
Ica memang meminta pendapat Bayu. Tapi yang dilontarkan Bayu bukanlah sebuah pendapat. Ica tak suka cara Bayu menanggapi. Bahkan cara Bayu itu membuat Ica seperti berbuat kesalahan yang sangat fatal. Bayu sendiri tak mengerti bagaimana perasaan Ica saat mendengar langsung yang Ibu panti itu katakan.
Ica ingin berusaha tegar, meskipun kalimatnya tadi sangat menguras energinya. Ia sudah cukup berani mengungkapkan isi hatinya. Ia berusaha terlihat menikmati sate padang yang ia makan, berusaha terlihat menikmati sate itu, tapi nyatanya ia merasakan sate miliknya hambar. Perutnya yang lapar dan ia yang lelah bukanlah alasan kenapa ia terlihat lahap dan tak memedulikan Bayu. Ia hanya ingin menunjukkan pada Bayu kalau dirinya sama sekali tak masalah dengan itu, dengan ucapan Ibu panti yang sebenarnya memengaruhinya.
Selama ini, Ica selalu mendapatkan apa yang ia mau karena terlalu dimanjakan orang tuanya, juga karena ia anak satu-satunya. Setiap ia menginginkan sesuatu, ia selalu mendapatkannya, karena ada kemauan keras, jika ia menginginkan sesuatu, ia harus mendapatkannya. Lewat bantuan orangtuanya, juga dengan kekuatannya sendiri. Karena kebiasaan itu, Ica sangat ingin mendapatkan cinta Bayu. Segenap kekuatan ia keluarkan untuk mendapatkannya. Namun, kekuatannya saja tak cukup dibandingkan kekuatan Bayu sendiri yang jelas-jelas menolak usaha Ica. Semuanya sia-sia, cinta Bayu tak akan pernah ia dapatkan karena itu sudah milik orang lain. Segigih apapun Ica terhadap sifatnya yang menginginkan sesuatu dan harus mendapatkannya, ia tak pernah gigih ingin mendapatkan sesuatu yang sudah dimiliki oleh orang lain. Orangtuanya memang memberikan semua yang Ica inginkan, tapi mereka mengajarkan Ica untuk tidak menginginkan sesuatu yang telah orang lain miliki. Jadi, lebih baik mengikhlaskan keinginannya, keinginannya untuk mendapatkan cinta Bayu.
"Mas..., kita akhiri aja pernikahan ini, gimana? Saya nggak bisa buat kamu jatuh cinta sama saya, jadi buat apa pernikahan ini dilanjutkan?" ujar Ica yang sebelumnya menarik nafas panjang setelah mendengar Bayu menaikkan nada suaranya.
GUBRAK!
Bayu memukul meja dengan kuat. Ica terkejut dengan itu. Ica selalu takut jika Bayu sudah melampiaskan emosinya dengan fisik. Ia takut dirinya akan menjadi objek selanjutnya saat Bayu melampiaskan emosinya.
Ica menutup matanya dan menunduk. Ia merasa tak nyaman dan ingin kabur. Keberaniannya telah ia habiskan untuk menggugat cerai Bayu secara tak langsung.
"Lebih baik kita selesaikan di kamar. Nggak enak kalau Bi Ana dengar," ucap Bayu lebih tenang. Ia sadar kalau Ica ketakutan di sana.
...----------------...
__ADS_1
Di kamar, suasana malah jadi canggung. Ica duduk di atas ranjang, sementara Bayu duduk di kursi yang tersedia di kamar.
"Jadi, apa maksud kamu? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" mulai Bayu.
"Saya nggak tiba-tiba, kok, Mas. Udah lama saya menahan-nahan perasaan ini. Kamu nggak pernah terbuka sama saya tentang hubungan kamu sama Caca," jawab Ica. Ia mulai mengabaikan sapaan 'Mbak' untuk Caca.
"Kamu udah pernah saya ajak untuk menemani kami saat ada pertemuan membahas bisnis, tapi kamu menolak. Padahal saya udah jelasin ke kamu, saya butuh kamu untuk menghindari berduaan saja dengan Caca karena risih. Juga karena ada kamu yang mungkin bakal membantu, pertemuan itu mungkin akan lebih cepat. Kamu malah menolak mentah-mentah, kan? Kamu juga menuduh saya nggak mikirin perasaan kamu. Sebenarnya itu cara terbaik saya agar kamu tahu kalau yang saya lakukan di pertemuan itu hanya sekedar membahas bisnis. Kamu malah nggak mikir ke situ. Justru saya menawarkan seperti itu untuk menjaga perasaan kamu, asal kamu tahu. Dan alhasil, saya dan Caca harus bertemu berdua aja, tanpa kamu tahu. Dan ironisnya sekarang, kamu menyesal, kan? Coba kalau kamu tak pernah menolak untuk ikut di pertemuan saya dan Caca, pasti kamu akan secara alami tahu apa yang terjadi antara kami." Bayu mencari pembelaan.
