Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Perasaan Bayu


__ADS_3

"Hentikan ini! Kamu memanfaatkan kelemahan saya. Kamu tahu kalau saya nggak bisa secara terbuka menyatakan perasaan saya," berontak Bayu.


"Masa? Bukannya kamu selalu terbuka dengan perasaan kamu ke Caca? Saat meminta maaf ke saya, kamu susah banget, giliran minta maaf ke Caca gampang banget kayak nggak ada beban!" sindir Ica tanpa merasa bersalah.


Ica menarik nafasnya karena suaranya sudah dititik yang tertinggi nadanya. Dengan begitu, ia bisa bicara lagi dengan Bayu dengan nada bicara yang normal.


"Saya mau kejujuran, Mas. Kenapa jawab gitu aja susah banget? Saya udah ngungkapin semua perasaan saya barusan, sekarang kamu malah nggak mau gantian. Sejak kapan kamu jadi nggak adil gini? Oiya, saya lupa, sejak awal kamu memang udah nggak adil. Sejak perjodohan ini di tentukan pun, kamu hanya mementingkan keuntungan kamu, kan? Dari sejak itu, nggak ada keadilan buat saya, nggak ada keadilan di hati kamu."


"Kalau gitu, ngapain kamu menerima perjodohan ini? Raisa, kamu ingin saya mengatakan itu, kan? Sayangnya saya nggak akan mengatakan itu dengan serius. Menikahi kamu bukanlah sesuatu yang saya sesalkan. Waktu kamu tiba-tiba merubah keyakinan untuk menerima perjodohan itu, saya heran sekaligus senang. Nggak ada sedikitpun rasa ingin mengakhiri pernikahan ini. Saya benar-benar bersyukur pernikahan ini terjadi."


Ica runtuh sudah pertahanannya. Air matanya yang sudah sejak tadi ia tahan, kini turun membasahi pipi.


"Kalau kamu bisa berkata seperti itu, kenapa nggak bisa katakan kamu cinta sama saya, Mas? Kamu curang!" ucap Ica sesenggukan. Sementara ia tak bisa berdebat dengan Bayu karena ia tersentuh dengan ucapan Bayu yang ternyata tak menyesali pernikahan ini terjadi.


"Apa yang salah dari kejujuran saya? Saya tidak curang. Memang begitu adanya."


Ica berusaha menghapus air matanya dan menenangkan diri. Ia membenci dirinya yang cengeng ini.


"Kalau kamu nggak bisa jawab pakai sebuah kalimat, saya mau kamu jawab pertanyaan Ica dengan jujur. Cuma bilang 'yes' atau 'no' aja sebagai jawaban. Saya harus tahu dan memastikan yang sebenarnya," tantang Ica.


"Oke, kalau itu bisa sedikit menenangkan kamu. Saya akan berkata sejujurnya," terima Bayu.


Sebelum memulai, Ica menarik nafas dalam terlebih dahulu. "Mas Bayu menyesal menikah sama saya?"

__ADS_1


"No." Oke, Ica sudah memastikannya.


"Kamu sering melakukan perhatian kecil ke saya. Ada sikap kamu yang juga lembut ke saya. Apa itu semua cuma rasa kasihan dan kamu melakukannya untuk bisa bersikap seolah-olah sebagai suami?"


"No."


"Jadi, perhatian kamu dan sikap kamu yang lembut ke saya itu tulus, Mas?"


"Yes."


"Oke, kalau gitu, apa ketulusan itu berarti kamu punya rasa ke saya?"


"Yes."


"Apa ada rasa cinta di hati kamu untuk saya, Mas?" tanya Ica ragu. Ia tak siap mendengar jawabannya. Bayu juga terlihat mengulur waktu menjawabnya, tak seperti pertanyaan sebelumnya yang dengan cepat ia jawab.


"No," jawab Bayu menundukkan pandangannya. Setelah mengatakan bahwa Bayu sama sekali tak menyesal karena pernikahan ini terjadi, ia malah mengaku tak ada cinta untuk Ica. Sebenarnya Ica sudah tahu dari awal, harusnya tak perlu memastikannya lagi. Tapi hati kecilnya masih berharap ada perasaan itu untuk Ica. Kini ia benar-benar runtuh karena Bayu mengakuinya.


Hiks... Hiiks..., air mata bercucuran kembali setelah sempat mereda. Sebelumnya Bayu memastikan ada perasaan untuk Ica, giliran ditanya perasaan itu cinta atau tidak, ia malah menjawab tidak. Ica seperti sedang dipermainkan. Ica kecewa, tapi ia ingin melanjutkan kembali permainan ini, tujuan awalnya belum terpenuhi, ia akan terus bertanya kepada Bayu meskipun sambil sesenggukan.


"Apa kamu sekarang mencintai orang lain?" tanya Ica dengan berani meskipun sesenggukan.


"Yes." Kejujuran demi kejujuran telah diungkapkan. Bayu tampak lesu menjawab pertanyaan Ica kali ini. Karena ia juga mengutuk dirinya sendiri, sudah menikah tapi malah mencintai wanita lain yang bukan istrinya.

