
Setelah keduanya selesai makan malam di waktu yang berlainan, Bayu dengan segera melupakan bahasan mereka tadi dan fokus bekerja di ruangannya. Sementara Ica, ia berusaha untuk langsung tidur, tapi malah kepikiran ucapan Bayu.
"Udah belajar ilmu pernikahan, tapi malah membantah ucapan suami. Apa ini aku lakukan dengan alasan yang benar? Apa cuma mau bikin Mas Bayu ngerasain apa yang aku rasain aja? Bukannya itu dendam? Sejak kapan aku jadi pendendam seperti ini? Ya Rabbi..., apa hamba dendam? Jauhkanlah sifat itu pada diri hamba," batin Ica seraya beristighfar banyak-banyak. Ia memang memiliki sedikit unsur balas dendam, tapi ia memohon agar dijauhkan dari dendam yang sebenar-benarnya dan fokus pada tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan kompetensi dirinya.
Untuk menyiasati dirinya yang tak bisa tidur, Ica mengambil ponselnya untuk sekedar melihat media sosial. Memang belum jamnya juga untuk tidur di jam ini.
"Cinta dan benci itu beda tipis. Orang yang kau cintai selalu ada di hatimu, orang yang kau benci selalu ada di pikiranmu. Dan Allah Maha Pembolak-balik hati manusia." Tiba-tiba sebuah quote yang Ica baca begitu menarik hatinya dan sangat relate dengan dirinya saat ini yang ragu apakah ia benci atau cinta pada Bayu.
"Ca, kamu udah kelewatan. Apa yang kamu lakukan ke suami sendiri? Kamu sendiri udah manfaatin perasaan yang kamu kira perasan benci itu untuk bertingkah nggak sopan sama suami. Udah cukup, kalau balas dendam, ini udah cukup. Waktunya juga udah sama, kamu diam-diam nggak dicintai dan diperlakuin buruk selama tiga bulan, udah tiga bulan juga kamu membalas Bayu dengan perlakuan yang sama dan menunjukkan kebencian kamu ke Bayu. Jika ini memang balas dendam, maka udah cukup sampai di sini, kalian udah impas. Perasaan benci kamu ke Bayu cuma salah paham dari rasa sakit hati gara-gara Bayu secara jujur mengakui dia mencintai wanita lain. Sebenarnya kamu sendiri nggak bisa membenci Bayu. Iya, kan?" pikiran Ica bicara.
Kenapa bisa jadi seperti ini hanya karena Bayu mengatakan kalau Bayu butuh Ica? Sisi Ica yang ini begitu lemah dengan perlakuan Bayu yang tak. biasa, yang sekaligus menyentuh hatinya. Dirinya bahkan tak bisa menyimpulkan bagaimana ia harus bersikap setelah Bayu mengatakan dengan tatapan penuh kejujuran dan suara lantang kalau Bayu membutuhkan Ica.
...----------------...
__ADS_1
Malam-malam, sudah waktunya Bayu bangun untuk melaksanakan tahajud. Ia bangun sendirian dan akan shalat sendirian. Ica pasti tidak mau diimami shalat. Awalnya Bayu memilih menganggap itu hal biasa dan sudah menjadi pilihan Ica. Namun, makin kesini, ia merasa sudah seharusnya suami istri melaksanakan shalat berjamaah. Bayu juga merasa tak seperti imam seutuhnya jika dirinya pun tak pernah mengimami Ica shalat selama tiga bulan.
Ingin Bayu langsung melaksanakan shalat setelah mengambil air wudhu. Namun, Ica tiba-tiba juga bangun dan melemparkan alat-alat shalatnya di belakang Bayu yang sudah berdiri di atas sajadahnya.
Bayu, ia mencoba mengartikan maksud Ica. Ia berpikir, Ica juga akan ikut shalat tahajud bersamanya meskipun Ica tak secara langsung mengatakan itu. Jadi, ia akan menunggu Ica selesai mengambil wudhu baru ia memulai shalatnya.
