
"Raisa? Apa yang barusan tadi?" tanya Bayu bingung. Kemudian tangannya meraba bibirnya yang sempat menyentuh bibir Ica langsung. Sensasinya masih terasa, meskipun kecupan itu telah berakhir.
"Itu tadi ciuman pertama bagi saya!"
"Bagi Ica juga, Mas!"
"Kenapa kamu berani sekali? Dan telepon itu, kamu mematikannya juga." Bayu tak marah. Ia hanya heran dengan keberanian Ica.
"Ica istri kamu, Mas. Apa haram mencium suami sendiri? Telepon itu hanya mengganggu kita. Ica udah ada di sini dan menyuguhkan kamu minuman, tapi sama sekali nggak kamu gubris karena telepon itu."
"Saya sangat terkejut, Raisa!" Bayu membentak Ica.
Dibentak Bayu, Ica langsung ciut. Matanya memerah menahan air mata. Apa yang ia lakukan salah sampai Bayu membentak Ica begitu?
"M-maaf, Mas. Ica salah," sesal Ica. Ia langsung pergi dari ruangan Bayu, melarikan diri.
Sampai di kamar, Ica menangis sampai tertidur.
Sementara di ruang kerja, Bayu tidak bohong kalau ia benar-benar terkejut mendapatkan ciuman yang tiba-tiba itu. Ia bukan tak suka, toh, yang melakukannya adalah istrinya sendiri. Tapi, ia hanya terkejut, sangat terkejut. Ia juga tak nyaman dengan sensasi lain di perutnya saat bibir mereka saling menyentuh. Bayu hanya baru pertama kali merasakan itu. Ia marah karena ia ternyata menginginkan yang lebih dari itu. Karena bagaimanapun juga, dirinya seorang pria normal. Tapi ia tak bisa seenaknya melakukan itu. Bayu menyadari, membentak Ica sudah sangat berlebihan, karena Ica tak salah apa-apa. Lebih parahnya, Ica malah minta maaf ke Bayu.
Bayu beristighfar. Kemudian memikirkan cara agar bisa meminta maaf kepada Ica.
"Aa..., Raisa membawakan minuman es?" Bayu akhirnya menyadari alasan keberadaan Ica tadi di sini walaupun sudah dibilang langsung oleh Ica. Ia meminumnya, berharap juga dapat mendinginkan berbagai macam perasaan yang baru saja dilandanya.
...----------------...
Di kantor, karena kejadian first kiss itu, hubungan Bayu dan Ica berjarak kembali. Sama seperti saat keduanya baru bertemu.
__ADS_1
Bayu yang malu untuk meminta maaf pada Ica, malah menjadikannya lebih galak pada Ica. Padahal, ia ingin meminta maaf, karena gengsi, nada bicaranya jadi tinggi dan berujung mencari kesalahan Ica untuk mengobrol dengan memarahinya. Sebenarnya, itu tidak dapat dikategorikan mengobrol, sih. Tanpa sadar itu selalu terjadi sampai akhir pekan pun tiba esok.
"Raisa! Semenjak menjadi istri yang profesional, kerjaan kamu jadi nggak profesional sebagai sekretaris. Kamu sering melakukan kesalahan belakangan ini," ucap Bayu nada menegur.
"Aaaa..., bukan itu yang ingin ku katakan," batin Bayu berseberangan. Ia hanya ingin membuka obrolan dengan Ica karena mereka mulai jarang mengobrol sejak hari Minggu di ruangan Bayu itu. Ia juga ingin memuji Ica sebagai istrinya yang makin telaten memasak dan mengurus rumah, tapi malah berakhir mencibir Ica.
"Terimakasih atas kritiknya, Pak. Minggu depan, akan saya usahakan untuk meningkatkan kinerja saya," balas Ica singkat. Kemudian berlalu meninggalkan Bayu untuk pulang lebih dulu. Ya, sudah jam pulang kantor, ia harus pulang. Bayu akan pulang setelah isya, tak berbarengan dengan Ica. Pekan ini, memang banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan Bayu. Karena itu juga, jarak mereka makin melebar. Rutinitas seperti mencium tangan Bayu dan disusul dengan kecupan di kening Ica, itu semua berkurang.
Ica pulang dengan supirnya dulu, untuk pekan ini ia selalu meminta di jemput supir.
Ingin mengatakan hati-hati di jalan, lidah Bayu kelu. Pikirnya, meminta maaf saja belum, apa pantas mengucapkan kalimat sok akrab itu?
