Menikah Dengan Bos Galak

Menikah Dengan Bos Galak
Salah Paham


__ADS_3

Malam hari setelah isya. Raka akhirnya menelepon Bayu. Karena ponsel Bayu masih ada di ranjang, Icalah yang mengangkatnya dengan izin dari Bayu sebelumnya. Ia membiarkan si penyelenggaraan yang bicara duluan di seberang sana. Ica pun me-loudspeaker agar Bayu yang duduk di meja kerja


"Assalamu'alaykum. Bayu, apa kamu sama Ica beneran bulan madu?" ucap Raka di seberang telepon.


Sontak, Bayu pun terkejut mendengarnya. Ia langsung berlari menuju Ica.


"Halo? Bayu?" Raka mengira-ngira. Sebab, setelah Bayu berlari menuju Ica, ia tak mengeluarkan suara apapun.


Bayu menatap Ica dengan tampang canggung. Bayu penasaran, apa yang dipikirkan Ica setelah mendengar ucapan Raka soal hal seperti itu.


"Halo, Yah. Ini Ica," jawab Ica. Ia yang malah menjawabnya setelah melihat ekspresi Bayu yang kaku dan bisu mendengar pertanyaan Raka.


"Ooh... Ica, toh. Kenapa suaranya kedengeran lemes?" tanya Raka lagi.


"Biasalah, Yah. Udah dulu, ya, Yah. Nanti Ica kabarin lagi." Ica menutup ponselnya, secara sepihak. Di seberang sana, Ica membuat Raka bingung sejadi-jadinya. Dari ucapan Ica, dapat disimpulkan kalau Ica membenarkan perihal bulan madu itu.


Bayu menatap Ica bingung. Ica melakukan upaya penyelamatan atau apa? Lalu, kenapa Bayu begitu terganggu perihal bulan madu? Padahal dirinya sendiri tak pernah memikirkan soal itu sebelumnya. Mengurus Ica seorang diri membuat Bayu sadar posisinya sebagai seorang suami. Perihal bulan madu, harusnya itu menjadi hal yang normal dibicarakan untuk pasangan yang sudah menikah seperti Ica dan Bayu.


"Kamu..., bukankah itu membuat Ayah salah paham? Kenapa nggak bilang yang sebenarnya terjadi aja? Kenapa nggak bilang suara kamu lemah begitu karena sakit?" Bayu mengajak bicara Ica. Tapi karena lemas, Ica lebih pasif. Tenaganya telah ia keluarkan saat bicara dengan Raka agar terdengar keadaannya sedang prima meskipun realitanya ia sedang sakit.

__ADS_1


"Saya akan mengaku pada Ayah," ucap Bayu lagi meskipun tak mendapat respons dari Ica.


"Jangan, Mas. Bunda nanti khawatir sama Ica," cegah Ica lemas.


"Kenapa? Apa kamu bisa sembuh? Saya nggak tahu apa yang saya lakukan ini bisa membantu kamu sembuh atau nggak. Kalau beritahu mereka, mungkin mereka bisa bantu untuk menyembuhkan kamu. Kalau kamu nggak mau, apa perlu saya panggilkan dokter? Kita ke rumah sakit sekarang, mau?" Bayu mendesak Ica. Sudah jelas Ica tak bisa menanggapi desakan itu satu per satu. Yang ia dapat tanggapi cuma jawaban menggeleng sebagai kesimpulan jawaban dari desakan Bayu.


Mendapat respons isyarat seperti itu, Bayu menyadari kalau ia sudah memaksa Ica. Sebagai permintaan maaf, Bayu menaikkan selimut Ica yang merosot. Kemudian, ia memegang helaian rambut Ica ragu-ragu sampai ia rileks dengan itu. Rambut yang selalu tertutupi itu dirawat baik oleh pemiliknya. Kemudian Bayu mencium pucuk kepada Ica. Sudah sejak tragedi ciuman pertama itu, Bayu tak mengecup Ica. Hanya karena tragedi itu, Bayu tak pernah datang saat Ica menyambutnya shalat. Bayu juga selalu sholat tahajud duluan, tanpa membangunkan Ica. Ia menyadari betapa berdosanya dirinya telah mendzalimi istri sendiri. Kemudian ia beristighfar. Tidak bisa berkata maaf, Bayu menggantinya dengan membelai kepala Ica lembut, untuk pertama kalinya. Hal yang hanya dilakukan orang tua Ica, terutama Manda, juga dilakukan Bayu kali ini.


"Mas...?" tanya Ica kebingungan. Hal tak biasa yang beruntun Bayu tunjukkan sangat membuat Ica heran.


