
Satu hari setelah Bayu masuk kantor, Ica pun memutuskan untuk ikut. Ia merasa sudah sembuh. Jika peningnya kambuh, ia sudah sedia obatnya. Sebelum ke kantor pun, ia pastikan ia tidak akan merepotkan semua orang, jadi sudah dipastikan ia memaksa diri untuk tidak bolong minum obat meskipun ia merasa sudah lebih baik.
Setelah berdebat lama agar diperbolehkan Bayu ngantor, Ica akhirnya ikut pergi ke kantor bersama Bayu.
Pandangan orang-orang di divisi humas terhadap mereka bermacam-macam, kebanyakan tercengang karena Bayu dan Ica memasuki area divisi dengan saling bergandengan tangan. Ica sendiri pun tercengang, ini pertama kalinya ia digandeng Bayu, di kantor pula. Sejak memasuki area divisi humas, tangan Bayu tiba-tiba mengambil tangan Ica untuk digenggaman, kemudian Bayu memimpin jalan dengan menarik tangan Ica, Ica hanya bisa mengikuti Bayu saja yang memegang kendali lebih.
Bayu memberikan tatapan maut. Ia memberi aura "jangan menatap, jangan mendekat, dan jangan bertanya, atau akan saya buat kalian mendapatkan akibatnya" kepada bawahannya yang menatap tajam ke arah Bayu dan Ica. Langsung saja mereka yang tercengang itu kembali fokus kepada pekerjaan mereka dengan tekanan tidak langsung yang diberikan Bayu barusan.
Sampai di depan meja Ica, Bayu melepaskan genggamannya dan meninggalkan Ica untuk menuju ke ruangannya tanpa berkata sepatah katapun. Ica dihujani banyak pertanyaan tentang sikap Bayu yang aneh ini. Sepanjang bekerja pun, Bayu bersikap biasa saja seolah menggenggam tangan Ica itu hal yang biasa ia lakukan. Bagi Ica, harusnya acara menggenggam tangan itu menjadi hal yang romantis. Melihat Ica saja yang terlalu bahagia hanya karena genggaman tangan saja sedangkan Bayu biasa saja, seketika Ica kesal jadinya. Meskipun ia sadar, tidak seharusnya terlalu bahagia dengan hal kecil yang sudah pasti akan dianggap biasa saja oleh Bayu.
"Um..., Apa maksud genggaman tangan tadi, Pak?" gumam Ica di saat ia sudah dihadapkan dengan dokumen. Ternyata, soal genggaman tadi sangat mengganggu pikiran Ica.
"Raisa, mana dokumen yang saya minta? Kenapa lama sekali? Kamu nggak fokus kerja, ya? Udah saya bilang kalau kamu harusnya nggak usah masuk kantor kalau masih merasa sakit. Tahu begini, kamu bisa menghambat," ujar Bayu tiba-tiba saat Ica melamunkan 'hal kecil' itu.
"I-Ini baru selesai, Pak. Maaf membuat Anda kecewa," gagok Ica menjawab. Setelah Bayu mengambilnya, tak sepatah katapun terdengar, Bayu menyelonong pergi meninggalkan Ica.
__ADS_1
"Ya Rabb..., kok kayak mau nangis, ya? Padahal aku udah nggak dipanggil Raisa lagi kalau di rumah. Terus, itu gilak si bos galak kenapa dingin banget hari ini? Dia ngomongnya enak aja, nggak tahu apa kalau aku sakit hati? Kok aku ngerasa ucapan dia kasar banget, ya, ke aku? Padahal, waktu ngurus aku sakit dia juga galak, tapi nggak kasar. Aaaargh..., kayaknya aku terlalu lama kembali ke mode manja pas sakit, makanya aku nggak biasa dengan hal yang sebelumnya udah biasa di aku sebelum sakit. Si bos juga sering lebih parah dari ini, kok, Ca. Kamu jangan ambil hati. Kamu pasti bisa melewati ini semua." Ica berusaha berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Ia suka begini kalau untuk menyemangati dirinya.
...----------------...
