Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Sudah Menjadi Seorang Istri


__ADS_3

Kembali dari shalat subuh di masjid, Bayu segera membaringkan tubuh kembali. Namun, kali ini ia lebih memilih tidur di sofa kamar Ica. Sebab, setelah Bayu keluar dari kasur itu, Ica menguasai ranjangnya. Tidak ada celah sedikitpun untuk Bayu membaringkan diri lagi di sana. Bayu sekarang tahu alasan Ica kenapa sering telat ke kantor atau setidaknya mepet dengan jam masuk kantor. Ternyata, Ica terlalu nyaman dengan kasurnya yang memberikan kenyamanan penuh itu.


Bayu pun tertidur pulas. Mengingat bahwa esok adalah Hari Minggu, ia sepertinya akan tidur lebih lama, seperti kebiasaannya di rumah. Namun, ia lupa kalau ia sedang tidak ada rumahnya. Apalagi, Bayu di rumah istrinya, mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Bayu pasti lupa soal godaan tentang topik pengantin baru yang dilontarkan saat sebelum berangkat subuh tadi. Kalau ia juga telat bangun bersama Ica setelah subuh ini, mereka sudah pasti akan memikirkan hal yang lebih liar lagi.


tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Suara itu makin kencang, tapi tak ada yang membukanya. Manda, si pelaku yang mengetuk pintu kamar Ica. Ia ingin memberitahu mereka untuk ikut turun dan sarapan bersama. Manda sedikit jengkel, karena Ica juga tak membukakan pintu.


Kalau tidak ada Bayu, Manda pasti sudah masuk dengan santai ke kamar Ica untuk membangunkannya paksa. Ia tidak boleh seenaknya masuk, takut melihat pandangan yang tak boleh ia lihat.


"Ica, Ica! Ayo bangun. Sarapan. Ajak Bayu, Ca!" Kini Manda buka suara seraya mengetuk pintu kamar lebih kencang lagi.


Sekali lagi Manda mengucapkan kalimat yang sama. Karena Ica tidak terbangun subuh tadi, ia masih bisa bangun, benar-benar bangun. Ia takut kalau bundanya semakin marah karena Ica tak kunjung keluar.


Akhirnya pintu terbuka, terlihat Manda menunggu di sana dengan wajahnya yang kesal.


"Bunda..., maaf, Ica ketiduran," jelas Ica.


"Bunda tahu kalau kamu lelah. Tapi jangan lupain tugas kamu sebagai seorang istri, Ca. Untung aja kamu dapat mertua yang baik. Udah sana turun ajak Bayu sekalian. Tinggal turun aja, soalnya makanan udah siap," omel sang Bunda. Ia pun segera menurutinya.

__ADS_1


Bundanya itu suka meributkan tentang tugas seorang istri. Itu berarti, Ica harus berlagak menjadi istri yang baik untuk Bayu.


Ica merasa bersalah karena tahu Bayu tidak di sofa setelah subuh di masjid. Ia jadi ragu-ragu membangunkan Bayu.


"Mas, panggil Mas, kamu udah jadi istrinya Pak Bayu, Ca." Ica mengingatkan dirinya sendiri tentang bagian dari tugas istri.


"Mas Bayu, Mas. Mas, ayo bangun. Bunda tadi nyuruh sarapan."


Bayu langsung bangun, karena cara membangunkan Ica sangat sensitif untuk Bayu. Kenapa ia harus membusuk langsung ke telinga Bayu yang sangat sensitif? Apa tidak bisa dengan mengguncangkan tubuhnya saja?


Bayu tidak berbicara sepatah katapun. Ia beralih ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dulu sebelum turun ke meja makan. Itu juga menguntungkan Ica. Sebab, Ica pernah tak berhenti memikirkan suara khas bangun tidurnya Bayu. Untung kali ini Bayu tak menunjukkannya lagi.


"Ini dia yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Karena semuanya udah lengkap, mari makan," ujar Manda.


...----------------...


Ica akhirnya sadar kalau pernikahan akan membuatnya berpisah dengan orangtuanya. Padahal, Ica sudah menyusuni baju pindahan jauh-jauh hari, ia masih tak menyadarinya sampai Raka memutuskan untuk mengantarkan Ica di rumah barunya bersama Bayu. Tentu saja pengantaran itu dilakukan oleh keluarga Bayu juga.


Sudah cukup basa-basi saat di dalam rumah, waktunya mereka pamit meninggalkan Ica dan Bayu.

__ADS_1


"Bunda titip Ica, ya, Bayu. Maafkan Bunda kalau ada sifat Ica yang nggak kamu sukai. Itu pasti karena cara mendidik Bunda yang selalu mementingkan kebahagiaan Ica, sehingga terlalu memanjakannya. Bunda mau, kamu membimbing Ica untuk lebih baik ke depannya." Manda memberikan sambutan perpisahannya. Nada suaranya terdengar bergetar saat mengucapkannya.