"Hmm?" jawab Bayu seraya terus membelai kepala Ica. Tatapan mata Bayu yang hanya fokus pada kepala Ica, kini jatuh untuk fokus memandang wajah Ica. Jika dipikir-pikir, ini kali pertama Bayu benar-benar memandang Ica tepat diwajahnya, terutama matanya. Saat sakit pun, Bayu menyadari betapa indahnya istri pucatnya itu meski dalam keadaan sakit sekalipun. Paras yang selama ini tak pernah benar-benar Bayu perhatikan, kini Bayu benar-benar terpesona dibuatnya setelah dilihat lekat-lekat.


Sampai di ruang keluarga setelah keluar meninggalkan Ica di kamar sebentar. Bayu menyadari apa yang ia lakukan tadi seperti bukan dirinya. Dorongan untuk menjaga, melindungi, dan menyayangi Ica tiba-tiba membuatnya ingin melakukan hal diluar dirinya yang biasa. Dibandingkan mengucap kata maaf, sikap seperti yang ditunjukkan tadi sebagai gantinya lebih mudah bagi Bayu.


Kemudian, ia terpikir untuk menelepon Manda langsung. Mungkin ada yang bisa Bayu lakukan sebagai suami untuk membuat istrinya lekas pulih, berdasarkan pengalaman mertuanya


Setelah mengucap salam, Bayu memberanikan diri untuk menjelaskan kronologi keadaan Ica.


"Raisa badannya panas. Bunda, kalau di saat seperti ini, apa yang Bunda lakukan untuk membuat kondisi Raisa jadi lebih baik?" jelas Bayu. Cukup jelas baginya, tapi penjelasan itu tak cukup untuk menjelaskan kronologinya. Lagi, kesalahpahaman pun terjadi, kini dengan Manda yang baru saja mendapat kabar dari Raka kalau Ica dan Bayu sedang bulan madu. Bukannya khawatir tentang demamnya Ica, Manda jadinya membayangkan aksi apa yang mereka lakukan sampai Ica badannya mulai panas begitu. Mungkin Bayu ganas terhadap Ica, pikir Manda.

__ADS_1


Membayangkan seperti itu sambil senyum-senyum, Manda mengambil jeda sebelum menjawab Bayu agar tak terkesan mengejek saat suaranya ia keluarkan.


"Panas, ya? Mungkin demam itu. Um..., Ica memang suka drop gitu kalau kecapean atau banyak pikiran. Kamu kasih Ica istirahatlah, Bayu. Kamu pasti nggak sabaran karena makan malam waktu itu kita udah nanyain soal isi. Tapi, nggak usah buru-buru, Ica nya jadi. ikutan semangat sampai kecapean, deh. Hahaha," goda Manda di awal.


"Kalau udah panas gitu, biasanya Bunda kasih Ica suplemen sama obat. Ica itu suka nggak bisa nelan obat, kecuali kalau udah makan makanan favoritnya baru semangat untuk sembuh dan minum obat. Terus, Bunda selalu usap-usap kepala Ica sampai Ica tidur. Waktu Ica mau Bunda tinggalin untuk tidur, Bunda kecup Ica lama sambil memohon sama Allah untuk segera buat Ica pulih dan pamer senyumnya yang ceria. Udah, deh, besoknya langsung sembuh. Ica juga nggak pernah Bunda panggilin dokter atau ke rumah sakit, karena anak itu imunnya kuat banget. Kalau cuma demam, itu aja udah cukup, sih. Mungkin kalau parah banget bisa sampai pusing. Kamu tinggal kasih obat pereda pusing aja selama pusingnya nyerang Ica."


"Ica cuma panas, kan? Anak itu cepat sembuhnya, kok. Kalau pening kepalanya, itu jarang-jarang kejadian. Nggak mungkinlah bulan madu sampai buat Ica sakit demam beneran. Paling cuma kecapean doang dan respons badannya jadi panas. Itu aja, sih, Bayu."


"Udah, ah, Bunda tutup dulu. Kamu urus Ica dulu biar cepet pulih dan lanjut beraksi. Hahaha. Tutup, ya, kirim salam sama Ica. Assalamu'alaykum."


tut tut


Telepon benar-benar dimatikan secara sepihak.


"eeEEEE?" Bayu sadar kalau Manda benar-benar salah paham.


Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan tentang salah paham itu. Kesembuhan Ica adalah prioritasnya sekarang. Ia bersyukur memberanikan diri untuk bertanya tentang bagaimana Manda biasanya merawat Ica saat sakit. Waktunya beraksi, tapi bukan beraksi yang seperti Manda maksudkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2