Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Di Meja Makan


__ADS_3

Perhatian yang Bayu berikan mengingatkan Ica saat ia masih menjadi karyawan biasa di divisi humas. Yang saat itu tiba-tiba Ica dibelikan makanan untuk ucapan terimakasihnya. Ia tahu Bayu tidak menanyakan soal Ica yang belum makan secara langsung. Bayu hanya benar-benar memperhatikan hal kecil, dan jadilah ia menunjukkan perhatian kecil.


Saat ini pun, Bayu pasti tahu kalau lidah Ica pasti masih tersisa pahitnya. Makan roti saja pasti membuat Ica bosan. Sudah lama Ica tak menyentuh makanan favoritnya semenjak lidahnya merasa pahit, makanya Bayu membelikannya untuk Ica. Ia hanya beralasan saja kalau dirinya hanya kepengen sate. Bayu memang tak bisa jujur mengekspresikan dirinya yang manis itu.


Mendengar Ica terbatuk-batuk, segera Bayu mengambilkan segelas air untuk Ica cepat karena khawatir.


"Minum yang banyak! Setelah melewati fase pening dan pahit lidah, kamu memasuki fase batuk. Kamu harus banyak minum. Jangan banyak bicara," ucap Bayu saat Ica meneguk minumnya. Ica sedikit melirik karena merasa tersinggung oleh Bayu.


"Maksud saya, kalau kamu tahu kamu batuk, lebih baik kurangi untuk bicara. Kamu tahu, kan, kalau kamu lebih banyak bicara dan cenderung cerewet?" ralat Bayu yang sadar tatapan Ica.


Bukannya malah membaik setelah Bayu meralat ucapannya, Bayu malah memilih kosakata yang sensitif untuk Ica. Refleks Ica memukul tangan Bayu yang menyanggah di meja, kemudian berhenti minum dan lanjut melahap sate kesukaannya.


Bayu tak berkomentar apapun soal tangannya yang tiba-tiba dipukul Ica. Tidak sakit juga, pikirnya. Jika ia berkomentar, ia tak bisa membayangkan akan seberapa panjang mereka berdebat, dan kemudian batuk Ica pasti menyerang. Ia tak ingin itu terjadi.


Bayu pun ikut melahap sate miliknya. Ingin berkomentar mengenai cara makan Ica yang terlalu lahap, ia urungkan untuk mencegah kebawelan Ica kambuh. Walaupun ia tahu, sebanyak apapun mereka berdebat, pasti pemenangnya adalah Bayu.


"Mas Bayu aneh banget hari ini." Selesai makan dan meneguk obat batuknya, Ica menemani Bayu makan yang di sampingnya juga ada tablet kerja Bayu yang menemani. Ia ingin mengobrol bebas dengan Bayu, menghabiskan waktunya.


"Apanya yang aneh?" tanya Bayu tanpa menatap Ica.


"Mas Bayu bikin Ica overthinking. Di kantor tiba-tiba gandeng tangan Ica, terus kayak nggak terjadi apa-apa setelahnya. Padahal, itu pertama kalinya kita gandengan tangan, lho, Mas. Terus, Ica dipanggil Raisa lagi, padahal di rumah kamu manggilnya udah bukan Raisa, tapi Ica. Sikap kamu juga, lebih galak, dan kalau ngomong pasti kena di hati karena lebih nggak bersahabat cara ngomongnya."


"Terus, Ica kira Mas Bayu bakal pulang malam hari ini kayak semalam sampai jam sebelas. Ica nggak mau makan sendirian lagi malam ini, jadi lebih baik Ica nggak makan aja sekalian daripada kesepian. Eh..., tahu-tahu Mas Bayu malah pulang lebih cepat dari perkiraan Ica. Padahal, Ica tadi udah coba untuk nggak berekspektasi Mas Bayu bakal nunggu Ica di meja makan untuk makan malam bareng. Dan pas mau turun, Ica bingung kalau bahagia Ica ini reaksi yang wajar atau nggak. Karena Mas Bayu melakukan hal di luar ekspektasi Ica. Mas Bayu pulang lebih awal dan pulang dengan membawa sate, Mas Bayu juga menawarkan untuk makan malam bersama. Ica senang karena ini, tapi Ica masih nggak ngerti sikap abstrak yang Mas Bayu tunjukkan."

__ADS_1


"Terserah kamu mau menanggapi bagaimana," respons Bayu singkat. Ia kemudian meninggalkan Ica, padahal Ica sudah lebih dulu menghabiskan makanannya dan menunggu Bayu, tapi malah ditinggalkan oleh Bayu.


Ica memanyunkan bibirnya karena merasa diabaikan oleh Bayu. Kemudian karena kesal, ia mendahului Bayu dengan cepat menuju kamar mereka. Namun, sampai di tangga, Bayu malah dicegat Ica yang ternyata sudah menunggu di situ.