"Uhuk uhuk." Suara batuk terdengar.
"Ya ampun, kok jadi batuk ya? Harus jaga jarak nih sama semua orang biar nggak ketularan. Pakai masker juga deh biar aman," gumam Ica. Ia tak menyangka, setelah merasa sembuh dari sakitnya, ia malah terserang batuk. Padahal, sejak pagi di kantor tadi ia tak merasakan tanda-tanda akan batuk. Setelah sore hari dan jam pulang kantor inilah ia mulai batuk.
Ica pulang lebih dulu, menebeng dengan ayahnya yang ternyata disupiri oleh supir. Agak canggung karena satu mobil dengan ayahnya setelah sekian lama, ditambah dengan kesalahpahaman soal bulan madu itu.
"Kenapa pakai masker, Ca?" tanya Raka.
"Ini..., Ica kayaknya batuk, Yah. Jadi nggak pengen nularin," jawab Ica seadanya dengan batuk yang menyertainya.
Ica duduk di samping supir agar Raka tak banyak bertanya soal dirinya. Lagian, rumah Ica juga lebih dekat dengan kantor daripada rumah Raka. Duduk di samping supir adalah pilihan paling tepat dan paling normal jika dipikirkan.
__ADS_1
Di dalam perjalanannya, untungnya tidak ada pertanyaan lain yang menghujani Ica. Karena Raka sendiri terlihat sibuk dengan tablet di tangannya, sudah pasti urusan pekerjaan.
Hingga akhirnya, sampailah di rumah Ica. Sebelum turun, ia menyalim tangan sang ayah dan berpamitan. Kemudian, ayahnya itu masih saja terbiasa mengecup wajah Ica setelah di salim. Ica jadi malu karena sudah lama tak mendapat kecupan dari ayahnya. Suasana jadi agak lucu karena sehabis di kecup pipinya, Ica malah batuk-batuk agak panjang. Kemudian, dengan cepat Raka menyuguhkan air mineral miliknya untuk Ica minum.
Baru ingin keluar mobil, Ayahnya menyuruhnya untuk meredakan batuknya dulu baru turun.
"Oh iya, Ca. Bunda katanya kangen sama kamu. Satu minggu ini kamu nggak ada main ke rumah. Bunda sama Ayah juga nggak bisa sembarangan main ke rumah kamu kalau kalian yang punya rumah lagi nggak ada di rumah karena lagi pergi bulan madu. Jadi, kamu jangan lupa kabarin Bunda, ya, Ca," ujar Raka di sela-sela Ica menenangkan batuknya. Bukannya tenang, Ica malah semakin terbatuk-batuk karena terkejut dengan topik bulan madu yang diucapkan Raka.
"Ica lagi batuk, Yah. Nanti nularin Bunda kalau main ke sana," jawab Ica. Lagi-lagi saat Ica bicara, batuknya juga menyertai.
"Ayah cuma suruh kamu hubungi Bunda, Ica Sayang.... Kalau mau main ke rumah, ya, tunggu kamu sembuh dulu. Dateng berdua sama Bayu, sekalian ceritain liburan bulan madu kalian ke Bunda. Pasti Bunda seneng banget itu."
"I-Iya, deh, Yah. Kalau gitu, Ayah berangkat, gih. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum, Yah." Buru-buru Ica keluar dari mobil sebelum topik ini makin melebar. Kalau menenangkan batuk, bisa ia lakukan di rumah. Daripada ia semakin batuk saat ia harus mendengar soal bulan madu selagi ia minum untuk meredakan batuknya.
Raka melihat heran ke arah putrinya yang baru saja keluar dari mobil. Buru-buru keluar begitu, ia pikir Ica masih malu saat persoalan bulan madu di bahas. Apalagi, ada supirnya juga yang mendengar. Raka merasa itu wajar, karena Ica tergolong masih pengantin baru. Namun, Raka tak tahu bahwa itu sama sekali tak wajar, Raka hanya semakin salah paham. Dan kesalahpahaman ini kian membesar karena Ica maupun Bayu belum juga membuka mulut untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
...----------------...