
Setelah selesai bicara dengan Manda, Bayu langsung melakukan langkah pertama untuk penyembuhan Ica. Mumpung Ica masih tidur, ia bisa keluar sebentar untuk membelikan Ica sate padang. Ternyata, inisiatif Bayu waktu itu berguna untuk mempercepat penyembuhan Ica, terbukti dengan Manda menjelaskan hal yang sama soal memberikan Ica makanan favoritnya agar cepat sembuh. Bayu agak berbangga diri soal itu jadinya. Setidaknya, ia sudah bisa merasa sejajar dengan Manda.
Cepat-cepat Bayu membelikan makanan favorit Ica yang ia ketahui cuma sate itu. Ia tak berpikir untuk bertanya kepada Manda soal makanan favorit Ica yang lain.
"Ca, makan dulu, ya. Terus minum obat, terus tidur." Isi kepala Bayu hanya ingin membuat Ica cepat sembuh. Jika di bilang Manda lebih menang soal mengurus Ica yang adalah anaknya, Bayu berusaha untuk menjadi pemenang yang baru dengan berusaha menjadi Manda di saat Ica sakit seperti ini. Berusaha sebaik mungkin menjadi salinannya Manda walaupun ia tak tahu sebenarnya Manda seperti apa berperilaku di saat Ica seperti ini. Bayu hanya mengandalkan tips kecil dari Manda itu dan berusaha menyesuaikan perilakunya sesuai dengan apa yang ia interpretasikan. Ia tak tahu, sebuah panggilan yang biasa hanya ia ucapkan untuk memanggil cinta pertamanya—Caca saat memanggil Ica itu justru bukan hal yang tepat untuk Bayu lakukan.
Ica mendelik saat panggilan yang bukan untuknya itu dilontarkan Bayu. Namun, ia tak punya tenaga untuk mendebat. Kali ini, ia membiarkan Bayu berbuat sesukanya, toh Bayu juga melakukan ini untuk kesembuhan Ica. Meskipun ia tak tahu dirinya dianggap siapa oleh Bayu saat ini. Dianggap Caca, kah? Sampai sebegitunya Bayu teringat oleh Caca? Apa sebelumnya Bayu pernah merawat Caca langsung? Pikiran Ica kemana-mana, tiba-tiba pening pun menyerangnya.
"Disuapin aja, ya, Ca?" Lagi-lagi Bayu menunjukkan aksinya. Ica yang bingung dianggap siapa saat ini oleh Bayu, hanya bisa pasrah dengan apa yang Bayu lakukan kepadanya.
Bisa Ica rasakan, sate padang yang merupakan makanan favoritnya itu terasa hambar di lidahnya. Entah karena ketidakjelasan identitasnya yang dipanggil seperti itu oleh Bayu, atau juga karena obat yang ia konsumsi. Mungkin, rasa sate ini akan jadi pahit di lidah Ica saat kedua hal yang mengganggu Ica itu benar-benar menyerang Ica dan tidak dapat lepas dari pikirannya.
Selesai menyuapi Ica, Bayu menyuruh Ica minum obat. Kemudian ia menawarkan Ica obat sakit kepala. Ica menggeleng tak mau minum obat sakit kepala itu.
"Ca, ayo, diminum obat sakit kepalanya juga. Jangan siksa diri sendiri. Kamu sebenarnya pusing, kan?" Bayu mulai bawel. Kali ini, Ica merasa lebih diperhatikan. Tak ia sadari, tenaganya malah seperti diisi ulang, ia menyunggingkan senyum.
"Obatnya pahit. Ica nggak suka disuruh minum obat terus. Lagian nanti pasti juga sembuh sendiri."
"Ca..., jangan ngeyel kalau dibilangin. Ini untuk kesembuhan kamu juga."
"Nggak usah, nanti, kan, bisa sembuh sendiri."
"Iya, memang sembuh sendiri, tapi minum obat tambahan ini juga bisa mempercepat penyembuhan kamu. Udah, deh, jangan nyiksa diri sendiri. Kamu ngerasain kepada kamu sakit banget, kan? Kepala kamu pening, kan?"
"Nggak mau, Mas. Ica bilang nggak mau ya nggak mau. Jangan dipaksa."
"Ca..., kamu kok nggak mau nurut, sih? Kamu emangnya nggak mau cepat sembuh? Jangan karena kamu merasa energi kamu udah balik, kamu jadi merasa udah sembuh. Gimana kalau nanti malah lebih parah lagi sakitnya? Kamu senang kalau sakit emangnya? Senang kalau siksa diri sendiri? Bukannya kamu suka ngeluh kalau saya siksa tiap urusan pekerjaan?"
__ADS_1
"Apaan, sih, siksa siksa aja omongannya. Kelakuan kamu juga siksa Ica sekarang, Mas. Pemaksaan untuk minum obat ini, pemaksaan dan penyiksaan namanya. Kalau nggak mau, jangan dipaksa, dong! Coba kamu yang dipaksa, Mas!"
Bayu berusaha meredam emosinya. Kalau dalam keadaan sehat Ica membantahnya, sudah pasti Bayu akan membentaknya. Daripada menjawab, Bayu lebih memilih diam. Ia juga belum makan malam. Memancing Bayu marah jadi membuatnya semakin lapar.
Ternyata, saran Manda tak sepenuhnya manjur. Setelah makan sate padang yang merupakan makanan favoritnya pun, Ica tak mau meminum obat tambahan yang akan mempercepat penyembuhannya.
"Ya udah kalau kamu nggak mau," ucap Bayu sebelum meninggalkan Ica untuk turun. Ia tak bisa bersikap formal dengan Ica, karena saat ini ia ingin dengan sempurna menjadi salinannya Manda. Kata ganti pertama—Saya, ia sebisa mungkin harus menghindar untuk menyebut kata itu.
