti."


"Iya-iya. Dasar, suka banget gila kerja."


"Kamu mengatai aku, Ca?"


"Itu pujian, lho, Bayu.... Ya udah, aku pulang dulu."

__ADS_1


"Pulang sekarang, Ca."


"Iya iya."


...----------------...


Keesokan harinya, sesuai yang Ica ucapkan, ia datang ke kantor. Bundanya khawatir karena Ica belum sembuh total, tapi Ica yang terlihat ingin lebih bekerja keras membuatnya luluh. Putri kecilnya yang manja itu sudah besar sekarang. Putrinya itu sudah tidak mengeluh lagi saat sakit menyerangnya. Ia sudah lebih mandiri sekarang. Ia yang terbiasa memanjakan Ica agak ragu dengan proses Ica menuju kemandirian, tapi ia tetap percaya pada putrinya yang ia banggakan itu.


"Jangan lupa diminum obatnya." Ica membaca memo yang Manda selipkan di dalam tas bekalnya yang juga berisikan obat. Ia tersenyum membacanya. Bundanya itu perhatian sekali, ia merasa menjadikan anak paling beruntung di dunia karena mendapatkan seorang ibu seperti Manda.


Sudah lewat jam makan siang, Bayu tak kunjung membahas perihal Ica yang membiarkan Caca masuk. Sedari tadi, pembicaraan mereka hanya seputar pekerjaan kantor saja. Bayu juga tidak perhatian dengan Ica yang masih pucat karena masih belum sembuh total, ia memberikan pekerjaan yang ekstra untuk Ica.


"Raisa, nanti telpon kalau kamu udah kerjakan berkas yang ini, ya," ujar Bayu pada Ica. Ia hanya mengangguk menanggapi.


Bayu terlihat bahagia, bukan, lebih tenang dari biasanya. Tidak ada aura ingin marah seperti biasanya. Padahal, hari ini banyak pekerjaan yang masih menumpuk. Ica juga sedikit lamban mengerjakan karena efek sakit itu. Normalnya, Bayu tidak kenal ampun untuk mengucapkan kata sarkas dan kasar kepada Ica saat bekerja lebih lamban begini.


"Sepertinya pertemuannya dengan Mbak Caca semalam yang membuat si bos jadi kalem begini. Mungkin, mereka udah baikan lagi secara baik-baik dan kembali normal." Ica menyimpulkan sendiri dari apa yang ia lihat. Setidaknya, ini hari yang damai untuk Ica. Ia juga bisa mempercepat penyembuhannya jika dalam keadaan tidak tertekan seperti ini.


"Harusnya Anda berterimakasih pada saya, Pak," ucap Ica saat ia memberikan berkas yang baru selesai ia kerjakan.


"Apa maksud kamu?" Bayu heran tak mengerti.

__ADS_1


"Ee... nggak ngerti, ya? Ya udah, deh, nggak apa-apa." Ica hanya ingin menjadi pahlawan bayangan.


...----------------...


__ADS_2