...----------------...
Hari ini Hari Sabtu. Ica belanja bulanan bersama Bi Ana dengan ditemani oleh Pak Dikin—supirnya yang digaji orangtuanya. Kali ini ia berusaha hemat, karena saat ia ingin pamit pergi kepada Bayu, Ica diomeli soal belanja. Ica tak mengerti, pekan ini Bayu terlalu galak padanya. Kekesalannya pada suaminya sendiri makin memuncak dan menambah jarak mereka.
"Ica boros ya, Bi Ana?" tanyanya pada Bi Ana tiba-tiba. Mereka sedang makan di sebuah mall setelah lelah berkeliling untuk memborong kebutuhan belanja bulanan dan menyerahkan ke Pak Dikin.
"Tergantung, sih, Non. Soalnya, boros itu relatif," jawab Bi Ana.
"Tapi kalau Mas Bayu udah bilang kayak gitu, Ica berarti boros, Bi. Ica suka khilaf lihat barang-barang lucu. Jadi, Ica pakai uangnya Mas Bayu, deh. Uang Ica sendiri udah pas-pasan banget. Dari dulu juga udah boros, sih. Kayaknya Ica harus benar-benar bisa atur keuangan, deh. Bi Ana lihat sendiri, kan, Mas Bayu galak banget ceramahin Ica tadi."
"Iya, Bibi lihat, Non. Galak, ya, ternyata. Tapi sama Bibi nggak galak, sih."
"Ye..., Bibi nggak tahu aja kalau Mas Bayu itu galaknya kebangetan. Kerja Bibi udah beres semua, makanya nggak ada yang digalakin. Kalau udah di kantor, bawahannya salah dikit aja udah habis kena marah itu bawahan." Topik ini jadi membuat Ica bersemangat, padahal ia sedang memupuk kekesalannya pada Bayu. Menggibahi suami sendiri, dosa bukan?
"Marahnya kayak waktu marahin Non Ica, ya?"
__ADS_1
"Iya, cuma kadang-kadang bisa lebih parah atau lebih terkendali dari yang tadi. Tapi, Ica pernah digalakin lebih parah dari yang tadi, sampai bikin Ica nangis. Tapi kalau dipikir-pikir, lebih parah yang tadi, sih. Ahahah." Ica mengingat-ingat momen saat Ica berurusan dengan Bayu.
"Jadi gimana yang bener, Non?"
"Ica dulu pernah pertama kali digalakin sama Mas Bayu sampai nangis. Itu mungkin karena nggak pernah digalakin sebegitunya sama ayah bunda, makanya jadi nangis. Tapi sekarang, karena udah terbiasa sama marahnya Mas Bayu, udah bisa tahan air mata dan nyimpulin kalau Mas Bayu bukanlah Mas Bayu tanpa marah-marah."
"Ahahaha. Bisa aja si Non."
Mood Ica benar-benar kembali setelah menjelekkan suaminya yang harusnya tak boleh ia lakukan. Tapi boleh jujur, setelah itu ia memang benar-benar merasa lega. Ia ingin membagikan kelegaannya.
"Oiya, Bi Ana ada yang mau dibeli lagi, nggak? Kali ini Ica yang traktir, bebas mau beli apa aja. Budget nya satu bulan gaji Bibi, nih. Tenang aja, nggak bakal kepotong, kok, gaji Bibi. Dan tenang, ini pakai uang Ica, kok, bukan uang Mas Bayu."
"Wah..., nggak usah, Non."
"Nggak usah segan, Bi. Ini juga usaha Ica untuk melampiaskan stress. Dan karena bulan depan Ica udah harus benar-benar hemat karena udah kena ceramah, Ica masih ada uang lebih. Bahkan berlebih dari biasanya sebelum menikah dulu."
"Bibi bingung, Non."
"Ya udah, kita keliling bareng aja. Bibi lihat-lihat dulu, mana suka, kita beli. Mau itu baju, tas, sepatu, bebas deh."
"Oke, Non. Makasih banyak sebelumnya. Bibi senang banget."
"Ica ikut senang kalau Bibi senang."
Akhirnya mereka shoping lagi. Melupakan kelelahan mereka saat memilih barang belanja bulanan. Karena shoping kali ini untuk kesenangan, bukan karena kewajiban seperti belanja bulanan tadi.
...----------------...
__ADS_1