Kemudian, Ica datang dan memasang mukenanya. Menggelar sejarah di belakang Bayu, sama seperti saat ia akan melaksanakan shalat berjamaah dengan Bayu.
"Kamu mau saya imami?" tanya Bayu memastikan. Ia hanya tak ingin salah paham.
Mereka pun shalat dengan khidmat. Lalu mengakhiri shalat dengan awkward. Ica memang sudah mau diimami oleh Bayu, tapi ia belum bisa menyalami Bayu juga dan menerima kecupan dari Bayu.
Bayu tak mempermasalahkannya. Ia tahu, semuanya butuh proses. Seperti ini saja sudah merupakan kemajuan besar untuk hubungan mereka.
__ADS_1
"Apa besok mau saya bangunkan untuk shalat tahajud?" tanya Bayu setelah merapikan alat shalatnya. Ica diam sejenak. Kemudian mengambil mushaf Al-quran di nakas dan membacanya. Surah Al-Waqiah menjadi destinasinya. Secara tak langsung, Ica juga mengatakan akan ikut shalat tahajud seterusnya bersama Bayu.
Bayu yang lebih terbiasa langsung tidur setelah melaksanakan shalat tahajud, merasa tertampar dengan sikap shalehah yang ditunjukkan sang istri. Selama ini ia seperti itu karena lebih mengutamakan pekerjaannya. Ia tak ingin jika merasa kurang tidur, kinerjanya akan menurun, produktivitasnya juga berkurang. Meskipun ia tak seperti itu di saat esoknya libur bekerja, tetap saja ia lebih menomorsatukan pekerjaan dibandingkan ibadah kepada tuhannya. Padahal, jelas-jelas ia punya waktu yang cukup banyak sebelum subuh datang.
Bayu kembali mengambil sarung dan pecinya. Kemudian, ia keluar kamar menuju ruang kerjanya untuk membaca mushaf Al-quran juga di sana, mengisi waktu sebelum subuh tiba. Matanya juga jadi segar setelah membaca beberapa surah pendek di sana. Ia ingin mengubah kebiasaan untuk melakukan hal ini setiap hari, bukan hanya saat dirinya libur kerja saja kedepannya.
Hingga waktu subuh tiba. Bayu memang berangkat sebelum adzan dari rumah, karena ia berjalan kaki ke masjid. Ia juga menikmatinya dengan santai berjalan menuju masjid agar dapat menghirup udara segar subuh yang khas. Jadi, ia tak perlu takut terlambat berjamaah.
"Lho, ada teh hangat. Bi Ana yang buat?" Bayu yang baru pulang dari masjid merasa heran karena tak biasanya teh hangat ada di meja di jam segini. Pas sekali, ia ke dapur juga ingin membuat teh manis hangat.
"Iya, Den. Tadi disuruh sama Non Ica. Katanya, tehnya buat Den Bayu. Bibi juga udah buatin bagiannya Non Ica, kok, jadi, Aden jangan khawatir soal itu, kata Non Ica. Nah, silahkan diminum, Den. Bibi mau mandi dulu siap-siap mau kerja juga," jawab Bi Ana.
Bayu sumringah. Meskipun tak dibuat langsung oleh Ica, tapi Ica sudah dengan jelas menunjukkan perhatiannya. Bayu heran sekaligus senang dengan sikap Ica yang seperti musim pancaroba ini. Lalu, seketika ia berpikir. Apa ini cara Ica untuk menyogok Bayu agar Bayu ikhlas menerima Ica yang akan berhenti menjadi sekretarisnya? Tapi buat apa ada penyogokan? Jika Ica sudah memintanya dan berkata keputusannya itu juga demi Bayu, tidak ada alasan lagi untuk melarang Ica. Toh, Ica juga menunjukkan perhatiannya pada Bayu di sana, meskipun cara penyampaian Ica tak seperti orang yang perhatian.
__ADS_1
"Bagaimana di kantor nanti? Apa ada perhatian seperti ini lagi?" Bayu menebak-nebak dengan perasaan senang.
...----------------...