"Baik, Bunda. Itu nggak masalah buat Bayu, kok. Lagian, sesuai tujuan perjodohan di awal, selain menyatukan dua perusahaan dengan pernikahan ini, sifat Bayu dan Raisa berharap bisa berubah dengan kelebihan dan kelurahan kami masing-masing. Bayu juga nggak sempurna, mungkin Raisa akan sering mengadu tentang hal itu. Jadi, kalau tiba saatnya, Bayu minta maaf karena tidak bisa menjadi tempat penitipan yang benar." Bayu membalas dengan senyuman yang membuat rasa aman agar Manda tak perlu terlalu khawatir.


"Ica, jangan sekalipun kalau ada masalah sama Bayu kamu ngadu ke Bunda, ya. Aib rumah tangga itu harus ditutupi. Kalian yang harus menyelesaikan semuanya sendiri, jangan ada campur tangan orang lain. Kamu paham, kan?" Nasihat sang ibu untuk anaknya. Ia memang pipi sang anak baik-baik seraya menatapnya dalam-dalam. Ica mengangguk menanggapi.


"Bunda, kalau Ica sesekali main ke rumah boleh, kan? Bunda juga harusnya main ke sini juga sering-sering," ucap Ica dengan penuh manja.


"Nah, ini juga harus kamu pelajari dari Bayu tentang bagaimana memanajemen waktu. Bunda pasti akan ke sini, tapi tidak terlalu sering. Lalu, sekarang kamu punya dua orangtua, kewajiban kamu untuk mengunjungi keduanya dengan adil, jangan terlalu banyak ke rumah Bunda, dan jangan terlalu jarang, begitu juga untuk ke rumah mertua kamu. Bunda mau ingetin, pintu rumah selalu terbuka lebar untuk menyambut kamu, kok, Ca. Kamu tenang aja. Ini bukan perpisahan selama-lamanya." Manda sudah mulai tak tenang. Nada suara yang bergetar karena berusaha menahan tangis tak dapat ia tahan lagi. Air matanya tumpah karena harus berpisah dengan anak semata wayangnya selalu ia manjakan itu.


"Bunda gimana, sih, masa nyuruh tenang, tapi Bunda sendiri nggak tenang. Buktinya ngeluarin air mata itu," ucap Ica yang juga ikut menangis karena tak dapat menahan air matanya. Dengan sigap ia memeluk Manda, menyalurkan kasih sayang.


"Kayaknya kamu bener, Ca. Bunda nggak tenang. Rasanya, rumah pasti bakalan sepi kalau nggak ada kamu. Bunda pasti merindukan kamu yang selalu manja meskipun udah sebesar ini. Bunda pasti akan kesepian karena nggak punya objek untuk menerima omelan Bunda, curhatan Bunda. Nggak ada lagi yang minta Bunda untuk dibangunkan kalau tidak lagi setelah subuh. Bunda akan sangat merindukan saat kamu ada di rumah, Ca. Sebenarnya Bunda nggak rela kamu ninggalin rumah. Tapi, kamu harus ikut suami. Setelah menikah, peran Bunda mungkin akan berkurang. Kamu harus lebih patuh sama Bayu, ya. Kalau Bayu melakukan hal yang macam-macam, di situ baru kamu jangan patuh. Menyuruh melakukan hal buruk misalnya," ucap Manda yang air matanya terus mengalir saat mengucapkannya, ditambah dengan pelukan perpisahan dari anaknya.


"Iya, Bunda. Ica paham. Makasih banyak karena udah melahirkannya Ica. Makasih banyak karena udah mau jadi Bundanya Ica. Ica sangat beruntung punya Bunda sebagai ibunya Ica." Ica mengeluarkan magic word-nya. Kata-kata magis yang tulus yang dapat menyihir keadaan.


"Duh..., Ica..., jangan ngomong kayak gitu, dong. Bunda jadi makin susah nih ngelepas kamu." Pelukan pun semakin erat. Semua orang di sana membiarkan ibu dan anak itu berpelukan dulu sampai mereka puas.


Bayu melihat ibu dan anak itu dengan senyum bahagia. Pemandangan yang sangat menghangatkan hati, pikir Bayu. Sekarang, tugasnya menggantikan Bunda Ica. Ia tidak boleh membuat Ica menyesal karena sudah menjadi istri Bayu. Ia ingin dinilai seperti Manda. "Terimakasih sudah menikahi Ica, terimakasih sudah mau jadi suami Ica, Ica beruntung karena Mas Bayu yang menjadi suaminya Ica," semoga suatu hari ia dapat mendengar langsung dari mulut Ica.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2