Di ambang pintu kamar, Bayu berhenti dan menoleh ke belakang. "Turun dulu, yah. Lapar juga soalnya," izinnya. Kemudian Bayu mendapati Ica yang menganggukkan kepada mengizinkan.
...----------------...
Selesai dengan makannya, Bayu kembali ke kamar. Dilihatnya Ica sudah terlelap kembali. Bayu juga lumayan lama menghabiskan waktu di dapur hanya untuk mengisi perutnya. Wajar jika ia kembali dengan melihat wajah pulas Ica.
Sampai di kamar, Bayu membenarkan selimut Ica yang melorot. Ia seraya tersenyum kecil karena menyadari bahwa ia bisa memberikan perhatian seperti ini kepada orang lain. Dirinya yang dulu boro-boro perhatian dengan orang lain, yang diperhatikan hanyalah dirinya sendiri dan untuk kepentingan yang berurusan dengan kepentingannya juga.
Bayu terus mengusap rambut Ica, seperti saran Manda. Sebenarnya tak perlu ia melakukan itu karena Ica sudah tertidur. Namun, saat melihat Ica tiba-tiba ada ketertarikan yang membuatnya ingin menyentuh Ica.
"Waktu Ica mau Bunda tinggalin untuk tidur, Bunda kecup Ica lama sambil memohon sama Allah untuk segera buat Ica pulih dan pamer senyumnya yang ceria." Tiba-tiba ucapan Manda bagian itu terngiang di kepala Bayu.
Sudah lama Bayu tak mendaratkan kecupan di kening Ica. Masalah semakin runyam dan berakhir menegang antara mereka berdua sebab first kiss mereka yang terjadi di waktu yang kurang tepat. Tidak ada usaha untuk menyelesaikan masalah itu setelahnya, karena keduanya disibukkan oleh pekerjaan.
Bayu mengecup kening Ica lama dan mengucapkan doa-doa kesembuhan untuk mengakhiri hari dan ikut tidur juga di samping Ica. Saat ingin beranjak, tiba-tiba tangan Bayu ditahan oleh tangan Ica.
"Ica? Kamu bangun? Maaf karena membangunkan kamu," ujar Bayu.
"Ica? Kali ini Mas Bayu sebut nama Ica, kan, bukan Raisa? Ica boleh dengar lagi nama Ica dipanggil?"
__ADS_1
"Ica..., kalau kamu ingin dipanggil dengan sebutan seperti itu..., baiklah," ucap Bayu lembut. Ini memang agak sulit di ucapkan, tapi sekarang lebih mudah karena Ica dalam posisi sakit seperti ini. Jadi, ia bisa memiliki alasan untuk mengganti raisanya itu dengan memanggilnya Ica seperti orang banyak memanggilnya.
Ica senang bukan main karena identitasnya tidak samar, kali ini ia dianggap sebagai Ica, bukan Caca. Matanya langsung terlihat segar tiba-tiba.
"Kecup Ica lagi, dong, Mas, biar bisa tidur lagi," ucap Ica dengan nada senang sebagai respons alami.
"Kamu manja banget Ica," keluh Bayu. Ia pun menuruti Ica dan mengecup kening Ica.
Cup
"Udah, kan? Sekarang, lanjut tidur lagi."
"Bukan di kening, Mas, itu udah biasa," ucap Ica dengan manja. Bayu mana bisa menolak jika begini.
"Bawel banget, sih, kamu. Untung lagi sakit."
Bayu tak berpikir untuk mengecup Ica di area yang tak biasa. Daripada dikomentari lagi, ia berinisiatif untuk mengecup area wajah Ica yang tak biasa. Mulai dari kening, kedua kelopak mata Ica, kedua pipi Ica, hidung Ica, hingga sampai ke area yang membuat jantungnya yang berdebar itu semakin berdebar, bibir mungil Ica. Bayu yang ragu-ragu melakukan itu semua melakukannya dengan tempo yang lambat karena pacuan jantungnya itu. Saat mengecup bibir Ica pun terasa sangat lambat dan sensual, padahal Bayu hanya sekedar menempelkan bibirnya dengan bibir Ica sejenak.
"Saya mau tidur!" ucap Bayu cepat setelah melakukan kecupan di area yang tak biasa sesuai permintaan Ica. Cepat-cepat ia masuk ke ranjang juga dan menutupi seluruh tubuhnya untuk meredam segala gejolak.
"Maaf, Mas. Mungkin setelah ini Mas Bayu yang akan sakit karena ketularan Ica, soalnya udah terkontaminasi bibir Ica yang jadi sumber virus ini. Tapi Ica senang, karena Mas Bayu berinisiatif untuk melakukan itu. Makasih banyak, ya, Mas. Mungkin Ica besok langsung sembuh, nih." Ica malah menanggapi dengan semangat, tiba-tiba energinya terasa kembali entah darimana.
"Jangan banyak ngomong, Ica. Cepat tidur kalau kamu mau cepat sembuh!" ucap Bayu yang telah membalikkan badannya membelakangi Ica.
Ica tersenyum senang dengan tingkah Bayu. Suaminya itu suka malu-malu saat menunjukkan perasaannya. Itu terlihat sangat lucu di mata Ica. Seketika, pening yang Ica rasakan pun sirna. Obat sakit kepalanya bukanlah tablet obat yang ditawarkan ke Ica, melainkan keberadaan dimana ia dianggap sebagai Ica, sebagai istri Bayu, yang di mana dengan kecupan yang tak biasa itu telah membuat sakit kepalanya benar-benar hilang, lebih manjur daripada obat aslinya.
...----------------...
__ADS_1