Lagi, dua orang yang sama-sama egois ini pun berdiskusi, dengan saling menaikkan suaranya satu oktaf setiap membalas perkataan masing-masing.
"Kamu seenak itu bicara. Jangan kamu pikir saya sama seperti kamu sebagai seorang pria, yang umumnya menggunakan logika. Kamu nggak tahu betapa cemburuan saya saat kamu masih akan menemui Caca lagi, padahal kamu sendiri udah sebutkan kalau kamu udah nikah."
"Rumah tangga kamu bilang? Apa sebenarnya definisi rumah tangga bagi kamu, Mas? Dan jika dibilang, kita ini nggak terlihat seperti suami istri sama sekali."
"Tolong bicara dengan kepala dingin, Raisa. Kamu udah mulai melebih-lebihkan dan membuat drama. Bicarakan yang menjadi poin masalah aja," ucap Bayu menurunkan nada bicaranya. Ia pandai sekali mengawal pembicaraan supaya meraih kemenangan.
"Masih bisa kamu bilang gitu, Mas? Padahal saya udah bilang tadi di meja makan. Poin masalahnya adalah, kamu sama sekali nggak bisa cinta sama saya. Saya juga nggak bisa buat kamu jatuh cinta sama saya, jadi buat apa pernikahan ini dilanjutkan?" ulang Ica di awal dengan penekanan dimana-mana.
__ADS_1
Bayu diam sejenak. Ia mencoba mencari cara bagaimana menanggapi keseriusan Ica kali ini saat bicara, wajahnya terlihat lebih serius dan tak ada drama di dalamnya.
"Kenapa diem kamu? Bener, kan? Kamu memang nggak cinta sama saya. Kamu juga nggak bahagia sama saya," tantang Ica yang sedikit menemukan celah untuk menang.
"Kamu sendiri, bicara begitu, apa kamu punya rasa cinta sama saya? Bukannya dulu kamu pernah bilang kalau kamu benci sama saya?" singgung Bayu membawa-bawa masa lalu.
"Saya akui saya pernah bilang kalau saya benci kamu. Tapi kita telah menikah, hidup di atap yang sama, melakukan hal yang saya pikir udah kayak suami istri. Saya kalah, dan karena kebiasaan bersama kamu, saya mulai merubah benci itu jadi cinta. Tapi, saya sendiri ragu kalau perasaan ini adalah cinta. Karena selama menikah, saya merasa harusnya wajar mencintai suami sendiri. Atau ini hanya kesalahpahaman saya, karena selama ini cuma kamu satu-satunya lelaki yang bisa memberikan perasaan baru yang tak pernah saya rasakan di hati saya, mungkin saya salah menganggapnya sebagai cinta. Tapi saya mengakui saya cemburu kamu bertemu Caca, saya senang jika kamu perhatian kepada saya, bahkan saya merasa ini cinta karena berbagai perasaan muncul setelah saya menikah dengan kamu."
"Tapi kamu? Mana mungkin merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, karena di hati kamu sudah terisi orang lain. Orang itu lebih membuat kamu bahagia. Dan kamu jauh lebih terbuka dengannya karena juga udah kenal lama. Kamu bahkan bukan hanya membuat kebahagiaan bersama dengan dia, tapi juga berbagi rasa pedih bersama saat mengurus bisnis itu. Apalah saya ini, cuma sekretaris dan istri secara formalitas, tak lebih."
"Jadi, kamu ingin saya mengatakan apa, Raisa?"
"Katakan! Ini akan mempengaruhi panjang atau pendeknya umur pernikahan kita. Katakan, apa ada rasa cinta di hati kamu untuk saya? Apa hanya kepada saya cinta itu dimiliki, apa ada orang lain juga yang memilikinya?"
"Omong kosong. Jelas-jelas kita ini suami istri, apa saya harus memperjelas? Jangan gila!"
"Iya, harus dijelaskan! Saya tahu saya gila, dan itu karena kamu, Mas. Katakan dengan lantang. Kamu cinta sama saya, atau apa?"
__ADS_1
...----------------...