__ADS_1


"Kalau gitu, apa wanita itu Caca, Mas? Sosok cinta pertama kamu, rekan bisnis kamu, dan alasan terbesar kamu untuk memanfaatkan perjodohan kita sebagai pelarian?" Ica tampak murka kali ini.


"Yes." Air mata Ica semakin deras. Ia tak dapat mengontrol perasaannya. Ia sudah tahu sebelumnya. Namun, saat Bayu sendiri yang mengaku, rasanya begitu mengiris hati. Ia menghentikan permainan kejujuran ini, karena sudah mendapatkan tujuan yang ia inginkan. Dengan susah payah Ica meraih minum yang sudah ada di nakasnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena banyak bicara dan terasa bengkak karena tangis yang terus merajalela. Tak lupa pula ia beristighfar dan memohon agar lidahnya dipergunakan untuk mengucapkan perkataan yang baik dan perlu saja.


Sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit. Ica rupanya masih tak bisa tenang. Air matanya masih saja terus mengalir, sedangkan dirinya sudah tak kuat lagi menangis. Sesenggukan yang menyertai juga menyiksanya.


Sampai di dua jam mereka duduk di posisi yang sama. Di jam yang harusnya mereka sudah tidur, Ica ingin mengakhirinya sebelum hari berakhir tanpa penyelesaian. Ia juga mulai tenang meski setiap mengingat hal pahit itu matanya langsung menggenangkan air mata.


"Sekarang saya ingin memastikan. Kamu tadi bilang kalau kamu juga merasa senang saat saya tiba-tiba mengganti keyakinan untuk menerima perjodohan itu. Tapi, apa maksudnya itu? Apa dengan begitu niat awal kamu untuk melakukan pelarian dari sakit hati dengan Caca itu berhasil? Kamu juga pernah bilang kalau menerima perjodohan itu adalah pilihan terbaik dan menguntungkan. Apa ini, Mas? Kalau begitu, memang udah nggak ada lagi yang harus dipertahankan. Lupakan permainan yes no ini. Hati saya telah hancur berkeping-keping mengetahui perasaan kamu yang sebenarnya."


"Saya nggak ngerti kamu tahu darimana soal pelarian."


"Saya menguping pembicaraan kamu dan Dirga, di parkiran kantor waktu itu. Dan sebelumnya juga, saat Dirga berkunjung ke rumah tanpa sopan santun. Setelah mengaitkan semuanya, jadi masuk akal, ya, Mas. Saya ragu kalau kamu nggak menyesal dengan pernikahan ini yang terjadi, sebenarnya kamu menyesalinya, kan? Kamu jadi nggak bisa lepas dari ikatan ini karena terburu-buru menyetujui perjodohan ini sebagai pelarian, padahal sebenarnya kamu juga ingin meminang Caca sekali lagi dan menjadikannya istri."


"Ucapan kamu nggak sepenuhnya benar!"


"Tapi nggak ada yang salah, kan? Setengah kebenaran ini udah cukup membuktikan betapa tak bermoralnya kamu. Jangan jadikan pernikahan ini sebagai permainan, Mas. Kamu pikir membawa-bawa agama waktu itu nggak dosa? Kamu ingat, kan, cara kamu meyakinkan saya agar menerima perjodohan ini, kamu mengaitkan agama! Kamu memanfaatkan agama agar saya tersentuh dan berpikir kembali agar menerima perjodohan itu. Tapi waktu itu saya terlalu naif, meski tahu kalau itu merupakan kecakapan kamu dalam berbicara dan bernegosiasi, saya malah dibutakan dengan kekaguman dan pelan-pelan merubah pikiran."


"Perceraian itu dibenci Allah. Kamu juga bilang sendiri, kamu mulai menumbuhkan rasa cinta karena terbiasa bersama saya. Mungkin saya bisa begitu juga. Daripada mengakhiri, lebih baik diperbaiki. Semuanya belum terlambat. Saya juga udah menemui Caca dan mengakhiri kontak kami semalam. Pertemuan itu, pertemuan yang bertujuan untuk mengakhiri keterkaitan saya dengan Caca. Saya juga udah menyerahkan masalah bisnis itu ke Caca agar tak ada lagi alasan untuk kami saling bertemu atau bahkan berhubungan. Saya sendiri mulai sadar, apa yang saya lakukan selama ini yang berhubungan dengan Caca adalah dosa, dan udah lama saya ingin mengakhiri. Dan tepat semalam, semuanya benar-benar selesai. Saya berkata sejujurnya, dan kalau kamu mau, kamu bisa menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Jadi, jangan putuskan secara terburu-buru. Saya juga menginginkan pernikahan yang hanya satu kali seumur hidup. Saya bisa memperbaikinya," ucap Bayu yang kini mantap menatap Ica. Lalu Ica, ia tak ingin tertipu lagi dengan cara Bayu bernegosiasi.


"Di perbaiki pun tak akan pernah sama lagi, Mas. Bagai kaca yang pecah, saat semua serpihannya disatukan kembali, kaca itu tak utuh sempurna karena bekas retakan dan goresan itu tak akan pernah hilang, membekas. Seperti itulah jika hubungan ini diperbaiki."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2