Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Mulai Akur


__ADS_3

Pelukan Bayu terasa nyaman. Tapi, Ica mengingat di rumah tak hanya berdua saja dengan Bayu. Ternyata ada Bi Ana yang mengintip kemesraan mereka. Setelah ketahuan, Bi Ana mengusulkan diri untuk membawa semua barang-barang Bayu ke depan kamar, kemudian mendapat persetujuan dari Bayu dan pergi meninggalkan mereka. Ica jadi malu, ingin mengakhiri pelukan nyaman ini juga berat rasanya. Belum tentu kesempatan seperti ini datang lagi di kemudian hari.


"Anu..., Mas Bayu udah bisa lepas pelukannya, kok. Ica tahu Mas Bayu pasti capek banget, lebih baik langsung istirahat aja. Mau Ica buatkan teh dulu?" ujar Ica. Pelan-pelan, Bayu pun melonggarkan pelukannya.


"Nggak usah. Saya mau langsung tidur," balas Bayu. Kemudian ia menepuk-nepuk kepala Ica dan beranjak menuju kamarnya. Ica diperlakukan seperti anak kecil, tapi Ica sangat menyukainya. Hal sepele ini dianggap manis untuk Ica.


Bayu pulang cukup malam. Sekitar jam sembilanan. Agak cepat untuk tidur memang, tapi biarlah karena Bayu sangat kelelahan. Jika ia mau, ia bisa mengambil penerbangan besok pagi, tapi ia tak lakukan. Selain menghambat pekerjaannya esok, ia tak suka membuang uang lebih untuk penginapan dengan dalih perjalanan dinas karena akan membebani keuangan perusahaan. Ia benar-benar perfeksionis dalam segala hal. Ada satu hal lagi yang membuatnya ingin pulang segera, yaitu memberikan oleh-oleh yang di pinta Ica segera. Ingin melihat reaksi Ica juga saat tahu oleh-oleh yang di pintanya itu tak dilupakan oleh Bayu. Dan sampai di rumah, ia bersyukur bisa pulang sesegera mungkin.


“Mas Bayu nyenyak banget tidurnya," ujar Ica pelan saat melihat Bayu yang nyenyak. Sedangkan dirinya, tidak bisa tidur sama sekali setelah mengalami sengatan langsung saat tiba-tiba di peluk Bayu dan hal setelahnya. Untuk membuat dirinya mengantuk, ia mencoba membaca buku yang bukan novel. Itu biasanya selalu bekerja. Terbukti sejak ia sekolah, saat di suruh membaca pasti rasa kantuk langsung menyerang. Hal tak baik seperti itu ternyata dapat berguna juga di saat seperti ini, pikir Ica. Tepat jam sebelas, akhirnya Ica juga ikut tertidur di samping Bayu.


...----------------...


"Raisa..., bangun. Ayo shalat tahajud bersama-sama."


"Raisa, bangun!"


Ini pertama kalinya Bayu membangunkan Ica untuk shalat tahajud bersama, berjamaah. Sejak pulang tadi, Bayu berusaha bersikap seperti suami yang ideal. Ia selalu melakukan hal di luar kebiasaannya. Seperti shalat tahajud, ia berpikir untuk membangunkan Ica juga. Mungkin karena Bayu tidur lebih cepat dari jam biasanya tidur, makanya ia bisa bangun lebih awal dari jam biasanya shalat tahajud. Dan ternyata membangunkan Ica cukup sulit, bisa-bisa jam tahajud habis hanya untuk membangunkan Ica saja.


"Ica, bangun!" Bayu berani memanggil Ica seperti itu. Ia pikir, harus melakukan itu agar Ica bangun. Terlihat setelah nama panggilan Ica terpanggil, Ica langsung menggeliat.


"Lima menit lagi, Bun. Sekarang masih jam berapa, sih? Alarm Ica juga belum bunyi," balas Ica. Bayu terkejut karena dikira bundanya Ica. Sepertinya, bukan keputusan yang bagus.


Ica memang suka mengigau seperti itu, seperti orang yang akan mengungkapkan isi hatinya dengan jujur saat sedang mabuk. Bayu tak ingin mengingat kejadian di malam pernikahan mereka. Yang saat panggilan biasa Ica disebut Bayu, Ica malah mengira kalau Bayu memanggil Caca, bukan Ica. Ica juga berkata jujur kalau pernikahan ini nantinya akan disesali oleh Bayu. Bayu tak ingin mengingatnya, tapi itu terlintas begitu saja di pikirannya saat melihat Ica menjawab dengan gaya yang sama.

__ADS_1


"Raisa Humaira Arshad! Bangun! Ayo shalat tahajud bersama, BERJAMAAH!" Bayu mengulangi perkataannya, sengaja menekankan kata terakhirnya. Dan berhasil, cara ini ampuh untuk membuat Ica membuka matanya.