"Bukannya tadi kamu duluin saya? Ngapain di tangga?" tanya Bayu heran.


"Mau salim Mas Bayu, terus menagih kecupan di kening. Waktu Mas Bayu pulang tadi, kita nggak ada lakuin itu. Kalau dipikir-pikir pun, kita udah lama nggak lakuin itu. Tadi waktu pulang bareng ayah dan dikecup waktu pamitan, Ica jadi kangen ritual suami istri kita yang ini." Ica berucap manja sambil menunjukkan tingkahnya yang kekanak-kanakan dengan membuat dua jari telunjuknya beradu.


"Saya masih belum terbiasa dengan sikap manja kamu, Ca. Oke..., lebih baik lakukan sesuai yang kamu inginkan agar kamu puas," respons Bayu mengalah.


Ica kemudian dengan senang meraih tangan Bayu untuk di salim. Lalu memejamkan mata untuk menerima kecupan dari Bayu. Dan Bayu pun mengecup Ica tepat di kening, lalu berlalu menuju kamar dengan tablet yang ia pegang di tangan kirinya.


"Mas Bayu, kok kecupannya nggak berasa? Mas Bayu belum kecup Ica, kan?" rengek Ica yang telah ditinggalkan di tangga.


Ica menyusul, kemudian berkata, "Ica aja yang kecup kalau Mas Bayu nggak mau."


"Apa?"


Cup.


Ica mengecup pipi kanan Bayu, lalu kabur dengan cepat menuju kamar.


Bayu ingin mengomel, tapi ia tidak bisa munafik kalau dari lubuk hatinya ia senang menerima kecupan dari Ica.

__ADS_1


...----------------...


Esok hari, Bayu dan Ica memutuskan untuk sarapan di rumah sebelum pergi ke kantor. Memakan makanan yang telah dibeli lewat food delivery agar setidaknya makanannya tidak mubadzir. Keduanya cukup cepat untuk duduk di meja makan, agar menghemat waktu untuk langsung pergi ke kantor dan bekerja.


"Uhuk uhuk," batuk Bayu terdengar tiba-tiba sesaat setelah selesai makan. Kemudian Bayu malah terbatuk-batuk panjang setelahnya.


Tiba-tiba Ica teringat tadi malam telah mengecup Bayu. Mungkin Bayu tertular Ica.


"Mas Bayu batuk? Minum deh yang banyak. Apa Mas Bayu ketularan Ica, ya?" respons Ica sigap mengambilkan minum untuk Bayu. Tadi malam Bayu yang sigap, kini mereka bergantian. Raut wajah khawatir juga terukir di wajah Ica karena khawatir membuat Bayu sakit karena tingkahnya semalam, kemudian Bayu menjadi tidak produktif saat bekerja.


"Hah? Ketularan apanya? Cuma agak keselek aja, kok. Kamu jangan lebay, deh," balas Bayu tak ramah.


"Lah kok ngegas? Padahal, cuma perhatian sama suami sendiri. Salah emangnya? Dasar suami aneh," batin Ica kesal.


"Kayaknya kamu udah sembuh total, deh. Bicara kamu malah makin banyak, lebih banyak daripada sebelum sakit itu. Kamu udah mulai berani bicara dengan manja ke saya. Dan kelakuan kamu yang tak biasa ini semua, saya tidak terbiasa dengan itu," komplain Bayu tiba-tiba setelah Ica menunjukkan kebaikannya walau banyak bicara.


Ica makin kesal. Kemudian ia melihat jam, sudah seharusnya ia dan Bayu berada di kantor. Pada jam ini, pekerjaannya sebagai sekretaris di mulai.


"Apa Anda tidak suka dengan sikap saya bicara, Pak? Jika begitu, sebisa mungkin saya tak akan menunjukkan sikap manja saya lagi. Maaf sudah membuat Anda tidak nyaman dengan sikap manja saya selama ini."


"Kalau begitu, mari berangkat ke kantor, Pak. Sepertinya, karena kita terlalu banyak mengobrol hari ini, kita akan terlambat ke kantor. Harusnya jam segini kita sudah di kantor, kan? Mari, Pak, saya akan menyupir dengan cepat dan tepat juga selamat untuk mengantarkan Anda ke kantor."


Ica pikir ia agak berlebihan. Tapi ia juga bisa profesional, bukan Bayu saja yang bisa. Saat berada di rumah pun, jika biasanya ia sudah menjadi sekretaris di jam tersebut, ia akan lakukan dan berubah dari seorang istri yang katanya manja itu, berubah menjadi sekretaris yang serba mandiri dan dapat diandalkan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2