"Jam berapa sekarang, Mas? Kamu nggak pernah bangunin aku buat tahajud. Tumben, deh," ucap Ica. Ia mengusap matanya yang masih mengantuk, dan bicara dengan keadaan setengah menguap.


"Hampir jam tiga. Mulai sekarang, saya berharap kita bisa shalat tahajud berjama'ah."


"Mulai sekarang apa hari ini aja, Mas?"


"Hari ini dan seterusnya. Kecuali saat kamu datang bulan dan saat saya pergi dinas."


"Ini kesepakatan lagi?" tanya Ica melantur. Rupanya ia belum benar-benar sadar. Mendengar ucapan itu dari Ica, Bayu merasa harus menyeleksi ucapannya.


"Bukan. Saya ingin mengimami kamu. Boleh, kan? Jika kamu tidak keberatan, saya ingin kita melakukannya seterusnya. Tolong, kali ini bangunlah, biarkan saya menjadi imam kamu sekali ini saja kalau kamu tidak ingin melakukannya untuk seterusnya," ralat Bayu dengan kekuatan magic word ajaran Ica. Bayu berharap dengan selipan kata magic word itu dapat membuat Ica tersihir dan tergerak hatinya untuk mempertimbangkan ucapan Bayu.


"Udah," jawab Bayu.


"Pas bangunin Ica, Mas Bayu nggak ada sentuh Ica? Kok Ica bisa bangun, ya? Biasanya Ica paling susah kalau dibangunin. Bunda selalu ngomong gitu soalnya."


"Iya, kamu memang sangat susah dibangunkan. Tapi, hanya dengar suara saya yang kuat itu udah cukup untuk membuat kamu bangun meskipun saya harus sabar mengucapkannya berulang kali." Bayu tak sepenuhnya jujur. Faktanya, Ica baru terusik saat Ica mengira telah dibangunkan bundanya.


"Ooh, gitu. Haha. Maafin Ica ya, Mas. Untuk seterusnya, Ica harap Mas Bayu bisa jadi alarm shalat tahajud Ica."


"Enak aja! Bangun sendiri dong, usaha!"

__ADS_1


"Hahaha, ngomongnya sih gitu. Kita lihat aja besok, pasti Mas Bayu yang bangun lebih awal dan bangunin Ica lagi."


"Udah cepat ambil wudhu jangan mengoceh terus! Dasar bawel!"


Ica sudah sepenuhnya sadar sekarang. Dalam hidupnya, ia sangat jarang melaksanakan shalat tahajud. Berbeda dengan Bayu yang melakukan shalat tahajud serutin melaksanakan shalat fardu, Ica hanya melakukan shalat tahajud pada saat-saat tertentu. Pernah ia merasa sangat shalehah karena rutin melakukan shalat tahajud saat kelas 3 SMA. Situasinya memaksa Ica untuk rajin ibadah agar ia mendapat masa depan yang cerah, lulus ujian masuk kampus negeri impiannya. Setelah permintaan itu terwujud, ia mulai jarang melakukanya lagi. Lalu, tiba saat Ica tak benar-benar bisa mengikuti pembelajaran di kampus. Saat mendekati ujian kampus seperti UTS dan UAS, ia baru shalat tahajud lagi. Setelah masa ujian selesai, ia pun berhenti lagi melakukan shalat tahajud sebagai rutinitasnya. Mulai sekarang, ia berharap dapat menjadikan shalat tahajud sebagai rutinitasnya, bukan hanya untuk dipermudahkan urusannya saja. Bersama Bayu, Ica berharap tahajud ini akan menjadi kebiasaan barunya seterusnya.


Shalat tahajud pun berlangsung khidmat. Ica mengambil tangan Bayu untuk ia salim. Kemudian, malu-malu Bayu juga membalas mencium kening Ica setelahnya.


"Kamu bilang, kamu nggak akan sembarangan ambil tangan saya lagi untuk kamu salim setelah shalat," ujar Bayu.


"Mas Bayu sendiri, katanya jaga wudhu. Kenapa nggak langsung menghindar aja? Ini malah di kasih gini tangannya," balas Ica tak ingin menjawab, malah menantang.


"Saya bisa ambil wudhu lagi setelah ini."


"Ya udah, nggak masalah berarti, kan? Mas Bayu juga tadi udah mengizinkan pas pulang tadi."


"Hah? Itu kan sewaktu ingin menyambut saya aja yang saya maksudkan."


"Tapi itu inti pembicaraannya, kan, Ica boleh cium tangan atau salim tangan Mas Bayu. Bukan cuma pas nyambut doang, tahu! Lagian, setelah selesai shalat gini, harusnya disebut menyambut juga, kan?"


"Udah udah. Terserah kamu. Sekarang, lebih baik kita kembali tidur." Bayu terlihat mengalah di mata Ica. Ica tersenyum puas karena merasa hari ini ia menang berdebat dengan Bayu, untuk pertama kalinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2